Pilih Bahasa: Indonesia

Pendiri Partai Demokrat Hina Sukarno

Berhasil menemui Ratu Belanda, dia sebut Sukarno penipu. 
Historia
Historia
pengunjung
9.2k

MR Mas Slamet kecewa berat pada golongan republiken yang dianggapnya kolaborator fasis Jepang. Padahal menurut dia Jepang banyak mendatangkan kesengsaraan pada rakyat. Slamet lantas menggantungkan nasib kepada Ratu Belanda dengan harapan Ratu bisa melakukan sesuatu untuk rakyat Indonesia. Dia pun pergi ke Belanda, bersikeras bertemu Ratu Wilhelmina.

Peyandang gelar mester in de rechten (sarjana hukum) itu mengatakan kepergiannya ke Belanda bukan untuk jalan-jalan menyenangkan diri melainkan menerangkan kesulitan rakyat Indonesia di bawah pendudukan Jepang. “Tuan Sukarno atau tuan Sjahrir atau siapa orangnya tidak akan setuju dengan rencana saya ini. Tuan Sukarno dan kawan-kawannya adalah orang-orang yang sama dengan fasis, yang telah melakukan perbuatan-perbuatan dengan tipu muslihat ketika Jepang berlutut,” tulis Zaman Baroe, 6 Juni 1946.

Pendiri Partai Demokrat itu selain menjadi ajun inspektur keuangan (Adjunct Inspecteur van Financien) juga menjadi dosen Sekolah Tinggi Hukum (Rechtshogeschool) di Batavia sebelum perang. Setelah diculik oleh pemuda republiken pada Oktober 1945, dia dibebaskan oleh pasukan Inggris pada awal Desember 1945.

Pembesar Belanda menaruh hormat pada Mas Slamet karena sikapnya yang anti pendudukan Jepang. Pada bulan-bulan pertama sesudah proklamasi, dia menampung anak-anak Belanda di rumahnya di Jakarta. Dia juga menulis beberapa buku yang anti-Jepang, antara lain The Afterglow of the Japanese unset (1946), Japanese Machinations (4 vol, 1946), Kommando Tokyo (1946), dan Tipoe Moeslihat Djepang: Ekor Penindasan Djepang (1946).

Akhir Desember 1945 Mas Slamet menulis surat terbuka kepada Ratu Wilhelmina. “Surat terbuka Mas Slamet, di Negeri Belanda diumumkan oleh Yayasan Indie in Nood (Hindia dalam Bahaya) yang sangat konservatif. Walaupun Mas Slamet sudah menjelaskan bahwa pada akhirnya dia mengidamkan kemerdekaan Indonesia, yayasan itu samasekali tidak peduli. Yayasan hanya memanfaatkan keresahan Mas Slamet mengenai keadaan kacau di Jawa untuk memperkuat argumentasinya sendiri,” tulis Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah.

Menurut Abdul Haris Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Diplomasi atau Bertempur, Indie in Nood merupakan organisasi kemasyarakatan yang dibentuk untuk memupuk kebencian rakyat Belanda kepada Indonesia. Sentimen-sentimen anti-Indonesia dipelihara. Cita-cita Indie in Nood agar Belanda kembali memiliki kedaulatan di tanah Hindia Belanda, setelah Jepang keluar dari Hindia Belanda.

Mereka memengaruhi sekutu agar memberikan bantuan militer kepada Belanda untuk menjalankan misi “kedaulatan Belanda” di Hindia Belanda. Indie in Nood membangun “loyale en gematigde elementen” yang maksudnya membentuk orang-orang Hindia Belanda yang setia kepada Ratu Belanda sebagai kekuatan kedaulatan Belanda itu. Mas Slamet salah satunya.

Menurut Poeze, dalam suratnya Mas Slamet menyatakan bahwa situasi di Jawa sesudah proklamasi kemerdekaan merupakan “kemelut yang memporakporandakan”. Dia mengecam pemerintah Belanda yang tidak membebaskan Indonesia dari Jepang. Dia menyatakan, “Yang Mulia, bangsa saya pun lebih dari tiga tahun lamanya mengharapkan pembebasan dari kekuasaan yang tak berperikemanusiaan. Bangsa saya pun sudah menderita di bawah penganiayaan, kekerasan, dan kejahatan yang kejam. Ketika kekuasaan Yang Mulia masih tegar di sini, sering saya mencucurkan airmata, yaitu ketika beribu orang setanah air saya atas nama Yang Mulia diangkut sebagai kuli kontrak ke pusat-pusat kolonisasi yang jauh letaknya. Mereka dikirim ke Pantai Deli, tempat orang bertanam tembakau, atau ke daerah Lampung yang masih harus dibuka hutannya. Waktu itu saya tak menduga, bahwa tanah Jawa yang subur ini masih harus menanggung derita yang lebih hebat lagi.”

Kepada Ratu Belanda, Mas Slamet berharap, “agar pada saat yang kritis dalam hidup rakyat ini Yang Mulia akan mengirim tenaga bantuan yang memiliki tinjauan yang dalam, penglihatan yang luas, dan keberanian yang luar biasa untuk mengambil keputusan-keputusan cepat di tengah kekacauan yang merajalela dan keadaan yang tak tertanggungkan ini.”

