Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 3

Raksasa Perang Dunia Dipermalukan di Ambarawa

Meski berawal damai, Inggris selaku negara pemenang perang akhirnya menanggung malu akibat ulah Belanda di Jawa Tengah.
Monumen Palagan Ambarawa
Historia
pengunjung
8.8k

Di Ambarawa sendiri pertempuran sudah meletus pada 20 November, yang menurut pihak Indonesia dipicu oleh bombardir pesawat-pesawat AU Inggris (RAF) –sementara menurut Inggris dipicu serangan-serangan oleh para prajurit Indonesia. Pejuang Indonesia melakukan perlawanan dengan berondongan senapan mesin dan pemboman mortir. Mereka mengepung pertahanan Inggris dan memblokir akses ke sana. Tembak-menembak terus membesar.

Terdesaknya Inggris membuat mereka meminta bantuan ke Semarang. Bantuan dari Semarang datang melalui pesawat-pesawat pembom, tank, dan artileri. Pada 26 November, berondongan senapan mesin pesawat RAF menggugurkan Letkol Isdiman yang bermarkas di Desa Kelurahan. Hal itu menambah kemarahan pihak Indonesia. “Orang-orang Indonesia menuangkan bensin mengelilingi sebuah kamp interniran dan membakarnya; mereka menembus pagar belakang kamp lain dan membunuh tentara, perempuan, dan anak-anak Inggris,” tulis McMillan. Korban yang jatuh sangat banyak, dari kedua belah pihak.

Setelah TKR menguasai jalan Semarang-Ambarawa dan Yon Mayor A Yani merebut lapangan udara Kalibanteng, pasukan Inggris dan interniran yang mereka bebaskan terjepit di Ambarawa. Hubungan mereka dengan markas pusat di Semarang putus.

Keadaan itu membuat pasukan Indonesia leluasa melancarkan serangan Ambarawa yang dimulai tepat jam 04.30 pagi tanggal 12 Desember. Setelah tembakan mitraliyur penanda membuka serangan, pasukan Indonesia dari berbagai sektor di Ambarawa maju menyerang posisi Inggris. “Mereka merayap mendekati kedudukan musuh sampai jarak 200 meter,” tulis Dinas Sejarah TNI dalam Sudirman: Prajurit TNI Teladan. Gatot Subroto yang menggantikan Isdiman, merangsek dari selatan kota. Mereka melancarkan gerilya kota. Pasukan Inggris dan interniran yang mereka bawa terjepit.

Kontak senjata berlangsung terus-menerus selama empat hari dan memakan banyak korban. Setelah empat hari terkepung, pasukan Inggris akhirnya memutuskan untuk menerobos jalur ke Semarang. Mereka mundur sambil membawa interniran yang tersisa. Setelah mati-matian menempuh perjalanan dari Ambarawa, mereka akhirnya tiba di Semarang dengan banyak kerugian. “Inggris jadi kena getahnya,” tutup Priyanto, menjelaskan bagaimana pasukan Inggris yang sudah bosan perang itu harus menanggung malu akibat ulah Belanda.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Komentar anda
Monumen Palagan Ambarawa
Monumen Palagan Ambarawa