Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Riwayat Pembentukan Milisi Tionghoa Pao An Tui

Kemunculan Pao An Tui tidak bisa dilepaskan dari situasi zaman kolonial dan revolusi kemerdekaan. Respons warga Tionghoa atas kondisi keamanan yang tak menentu.
Lim Seng (tengah) pemimpin milisi Pao An Tui di Medan berbincang dengan Kapten V Been dari Tentara NICA Belanda.
Foto
Historia
pengunjung
18.6k

MALAM terasa semakin mencekam bagi penduduk Tionghoa di Tangerang dan sekitarnya. Saat itu Mei 1946, hari-hari di kala revolusi berkobar di Indonesia, ada desas-desus beredar: Laskar Rakyat akan membumihanguskan Tangerang yang dikenal sebagai buffer zone vital dan strategis penghubung dengan Jakarta dengan wilayah lain di bagian Barat. Tak mengherankan bila Belanda maupun pihak Indonesia, berupaya keras menguasai daerah itu.

Warga Tionghoa Tangerang yang sejak awal khawatir dengan keselamatan mereka, bisa bernapas lega sejenak karena rencana bumihangus itu tak terjadi. Namun ternyata situasi itu hanya berlangsung sementara. Pada 2 Juni 1946 malam, serombongan Laskar Rakyat yang dipersenjatai bambu runcing, karaben, pistol, dan samurai, menyerang penduduk Tionghoa di Tangerang Barat. Rumah dan toko diluluhlantakkan, seluruh harta benda mereka dirampok.

Dalam sekejap, kerusuhan menjalar ke berbagai wilayah di Tangerang. Menurut laporan Star Weekly, 16 Juni 1946, sebanyak 40-50 perkampungan luluhlantak; 1.200 rumah rata dengan tanah; lebih dari 700 orang Tionghoa terbunuh, 200 korban di antaranya wanita dan anak-anak; 200 orang Tionghoa dinyatakan hilang; dan kerugian materi lebih dari 7 juta rupiah. Belum lagi ribuan pengungsi yang memutuskan meninggalkan Tangerang guna mencari tempat aman.

Insiden tersebut membuat warga Tionghoa Tangerang kecewa. Mereka pun sadar bahwa perlindungan dari pemerintah Republik tidak dapat menjangkau hingga ke daerah-daerah terpencil. Menurut Tsiang Chia Tung, Konsul Jenderal Tiongkok di Batavia, sekalipun Sukarno, Sjahrir, dan Natsir mengutuk keras insiden yang terjadi di Tangerang, namun pihak Republik dipandang tidak mengambil tindakan signifikan untuk melindungi etnis Tionghoa dari potensi kekerasan lanjutan.

Tak adanya jaminan hukum yang pasti pada masa revolusi, menjadi salah satu faktor menjalarnya kerusuhan ke beberapa kota. Setelah insiden Tangerang, meletus juga berbagai peristiwa anti-Tionghoa di Bagan Siapi-api, Palembang, Bekasi, Cilimus, Jember, Madiun, Malang, dan sebagainya.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Komentar anda
Lim Seng (tengah) pemimpin milisi Pao An Tui di Medan berbincang dengan Kapten V Been dari Tentara NICA Belanda.
Foto
Lim Seng (tengah) pemimpin milisi Pao An Tui di Medan berbincang dengan Kapten V Been dari Tentara NICA Belanda.
Foto