Pada 8 Mei 1946, surat kabar Nieuwe Rotterdamsche Courant, yang juga mengumumkan surat terbuka Mas Slamet pada 14 Januari 1946, memuat berita bahwa Jawatan Penerangan Hindia Belanda telah menyatakan kalau “Mas Slamet telah ditunjuk oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk berangkat dengan pesawat terbang pada kesempatan pertama ke Negeri Belanda, guna menghadap Menteri Daerah Seberang Lautan”. Mas Slamet baru akan kembali ke Hindia Belanda dua bulan kemudian. Berita tersebut juga dimuat dalam koran Persatoean, 9 Mei 1946.

Sementara itu koran Zaman Baroe, 6 Juni 1946, memberitakan kalau Mas Slamet menginap di salah satu hotel di Den Haag. Dia mengaku kalau kunjungannya ke Negeri Belanda kali itu adalah untuk pertama kalinya dan penerbangan yang dia lakukan juga untuk pertama kalinya.

Mas Slamet mengakui belum memiliki cita-cita yang terencana. Akan tetapi dia berharap supaya diberikan kesempatan berpidato bagi segenap rakyat Belanda. Dengan itu, dia akan menerangkan pendapatnya tentang Indonesia. “Saya sendiri tidak sukar untuk memberikan uraian objektif tentang kejadian-kejadian yang telah dan akan terjadi di Indonesia. Oleh karenanya saya sendiri belum pernah menerjunkan diri di dalam dunia politik,” tulis Zaman Baroe, 6 Juni 1946.

Mimpi Mas Slamet terkabul. Dalam kunjungannya ke Belanda, dia memberikan ceramah tentang gagasan-gagasannya mengenai masa depan negerinya. Salah satu ceramahnya diselenggarakan di gedung Odeon, Rotterdam. Menurut Poeze, pada umumnya, surat kabar Nieuwe Rotterdamsche Courant tidak banyak memperhatikan kegiatan orang Indonesia di Belanda. Namun uniknya, khusus untuk penampilan Mas Slamet surat kabar itu memberitakannya secara teratur.

Pada Senin 3 Juni 1946, Nieuwe Rotterdamsche Courant menulis, “Hari sabtu siang, Mr Mas Slamet telah menjelaskan pendiriannya mengenai masalah Indonesia di gedung Odeon di kota ini. Dia menyatakan, bahwa Negeri Belanda dan Hindia terikat erat oleh sejarah. Walaupun semasa perang ikatan itu dari luar tampak terputus, namun dari dalam ia bertambah kuat, karena keduanya menanggung penderitaan bersama-sama. Orang Belanda yang pulang ke rumahnya, di mana-mana di Indonesia disambut dengan gembira oleh penduduk. Jadi konflik yang terjadi sekarang ini hanyalah akibat perbuatan satu golongan kecil orang yang sudah teracuni oleh semangat Jepang di bawah pimpinan kolaborator Sukarno.

“Menurut pendapat saya, pemecahan masalah ini hanya mungkin kalau orang Jepang dan unsur-unsur yang berada di bawah pengaruh Jepang disingkirkan samasekali...Pembaharuan ketatanegaraan baru mungkin berhasil, apabila ketertiban dan ketenteraman dipulihkan terlebih dahulu,” kata Mas Slamet.

Pada 12 Juni 1946, Mas Slamet menghadap Menteri Daerah Seberang Lautan yang baru, Dr Jan Anne Jonkman. Beberapa hari sebelum itu dia diterima oleh Ratu Belanda, Wilhelmina.

Agaknya hubungan Mas Slamet dengan kaum republiken Indonesia kurang bagus. Pada 13 Juni 1946, Nieuwe Rotterdamsche Courant memuat wawancara dengan Mas Slamet. Ketika ditanya apakah dia sudah melakukan kontak dengan kaum republiken Indonesia di Negeri Belanda, Mas Slamet menjawab kalau dia hanya pernah berbantahan dengan seorang anggota terkemuka Perhimpunan Indonesia dalam sebuah pertemuan. Orang Perhimpunan Indonesia itu membandingkan orang Belanda yang disandera di Jawa dengan orang Indonesia yang menurutnya terpaksa tinggal di Negeri Belanda. “Kami ini pun sandera,” kata Mas Slamet menirukan orang Perhimpunan Indonesia itu.

Mas Slamet berpendapat anggapan demikian menunjukkan adanya maksud buruk dalam perjuangan politik kaum republiken. Pengalaman serupa itulah juga yang dia peroleh, sesudah dia mengemukakan pendapatnya mengenai masalah Hindia Belanda. “Mereka tak pernah membantah apa yang saya katakan; selamanya pribadi saya yang mereka serang; itu pun kebanyakan penuh dengan hal yang tak benar.”

Mas Slamet tidak lama di Belanda. Sekitar pertengahan Agustus 1946, dia pulang ke Jakarta, kota yang dipenuhi kaum republikein yang dibencinya. Berdasarkan pemberitaan di era itu, pada 13 Agustus 1946 dia pergi ke Inggris dan Amerika untuk membeberkan pandangan-pandangannya.

“Setelah kembali ke Indonesia, Mr Mas Slamet tetap aktif di dalam politik. Tidak begitu jelas siapa yang membayar biaya perjalanan dan hidupnya. Barangkali untuk Mas Slamet biaya itu ditutup oleh pemerintah Belanda,” tulis Poeze.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Historia
Historia