Pilih Bahasa: Indonesia
Hjalmar Schacht (4)

Saran dengan Muatan Modal Jerman

Sebagai penasihat ekonomi ternyata Hjalmar Schacht tak hanya menyediakan saran, tapi juga agenda investasi Jerman.
 
Hjalmar Schacht dan Adolf Hitler.
Foto
Historia
pengunjung
2.1k

Pada 3 November 1951, Hjalmar Schacht meninggalkan Jakarta setelah memberikan saran-saran mengenai ekonomi dan keuangan bagi pemerintah Indonesia. Di negeri asalnya, dia mencoba kembali menjalankan profesinya sebagai bankir. Sempat mendapat penolakan dari Senat, dia akhirnya membawa kasus ini ke pengadilan dan menang. Pada Januari 1953, dia mendirikan Bankhaus Schacht & Co. di D sseldorf, Jerman. Tapi hubungan dengan Indonesia tak terputus.

“Dalam tahun-tahun berikutnya menyusul kunjungannya ke Indonesia, Schacht dimintai pendapat mengenai hal-hal keuangan oleh pemerintah Indonesia,” tulis Horst H. Geerken dalam Hitler’s Asian Adventure (Baca: suara tokek mengingatkan Horst H. Geerken pada Indonesia).

Geerken menyebut Schacht berupaya mendorong pengusaha-pengusaha Jerman untuk berinvestasi di Indonesia. Salah satunya Carl Friedrich Wilhelm Borgward, pemilik pabrikan mobil Borgward di Bremen. Pada Juli 1954, Borgward mendirikan perusahaan patungan, PT Borgward-Udatin Indonesia. Produksi pertama mereka adalah Isabella, Isabella Estate, dan sebuah truk berbahan bakar bensin. Isabella bahkan diekspor ke Australia. Karena kesulitan keuangan, pada 1960-an Borgward diambil-alih kreditur terbesar mereka, Senat Bremen, dan kemudian sebuah kelompok investasi.

“Namun, suku cadang untuk Isabella dan model Borgward lainnya masih diproduksi di Surabaya sampai akhir 1980-an –mereka dikirim ke seluruh dunia, bahkan ke Jerman,” tulis Geerken.

Pada 1959, Schacht membantu Indonesia dalam kasus lelang tembakau di Bremen, Jerman. Kasus ini bermula dari terbitnya Undang-undang No 86/1958 tentang Nasionalisasi Perusahaan-perusahaan milik Belanda. Perkebunan tembakau milik NV Verenigde Deli-Maatschappijen dan NV Senembah-Maatschappij ikut dinasionalisasi dengan ganti rugi. Sebagai gantinya, pemerintah mendirikan Pusat Perkebunan Negara Baru (PPN-Baru). Pemerintah juga menetapkan Bremen sebagai kota untuk memperdagangkan tembakau dan membentuk perusahaan patungan Deutsch-Indonesische Tabaks-Handelsgesellschaft (DITH). Ketika tembakau akan dilelang, Deli dan Senembah mengajukan protes dan membawa kasus ini ke pengadilan.

“Kasus pengadilan hukum di Jerman menjadi ujian bagi pencarian pengakuan internasional oleh Indonesia sehubungan dengan nasionalisasi perkebunan milik Belanda,” tulis J.Th. Lindblad dalam Indonesian Economic Decolonization in Regional and International Perspective.

Pihak Indonesia menanggapinya dengan uraian setebal 200 halaman. Di dalamnya disertakan pula pernyataan Hjalmar Schacht mengenai masalah-masalah ekonomi terkini di Indonesia dan didukung rujukan kasus nasionalisasi properti Jerman di Belanda tanpa kompensasi. Pengadilan memenangkan Indonesia.

Dua tahun kemudian, Schacht berupaya mendapatkan modal yang diperlukan di Jerman untuk membangun pabrik kelapa sawit di Sumatra. Menurut Geerken, Schacht mendesak Kementerian Kerjasama Ekonomi Federal untuk memberikan jaminan defisit (deficit guarantee) melalui Hermes Guarantee Insurance yang dimiliki negara. “Presiden Federal Jerman juga membahas masalah ini dengan Sukarno selama kunjungan kenegaraannya pada 1962,” tulis Geerken.

Proyek itu tampaknya molor. Pada 21 Januari 1964, The New York Times menurunkan berita berjudul “Hjalmar Schacht Planning Indonesia Palm-Oil Plant”. Pada akhirnya proyek gagal dijalankan.

Menurut Schacht, kendati menteri pembangunan Bund mendukung, rencana ini kandas karena formalitas birokrasi otoritas Bund lain yang dilibatkan. “Menurut informasi saya Jepang melibatkan sejumlah perusahaan patungan dengan Indonesia dengan prinsip ‘production sharing’,” ujar Schacht.

Geerken juga menyebut koneksi lain Schacht di Indonesia. Dia adalah Wilhelm Dunsing, perwakilan Bankhaus Ludwig & Co. di Indonesia. Bank swasta Jerman ini semula milik Schacht bernama Bankhaus Schacht & Co sebelum ditinggalkan Schacht pada 1963 ketika mengakhiri kariernya sebagai bankir.

Pada 1967, Inter Governmental Group on Indonesia (IGGI) atau kelompok negara pemberi bantuan kredit untuk pembangunan Indonesia, dibentuk. 16 negara donor, termasuk Jerman, memberikan kredit kepada Indonesia. Sebuah bank besar dari masing-masing negara yang mengontrol penyaluran dana mengirim perwakilan ke Jakarta. Menurut Geerken, khusus untuk Jerman, pemerintah Indonesia menegaskan bahwa wakil Jerman haruslah bank kecil milik Schacht dan bukan perbankan besar Jerman. Bank itu adalah Bankhaus Ludwig & Co.

“Mereka tak melupakan jasa Schacht pada masa awal Republik dan masih merasa harus berterimakasih kepadanya sebagai teman lama,” tulis Geerken. “Dan itulah sebabnya Wilhelm Dunsing, setelah pensiun sebagai perwakilan bank swasta Hamburg ini, diposkan di Jakarta...”

Entah apa yang disebut Geerken benar atau hanya spekulasi. Namun, IGGI sendiri merupakan ide Herman Abs, pensiunan bankir Jerman. Di masa Hitler, dia adalah kepala Deutsche Bank dan sangat berpengaruh.

Yang pasti, Indonesia punya kesan tersendiri bagi Schacht. “Tiga bulan tinggal di negeri ini, yang dikaruniai sumber daya alam luar biasa, telah meninggalkan saya dengan simpati yang mendalam dan abadi bagi masyarakat Indonesia. Setelah aspirasi nasionalnya terpenuhi, Indonesia akan menjadi salah satu negara paling maju di dunia,” ujar Schacht dalam The Magic of Money.

Kini, kita bisa bilang, Hjalmar Schacht memang bukanlah tukang sulap. Indonesia masih terpuruk.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Hjalmar Schacht dan Adolf Hitler.
Foto
Hjalmar Schacht dan Adolf Hitler.
Foto