Pilih Bahasa: Indonesia

Sarwo Edhie Wibowo Kecewa Kepada Soeharto

Dia merasa diledek. Sebagai penumpas PKI, dia malah akan ditempatkan sebagai duta besar di negara komunis.
 
Sarwo Edhie Wibowo dan istrinya di mobil RPKAD.
Foto
Historia
pengunjung
53.8k

Pada 1967, baru sekitar enam bulan menjabat Pangdam II/Bukit Barisan di Medan, Sumatra Utara, Brigjen TNI Sarwo Edhie Wibowo mendapatkan penugasan baru yang cukup memukulnya. Dia menerima kabar akan dijadikan duta besar di Moskow, Rusia. Berita ini membuat seisi rumah gempar.

Kristiani Herawati, yang kemudian menikah dengan Susilo Bambang Yudhoyono, masih ingat dengan jelas, pada suatu sore ayahnya mengumpulkan keluarga di ruang tengah. “Papi akan ditempatkan di Rusia. Moskow. Negara dengan faham komunis,” kata Sarwo Edhie, lirih. Dia merasa sangat nelangsa dengan tugas baru ini.

“Bagaimanapun, dia selama ini dikenal sebagai penumpas komunis. Lalu kemudian dia diceburkan ke negara berfaham komunis. Bagi Papi ini seperti meledek dirinya,” kata Ani Yudhoyono dalam biografinya, Kepak Sayap Putri Prajurit karya Alberthiene Endah.

Terlebih, Sarwo Edhie merasa tak ada yang salah dengan tugasnya di Medan. Enam bulan adalah waktu yang pendek bagi seorang Pangdam untuk membuktikan prestasi kerjanya. Kalaupun ada, tentu masih sebatas pembenahan awal semata. “Papi merasa niat baik dan semangatnya diputus sepihak,” kata Ani.

Sehabis mengungkapkan kesedihannya, Sarwo Edhie mengatakan bahwa keluarga harus ikhlas ikut ke Rusia. “Anak-anak prajurit harus siap menghadapi situasi baru, apa pun juga,” kata Sarwo Edhie yang kemudian menyarankan agar mulai belajar menari.

“Sebagai anak-anak calon duta besar, Papi ingin kami memiliki kebolehan menari yang cukup banyak. Bukan hanya tari Jawa, tapi juga tari Melayu,” kata Ani. Namun, Ani dan saudara-saudaranya tidak bersemangat latihan menari karena terbawa suasana kesedihan ayahnya.

Ani kemudian memergoki ayahnya menjadi banyak melamun di depan rumah. Pandangannya kosong dan menerawang. Rumah berubah menjadi senyap. Suatu kali, Ani mendengar ayahnya berkata kepada ibunya, “kalau aku memang mau dibunuh, bunuh saja. Tapi jangan bunuh aku dengan cara seperti ini. Apa salahku sampai aku harus dihentikan begini rupa?”

“Papi amat terpukul dengan keputusan pemerintah menempatkan dirinya di Rusia, selagi karier militernya sedang begitu cemerlang,” kata Ani.

Sarwo Edhie kemudian menghubungi teman-temannya di Jakarta. Dia mempertanyakan apakah tugasnya ke Rusia murni sebagai “takdir tugas” atau karena ada hal lain.

“Aku melihat-lihat lagi koran-koran yang pernah memuat berita tentang Papi, Sarwo Edhie Wibowo yang berprestasi menumpas PKI, dengan foto Papi mengenakan seragam RPKAD kebanggaannya. Aku bisa merasakan betapa hati Papi dibuat luruh ketika dia harus melepaskan seragam militernya dan menjadi seorang duta besar,” kata Ani.

Tidak berapa lama, datang kabar lagi dari Jakarta. Sarwo Edhie tidak jadi diberangkatkan ke Rusia, tapi dialihkan ke Irian Barat menjadi Pangdam XVII/Cenderawasih (1968-1970). Saat itu, di Irian Barat tengah terjadi pertempuran yang mengiringi Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969.

“Sebetulnya dibandingkan tugas di Moskow, tugas di Irian lebih mencuatkan risiko yang besar akan keselamatan. Jelas, tugasnya pun jauh lebih berat. Namun, Papi terlihat sangat bersemangat, berbanding terbalik dengan saat dia mendengar akan dikirim ke Moskow,” kata Ani.

Menurut Jusuf Wanandi, mantan aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) yang anti-PKI, Sarwo Edhie dan Soeharto memang tidak pernah dekat. Sarwo Edhie dekat dengan Ahmad Yani dan menganggapnya sebagai kakak. Ketika Sarwo Edhie memimpin pasukan RPKAD ke Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk menumpas PKI, ini lebih merupakan balas dendam pribadi. Sarwo Edhie dekat dengan Yani karena sama-sama berasal dari Purworejo. Dan Yani yang mengangkat Sarwo Edhie menjadi komandan RPKAD (1964-1967).

“Pada pagi 3 Oktober 1965, Soeharto dipanggil ke Bogor... Soeharto berangkat ke Bogor pagi itu dan melihat Sarwo Edhie yang baru saja keluar dari pertemuan dengan presiden. Dia tidak pernah percaya kepada Sarwo Edhie sejak itu,” kata Jusuf dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1995-1998.

Menurut Christianto Wibisono dalam Jangan Pernah Jadi Malaikat: Dari Dwifungsi Penguasaha, Intrik Politik, sampai Rekening Gendut, di antara generasi jenderal yang menonjol, memang tidak ada yang dijadikan wakil presiden oleh Soeharto. Semua yang berpotensi disingkirkan, termasuk Sarwo Edhie, yang hanya berputar dari Pangdam Bukit Barisan, Pangdam Papua, gubernur Akademi Militer, duta besar di Korea Selatan, inspektur jenderal Departemen Luar Negeri, kepala BP7, dan terakhir mengundurkan diri dari DPR sampai akhir hayatnya pada 9 November 1989.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Sarwo Edhie Wibowo dan istrinya di mobil RPKAD.
Foto
Sarwo Edhie Wibowo dan istrinya di mobil RPKAD.
Foto