Pilih Bahasa: Indonesia

Penyu Menopang Bumi

Ketika tonggak kehidupan punah, bumi pun ikut berakhir.
Historia
Historia
pengunjung
5.7k

BAGI suku Indian Iroquis, penyu adalah penopang bumi. Ketika anak perempuan Sang Roh Maha Tinggi dibuang dari langit karena hamil akibat hubungan terlarang, ia mendarat di atas seekor penyu. Dengan lumpur yang melekat di punggung penyu, ia pun membentuk bumi. Mayor John Norton yang berdarah Indian Cherokee, Skotlandia (dan kemudian diangkat sebagai Indian Mohawk) mendokumentasikan kepercayaan ini dalam The Journal of Major Norton (1816).

Mitologi Hindu di Bali juga meninggikan penyu. Mereka meyakini bahwa Dewa Wisnu menjelma menjadi Badawangnala (penyu) dan menyangga Gunung Mandara sehingga bumi tak tenggelam serta menemukan kembali tirta amerta (air kehidupan). Peran penting penyu dalam kosmologi penciptaan ini didokumentasikan Jose Miguel Covarrubias, seniman Meksiko yang awalnya berada di Bali untuk berbulan madu bersama istrinya, Rosa Rolando, pada 1930.

Terpesona oleh daya tarik alam dan filosofi masyarakat Bali, suami-istri ini memutuskan kembali pada 1933. Covarrubias melatih ketrampilan berbahasa Bali dengan menerjemahkan manuskrip mitologi penciptaan, Catur Yoga. Dalam The Island of Bali, dia mencatat “Pada awalnya adalah ketiadaan, semuanya hampa, hanya ada ruang kosong. Dengan bermeditasi, Sang Dewa Ular Antaboga menciptakan penyu Bedawang, di atasnya melingkar dua ekor ular, sebagai penopang dunia.”

Lebih dari sekadar simbol penciptaan, penyu merepresentasikan kehidupan dan umur panjang. Bagi masyarakat berdialek Fujian selatan di China, kata “penyu” merupakan homonim angka sembilan dan bermakna panjang umur. Karenanya, adat penyembahan penyu di Fujian, juga Taiwan, untuk memperingati hari-hari penting para dewa dan ulang tahun terus berlanjut. Penggunaan daging penyu di masa lalu digantikan kue penyu yang terbuat dari adonan tepung berwarna merah sebagai persembahan dan kado.

Simbolisme itu terefleksi melalui sejarah hidup penyu di bumi. Kerangka Proganochelys, penyu tertua di dunia, ditemukan pada akhir periode Triassic,jauh sebelum masa dinosaurus.

Nilai-nilai sakral dalam mitos tak menjamin keberlangsungan hidup penyu. Ia berubah seiring peradaban manusia, termasuk pola konsumsi dan perdagangan produk penyu.

Thomas Forrest, kapten East India Company, Inggris, mencatat konsumsi daging penyu dalam perjalanan ke Papua dalam A Voyage to New Guinea and the Moluccas (1780): “…dengan perahu, orang Papua terus membawakan kami ikan-ikan segar yang berlimpah; juga penyu, yang dagingnya tak dimakan oleh pengikut Muhammad; mereka hanya menyantap telurnya. Penduduk lokal memiliki cara mengolah usus penyu dengan kuning telurnya, digulung dan dipanggang, atau mungkin lebih tepat dikeringkan di atas api kecil; menjadi susis panjang.”

Forrest juga mencatat bahwa barter karapas penyu terjadi di Krudo dan pulau-pulau di sekitarnya, biasa dilakukan oleh orang China.

Pada abad ke-20, konsumsi dan perdagangan produk penyu secara besar-besaran mengancam kelangsungan hidup penyu. I.G.N Sudiana dalam “Transformasi Budaya Masyarakat Desa Serangan di Denpasar Selatan Dalam Pelestarian Satwa Penyu”, yang dimuat jurnal Bumi Lestari, Agustus 2010, mencatat pariwisata Bali pada pertengahan 1980-an mengandalkan komoditas penyu, baik dalam bentuk makanan, kerajinan tangan, maupun kosmetik. Bali juga menjadi tempat transit kapal-kapal transaksi penyu. Ironisme muncul: daging penyu menjadi konsumsi sehari-hari sekaligus untuk upacara-upacara adat.

