Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 2

Raksasa Perang Dunia Dipermalukan di Ambarawa

Meski berawal damai, Inggris selaku negara pemenang perang akhirnya menanggung malu akibat ulah Belanda di Jawa Tengah.
 
Monumen Palagan Ambarawa
Historia
pengunjung
13.2k

Gurkha langsung mengambilalih lapangan udara di Semarang dan mendirikan markas di sana. Rakyat Indonesia menyambut kedatangan mereka karena dianggap sebagai pembebas dari Jepang.

Atas izin gubernur, satu datasemen Gurkha lalu bergerak ke Ambarawa dan Magelang. “Ambarawa itu kan menjadi kamp interniran besar. Maka ke situ mereka begitu mendarat di Semarang,” ujar Priyanto. Di sana, mereka membebaskan para tawanan dan interniran, termasuk eks prajurit KNIL Belanda.

Namun, para eks tentara Belanda lalu melakukan provokasi-provokasi seperti mengenakan seragam militer lengkap, menangkapi, dan bahkan menyiksa para pemuda pejuang Indonesia. Hal itu memicu perlawanan. Panglima BKR Kedu Soesman, yang dibantu BKR Yogyakarta pimpinan Oemar Slamet dan Laskar Rakyat Mataram serta kesatuan perjuangan lainnya, lalu mengepung tangsi-tangsi pasukan Sekutu di Tuguran, Susteran, dan Hotel Montagne (kini di seberang alun-alun). Korban berjatuhan dari kedua belah pihak.

Panglima garnisun Inggris di Magelang Letkol Edwards, yang tiba pada akhir Oktober, mengadakan perundingan dengan penguasa setempat untuk menghentikan pertempuran. Karena tak menghasilkan kesepakatan, Brigjen Bethel lalu mengambilalih. Dia berunding dengan Presiden Sukarno yang sedang bersafari. Perundingan tanggal 2 November itu selain menghasilkan kesepakatan gencatan senjata juga menghasilkan kesepakatan pembentukan Contact Committee, yang bertugas memastikan kelancaran pembebasan tawanan dan interniran Sekutu. Lima pemimpin Indonesia dan lima perwira Inggris masuk ke dalam komite tersebut. Untuk itu, Inggris memberi bantuan senjata Lee & Field kepada petugas Indonesia, sementara Indonesia menjamin suplai bensin dan makanan kepada pasukan Inggris.

Pada 20 November, evakuasi 2500 internir dari Magelang berjalan lancar. Sisa yang masih ada menyusul dievakuasi keesokan harinya berbarengan dengan penarikan garnisun Inggris di Magelang ke Ambarawa. Kecuali anak-anak, lansia, dan mereka yang sakit, para interniran yang tak kebagian truk harus berjalan kaki ke Ambarawa. Meski dengan pengawalan pasukan, keamanan mereka sangat rentan dari serangan para “ekstrimis”. Jenderal Christison sampai menyamakan kondisi mereka dengan kondisi evakuasi warga Inggris dari Kabul ke India pada 1842 yang hanya menyisakan seorang selamat sampai tujuan.

Berbarengan dengan masa tegang di Magelang, pimpinan tentara bersidang dan memilih Kolonel Sudirman (panglima BKR Banyumas) sebagai panglima TKR. Sambil menunggu waktu pelantikan, dia kembali ke markasnya sambil menyusun strategi guna menghadapi kemungkinan terburuk dari proses evakuasi tawanan Sekutu dari Magelang ke Ambarawa.

Sudirman memerintahkan komandan-komandan TKR di Jawa Tengah mengirim pasukannya untuk memperkuat TKR di Ambarawa. “Yang terbanyak dari Banyumas, karena senjatanya terlengkap,” ujar Priyanto. Sudirman juga membentuk Markas Pimpinan Pertempuran guna menghindari kesalahan yang terjadi di Magelang di mana para pejuang Indonesia bertempur tanpa koordinasi dan hierarki yang jelas. Sudirman menetapkan garis-garis besar operasi penyerbuan Ambarawa, menunjuk Letkol Isdiman (panglima Resimen Purwokerto) sebagai pemimpin koordinator pasukan penyerbu, membagi Ambarawa menjadi beberapa sektor, dan menetapkan pukul 04.30 pagi tanggal 12 Desember sebagai waktu dimulainya ofensif.

Sudirman, menurut Tjokropranolo dalam Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman Pemimpin Pendobrak Terakhir Penjajahan di Indonesia: Kisah Seorang Pengawal, berhasil menghimpun sekitar 20 batalyon. Rasio persenjataan untuk pasukan reguler 1 senjata berbanding 5 personil, sementara untuk laskar dan tentara pelajar rasionya 1:10.

Sementara itu di lapangan, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) menganggap penarikan mundur pasukan Inggris ke Ambarawa secara diam-diam pada malam 21 November menyalahi kesepakatan –yang menetapkan garnisun Inggris tetap ditempatkan di Magelang. Bagi mereka, mundurnya pasukan Inggris sebagai upaya melarikan diri. “Kecurigaannya begitu besar rakyat kita di masa revolusi,” ujar Supriya Priyanto. Pasukan resimen Kedu Tengah di bawah Letkol Sarbini, diikuti kesatuan-kesatuan lain seperti Yon Mayor Imam Androngi, Yon Mayor Soeharto, Mayor Sardjono, langsung mengejar. Kontak senjata terjadi dan memakan beberapa korban.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Komentar anda
Monumen Palagan Ambarawa
Monumen Palagan Ambarawa