Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Riwayat Radio Pemberontakan Bung Tomo

Siaran Radio Pemberontakan mengobarkan semangat para pejuang dalam Pertempuran Surabaya.
Riwayat Radio Pemberontakan Bung Tomo.
Historia
pengunjung
4.5k

SEBUAH rumah di Jalan Mawar Surabaya berdiri rapuh di atas tanah seluas 2.000 meter persegi. Pilar-pilar dari bambu menyangga atapnya. Di ujung kanan pelataran, berdiri sebuah bangunan berdinding anyaman bambu. Suasananya begitu sepi. Tak terdengar lagi suara berapi-api yang dulu membangunkan semangat para pejuang di media pertempuran Surabaya.

Sebuah plakat di dinding menjadi penandanya, bertuliskan: “Rumah Tinggal Pak Amin (1935). Tempat Studio Pemancar Radio Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (RPPRI) Bung Tomo. Di sini Ktut Tantri (warga negara Amerika) menyampaikan pidatonya sehingga perjuangan Indonesia bisa dikenal di luar negeri Jl. Mawar 10-12 Surabaya.”

Sebelum jadi markas radio, rumah ini sempat menjadi asrama Nederland Indische Landbouws Maaschapij (NILM), perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan. Seorang penduduk Surabaya bernama Aminhadi kemudian membelinya dan kemudian mewariskan kepada anak-cucunya. Nyaris tiap tahun, rumah ini dikunjungi untuk napak tilas 10 November, pertempuran heroik yang menelan ribuan korban jiwa dan kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Nahas, rumah bersejarah itu telah rata dengan tanah untuk lahan parkir sebuah plaza. Padahal, ia telah ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Surat Keputusan Walikota Surabaya pada 1998.

Mendirikan Radio

Rumah di Jalan Mawar ini tak bisa dilepaskan dari sosok Bung Tomo, aktor penting dalam Peristiwa 10 November 1945. Menurut sejarawan Benedict R.O’G. Anderson, sepintas Bung Tomo bukanlah seorang yang mungkin menjadi lambang utama gerakan pemuda di Jawa. Sebelum perang, dia memperoleh pendidikan yang baik di sekolah menengah Belanda dan terkenal dalam gerakan pandu di Jawa Timur. Dia kemudian bekerja sebagai wartawan dan pada zaman Jepang menjadi pegawai kantor berita Domei di Surabaya.

“Ketika dia kembali dari Jakarta pada tanggal 12 Oktober 1945, dia membawa gagasan yang membuat ia terkenal: mendirikan stasiun pemancar radio, yang dinamakannya Radio Pemberontakan, sebagai sarana untuk menciptakan solidaritas massa dan memperbesar semangat perjuangan pemuda,” tulis Anderson dalam Revolusi Pemuda.

Kala itu, Radio Republik Indonesia (RRI) sudah berdiri di beberapa kota besar di Indonesia. Namun RRIadalah lembaga penyiaran resmi yang membawa suara pemerintah. Artinya, RRI tak bisa fleksibel untuk menyuarakan perlawanan. Karena itu, saat bertemu Presiden Sukarno dan Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin di Jakarta, Bung Tomo melontarkan gagasan pendirian Radio Pemberontakan, yang bisa dibilang radio gelap. Amir menyetujuinya. “Asal bukan milik resmi pemerintah,” tulis Barlan Setiadijaya dalam 10 November Gelora Kepahlawanan Indonesia.

Sesampai di Surabaya, Bung Tomo bergegas menuju RRI Surabaya di Jalan Simpang. Kepada kepala RRI Surabaya, dia menyampaikan pesan Amir. “Karena pemancar yang aku maksudkan itu masih harus dibuat, menteri penerangan tidak keberatan kalau sementara aku memakai pemancar Radio Surabaya,” kata Bung Tomo dalam bukunya Pertempuran 10 November 1945.

Kepala RRI Surabaya tak keberatan, asalkan ada izin dari Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Surabaya Doel Arnowo atau Residen Surabaya Sudirman.

Malam harinya, Bung Tomo mengundang beberapa kawannya untuk berembug di sebuah rumah di Jalan Biliton No 7 Surabaya. Pertemuan itu menyepakati pembentukan Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI), organisasi kelaskaran yang terkenal berani mati. Selain itu mempersiapkan operasi Radio Pemberontakan.

Pada 15 Oktober 1945, melalui suratkabar Soeara Rakjat, Bung Tomo mengumumkan bahwa Radio Pemberontakan mulai hari itu akan mengudara perdana dengan gelombang 34 meter. Residen Sudirman dan Doel Arnowo hadir untuk memastikan peminjaman pemancar RRI Surabaya. Bung Tomo minta diputarkan musik mars sebagai pembuka. Karena tak bisa menyediakan dalam waktu dekat, RRI Surabaya menawarkan lagu hawaian Tiger Shark Peter Hodgkinson. Lagu inilah yang kemudian dipakai sebagai pembuka dan penutup siaran.

Dalam pidatonya, Bung Tomo melukiskan kembali dan menumpahkan segala kejadian yang dia alami di Jakarta. “Aku lupa bahwa aku sedang berada sendirian di dalam studio. Seolah-olah di hadapanku ada beribu-ribu, bahkan puluhan ribu orang yang mendengarkan pidatoku. Seakan-akan para pendengarku itu seorang demi seorang kudekati dan kupegang bahunya, kuajak waspada, bersiap menghadapi bahaya yang menghadang. Tak dapat kulukiskan betapa gembiranya hatiku ketika aku selesaiu membaca. Hampir tak kubersihkan peluh yang membasahi wajahku, kalau tidak ada kawan yang memperingatkan akan hal itu,” ujar Bung Tomo.

Usai siaran, Doel Arnowo berpesan agar urusan pemancar Radio Pemberontakan segera dirampungkan. Beruntung, Menteri Pertahanan drg. Moestopo memberi bantuan pesawat pemancar bergelombang pendek bekas Jepang yang dimiliki Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Pesawat pemancar itu kemudian dikembangkan oleh teknisi radio dan anggota BPRI seperti Hasan Basri, Ali Oerip, dan Soemadi.

Radio Pemberontakan mengudara setiap Rabu malam dan Minggu malam. Siarannya bukan hanya dalam bahasa Indonesia, tapi juga bahasa daerah, bahkan bahasa asing terutama Inggris. Atas prakarsa dr Sugiri, seorang Amerika yang bersimpati pada perjuangan Indonesia, Miss Deventery atau lebih dikenal dengan nama Bali Ktut Tantri, menyediakan diri menjadi penyiar bahasa Inggris. “Target utama dari siaran berbahasa Inggris adalah pendengar di luar negeri untuk mengumpulkan dukungan luar negeri terhadap kasus yang menimpa Indonesia,” tulis Timothy Lindsey dalam The Romance of K’Tut Tantri and Indonesia.

Di dalam negeri, hampir semua RRI memancarluaskan siaran Radio Pemberontakan –sebaliknya, Radio Pemberontakan juga mengambil bahan siaran dari RRI Surabaya, Malang, Solo, dan Yogyakarta. Beberapa suratkabar juga mengutip isi siarannya.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Riwayat Radio Pemberontakan Bung Tomo.
Riwayat Radio Pemberontakan Bung Tomo.