Pilih Bahasa: Indonesia
Rumah Bersejarah

Rumah Raja Tanpa Mahkota

Pernah jadi pondokan para pendiri bangsa. Kini sepi pengunjung.
 
Rumah HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII No. 29-31 Surabaya.
Foto
Historia
pengunjung
13.9k

RUMAH pemimpin Sarekat Islam di Gang Peneleh VII No. 29-31 itu tampak suwung. Daun pintu yang bercat krem berpadu hijau tertutup rapat siang itu. Andai saja tak ada plang informasi yang berdiri di depan rumah, mungkin orang tak bakal mengira kalau rumah sederhana itu pernah jadi tempat tinggal bagi aktivis politik zaman pergerakan dari berbagai kalangan dan ideologi. Mulai Sukarno yang nasionalis sampai Musso yang komunis dan Kartosuwirjo yang mengusung gagasan negara Islam pernah indekost di rumah itu.

Jalanan yang membelah kampung Peneleh juga tampak lengang. Hanya empat-lima orang duduk berkerumun di mulut gang. Salah satu dari mereka adalah Eko Hadiratno, ketua RT II kampung Peneleh yang bertugas memegang kunci rumah Tjokroaminoto. Pria berusia 43 tahun itu menuturkan baru beberapa hari sebuah tim penelitian dari Yogyakarta dan Surabaya datang ke rumah Tjokroaminoto.

"Mereka mau melihat struktur bangunan, katanya ada rencana memugar ke bentuk aslinya," kata Eko. Eko diserahi tanggungjawab mulai November 2010 setelah sebelumnya dipegang oleh Windriyanto, ketua RW 4.

Rumah yang pernah menjadi kediaman keluarga HOS Tjokroaminoto itu kini memang tak lagi serupa sediakala. Bangunan asli rumah berdiri memanjang ke belakang dengan dua tembok yang menyekat sayap kiri dan kanan rumah sehingga menyisakan koridor yang memanjang di tengah rumah. Bagian utama rumah dengan deret kamar kos di belakang, yang salah satunya pernah ditempati oleh Sukarno, dibatasi tembok dapur dengan satu pintu yang kini telah ditutup.

Satu set kursi kayu kuno terpasang di ruang tamu seluas 2x4 meter persegi. Sebuah foto pengantin remaja Sukarno dan Oetari terpampang di tembok dekat pintu masuk. "Itu pemberian bapaknya Mbak Maia," ujar Eko.

"Bapaknya Mbak Maia" yang disebut Eko adalah Ir. Harjono Sigit, ayah penyanyi Maia Estianty, mantan istri Ahmad Dhani. Harjono adalah cucu HOS Tjokroaminoto dan pernah jadi rektor Institut Teknologi Surabaya periode 1982-1986.

Keaslian rumah itu mulai terabaikan saat Sukarno tak lagi jadi presiden. Setelah sempat digunakan oleh Walikota Surabaya Soekotjo, kunci rumah tersebut diserahkan kepada Sunarjo, ketua RT setempat. Lama tak pernah dikunjungi, baik oleh Sukarno dan keluarga Tjokro sendiri, rumah tersebut dialihfungsikan menjadi kos-kosan.

"Waktu itu Pak Sunarjo bikin (rumah Tjokro-Red) jadi kos-kosan. Baru tahun 1996 pemda mengambil alih rumah ini. Anak-anak kos juga ndak tahu kalau ini rumah Pak Tjokro," kata Eko.

Soekotjo pensiunan tentara berpangkat brigadir jenderal. Ketika berpangkat letnan dua, Soekotjo yang pernah bertugas di Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya itu, memerintahkan menembak mati Tan Malaka pada 21 Februari 1949 di desa Selopanggung, 20 kilometer sebelah barat kota Kediri.

Saat dijadikan kos-kosan itulah beberapa ruangan dalam rumah diubah. Dapur yang semula berada sayap kiri rumah, dipindahkan ke ujung koridor, tepat dekat pintu keluar ke pekarangan belakang di mana dulu kamar Sukarno terletak.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Rumah HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII No. 29-31 Surabaya.
Foto
Rumah HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII No. 29-31 Surabaya.
Foto