Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Riwayat Berdirinya PNI

Didirikan pada masa penuh kecemasan. Partai pertama yang berhasil menyebarluaskan kesadaran nasionalisme Indonesia.
Kongres pertama Partai Nasional Indonesia (PNI) di Surabaya, 27-30 Mei 1928.
Foto
Historia
pengunjung
6.8k

TJIPTO Mangunkusumo paling tua di antara para aktivis muda yang berkumpul di sebuah paviliun rumah, di Regentsweg No. 22 (kini Jl. Dewi Sartika), Bandung, pada malam 4 Juli 1927 itu. Rata-rata umur mereka baru seperempat abad, sedang Tjipto sudah malang melintang di dalam pergerakan politik. Keberadaannya di Bandung pun dalam status sebagai orang buangan, yang dilarang berpolitik praktis. Pemerintah kolonial menghukumnya atas tuduhan membantu anggota PKI yang memelopori pemberontakan pada 1926.

Dari tujuh orang yang hadir dalam pertemuan itu, hanya Tjipto yang menyatakan keberatannya atas rencana enam orang lainnya untuk membentuk partai politik. Bagi Tjipto, mendirikan partai politik bakal mengundang reaksi keras pemerintah kolonial yang baru setahun sebelumnya menumpas perlawanan PKI. “Cipto Mangunkusumo tidak setuju berdirinya suatu partai nasional karena ia berpendapat bahwa partai nasional itu akan dinilai oleh pemerintah kolonial sebagai pengganti Partai Komunis Indonesia yang sudah dilarang,” tulis Iskaq Tjokrohadisurjo, salah satu pendiri PNI, dalam memoarnya Iskaq Tjokrohadisurjo: Alumni Desa Bersemangat Banteng.

Penolakan Tjipto cukup beralasan. Pemerintah kolonial di bawah gubernur jenderal Dirk Fock dan kemudian digantikan oleh ACD de Graeff sangat reaktif terhadap gerakan politik nasionalis Indonesia, terutama setelah peristiwa pemberontakan PKI 1926. Mengacu pada buku “babon” Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda, “Gubenur Jenderal de Graeff yang semula bersikap terbuka terhadap golongan nasionalis bertindak keras, 4.500 orang dipenjara, kira-kira 1.300 dibuang ke Digul, dan 4 orang dihukum mati.”

Dalam situasi seperti itu, mendirikan partai politik adalah langkah penuh resiko. Tapi keputusan sudah bulat. Sebuah partai politik harus didirikan. Maka, ”Pada tanggal empat Juli 1927, dengan dukungan enam orang kawan dari Algemeene Studieclub, aku mendirikan PNI, Partai Nasional Indonesia,” kata Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat.

Sukarno menyebutkan PNI sebagai “partai” namun berdasarkan keterangan Soenario, PNI pertama kali berdiri dengan nama “Perserikatan Nasional Indonesia” dan baru diubah menjadi partai pada kongres pertamanya setahun kemudian. Enam orang yang dimaksud Sukarno itu antara lain Soenario, Iskaq Tjokrohadisurjo, Sartono, Budyarto Martoatmojo, Samsi Sastrowidagdo dan Tjipto Mangunkusumo.

Soenario dalam Benteng Segitiga mengatakan Tjipto, yang hadir namun tak bersepakat, tetap dianggap sebagai pendiri oleh Sukarno. “Ini dijelaskan oleh Bung Karno di muka Landraad (pengadilan negeri, red) di Bandung, meski pun Bung Karno menganggap Dr Cipto juga sebagai pendiri,” ungkap Soenario. Selain ketujuh orang tadi, Soenario masih menambah dua orang lain yang juga direkennya sebagai pendiri PNI, yakni Sujadi dan J. Tilaar. “Menurut hemat kami, Sujadi dan J. Tilaar ini secara formal juga harus dimasukkan dalam golongan pendiri PNI, sehingga jumlah sebenarnya ada 9 orang,” imbuhnya.

Setelah PNI terbentuk, Sukarno dipilih menjadi ketuanya, sementara Iskaq jadi sekretaris dan lainnya menjadi anggota. Alasan pemilihan Sukarno menjadi ketua karena dia dianggap “paling populer dan paling maju untuk memimpin partai sebagai ketua atau pemuka,” ujar Iskaq.

Sukarno mengenang masa-masa itu secara dramatis. “Pada setiap cangkir kopi tubruk, di setiap sudut di mana orang berkumpul nama Bung Karno menjadi buah mulut orang. Kebencian umum terhadap Belanda dan kepopuleran Bung Karno memperoleh tempat yang berdampingan dalam setiap buah tutur,” kenangnya.

Lebih lengkap baca dalam edisi khusus Partai Nasional Indonesia dan Ahli Warisnya Versi digital download melalui getscoop.com. Berlangganan atau pembelian langsung versi cetak kontak hotline 081 3131 111 90 (SMS/WA).

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Komentar anda
Kongres pertama Partai Nasional Indonesia (PNI) di Surabaya, 27-30 Mei 1928.
Foto
Kongres pertama Partai Nasional Indonesia (PNI) di Surabaya, 27-30 Mei 1928.
Foto