Pada 1987, Indonesia menjadi soroton dunia setelah International Union Conservation of Nature (IUCN) dalam sidang internasional di Ottawa, Kanada, melaporkan penangkapan penyu di pantai-pantai Indonesia diperkirakan mencapai 30.000 ekor setiap tahun. Tak lama kemudian, Greenpeace turut mengkritik eksploitasi penyu di Bali dengan kampanye “Slaughter in Paradise” yang mengajak pemboikotan pariwisata Bali.

Merespon kecaman masyarakat internasional, pemerintah Indonesia memberlakukan UU No 5 tahun 1990 yang melarang pemanfaatan penyu secara nasional, termasuk kuota perdagangan penyu di Bali. Pemangku adat Bali ikut menyebarluaskan penerapan nilai-nilai lokal demi keseimbangan manusia dan alam dalam Tri Hita Karana untuk menggiatkan perlindungan penyu di masyarakat.

Pariwisata Serangan, salah satu pusat konsumsi dan perdagangan penyu sebelumnya, pun beralih ke aktivitas pelestarian penyu. Secara adat, peraturan perlindungan penyu di Serangan dikukuhkan melalui Awig-Awig Desa Adat Serangan Pawos 29 dan 30. Penggunaan daging penyu kini terbatas pada upacara-upacara adat. Penggunaan dalam upacara pernikahan, kremasi, dan potong gigi sudah jauh berkurang.

Konsumsi dan perdagangan bukan satu-satunya ancaman keberlangsungan hidup penyu di abad modern. Polusi lingkungan membunuh banyak penyu laut. Sampah plastik dan sintetis jadi ancaman terbesar karena penyu tak dapat membedakannya dengan makanan di laut. Tumpahan minyak dan bahan-bahan toksin mematikan sumber makanan penyu dan menimbulkan berbagai penyakit. Area pantai yang berubah fungsi jadi tempat tinggal dan komersial mempersempit wilayah penyu bertelur.

Kekhawatiran akan keberlangsungan hidup penyu terus memasuki titik krisis dengan pemanasan global dan dampaknya terhadap regenerasi dan mortalitas penyu. Penyu laut, yang termasuk dalam kelompok reptil, memiliki Temperature Sex Determination (TSD), di mana titik suhu 29 derajat Celcius menentukan jenis kelamin embrio penyu. Suhu di atas 29 derajat Celcius cenderung menghasilkan betina dan sebaliknya, suhu di bawah 29 derajat Celcius kebanyakan menghasilkan jantan. Lebih dari satu dekade lalu, sebuah studi selama 1986-1988 oleh Nicholas Mrosovsky dan Jane Provancha di wilayah pantai Cape Canaveral, Florida, tempat spesies penyu tempayan (Caretta caretta) bertelur, membuktikan temperatur pasir yang tinggi menyebabkan 87-89% bayi penyu yang lahir adalah betina.

Kini dengan meningkatnya suhu secara global, para ilmuwan memprediksi, pada tahun-tahun mendatang populasi penyu laut hanyalah betina. Tanpa rasio jenis kelamin yang seimbang, regenerasi penyu laut akan terhenti dan menuju kepunahan.

Pemanasan global juga berdampak buruk pada angka kelahiran penyu laut. Tingkat populasi penyu laut tergantung pada kesuksesan masa inkubasi dengan parameter suhu antara 26 hingga 33 derajat Celcius. Peningkatan suhu di atas 33 derajat Celcius akan menggagalkan masa inkubasi. Selain itu, suhu pasir yang tinggi akan mengakibatkan bayi penyu kesulitan mengkoordinasi otot untuk bergerak ke permukaan pasir (dari sarang) dan menganggu metabolisme karena kekurangan oksigen.

Tujuh spesies penyu laut kini masuk daftar IUCN untuk hewan berisiko tinggi mengalami kepunahan. Ketujuh spesies ini adalah penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu lekang kempi (Lepidochelys kempi), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), dan penyu pipih (Natator depressa).

Akankah kita menjadi saksi kepunahan penyu? Berakhirkah sebuah kehidupan, ketika simbol tonggak kehidupan itu sendiri tak ada lagi?

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Historia
Historia