Pilih Bahasa: Indonesia

Pendiri Partai Demokrat Dikutuk

Kaum republiken menyebut Mr Mas Slamet seorang pengkhianat yang menjual bangsanya.
Mr. Mas Slamet (kiri, memakai blangkon). Daliloedin (kedua dari kanan, memakai peci).
Historia
pengunjung
5.8k

KELOMPOK kanan reaksioner Belanda selalu menganggap Sukarno seorang pengkhianat atau quisling –diambil dari nama Perdana Menteri Norwegia yang bekerjasama dengan tentara Nazi selama Perang Dunia II– yang menjual bangsanya kepada Jepang. Sebaliknya, kaum republiken menganggap kolaborasi Sukarno dengan Jepang hanyalah perkara strategi perjuangan merebut kemerdekaan. Justru orang-orang yang anti-Jepang dan anti-Republik serta pro-Belandalah yang pantas disebut quisling; salah satunya Mas Slamet, pendiri Partai Demokrat.

Mas Slamet tak hanya mencap Indonesia sebagai bentukan Jepang, dia juga menganggap bendera Merah Putih sebagai produk Jepang. “Mr Slamet di dalam surat terbuka kepada Ratu Wilhelmina terkesan tidak mengenal makna simbolis bendera Merah Putih bagi gerakan nasional di negerinya,” tulis Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah.

Damapknya, Mas Slamet bukan hanya diculik pada Oktober 1945 tapi juga diserang kaum republiken dengan tulisan. Di majalah Indonesia terbitan 23 Februari 1946, Daliloeddin, mahasiswa Indonesia di Belanda, menulis artikel panjang berjudul “Mr Mas Slamet. Siapa dan Apa Dia?”

Selain meluapkan kendongkolan atas sikap Mas Slamet yang anti-Republik, Daliloeddin menyerang gagasan dan pendirian Liga Demokrasi (Democratische Liga) yang didirikan Mas Slamet bersama sejumlah orang pada Januari 1946. “Mas Slamet ingin memberikan kekuatan kepada gagasan-gagasannya dengan memulai suatu aksi politik. Untuk itu diletakkannya dasar-dasarnya dengan mendirikan Liga Demokrasi. Dalam Liga ini terdapat juga nama-nama orang lain, orang Indonesia, yang rupanya merasa sepaham dengan Mr Slamet,” tulisnya.

Menurut Koran De Schakel, 17 Januari 1946, anggota Komite Liga Demokrasi antara lain Mr Koesoemo Oetojo, PFW Wakary, AC Toepamahoe, R Joostensz, Roebini, Ongkiehong, dan JLF Rhemrev. Liga itu dinamakan sebagai perhimpunan cendekiawan Indonesia dan Indo yang menghendaki kemerdekaan Indonesia tapi menentang Republik Indonesia. Yang boleh menjadi anggota Liga Demokrasi hanyalah mereka yang selama pendudukan Jepang punya integritas, berkelakuan baik, dan tak membantu Jepang serta.

Daliloeddin mengejek bahwa, “Mas Slamet dengan bergairah, dan demikian mewakili perasaan ‘sebagian besar rakyat Indonesia’ (seperti kelihatan dari surat-suratnya), hingga untuk dapat menyelenggarakan rapat saja Liganya harus meminta izin kepada Jenderal Christison (Panglima Tentara Sekutu di Hindia Belanda).”

Daliloeddin kemudian mengutip koran Berita Indonesia yang menulis tentang Mas Slamet: “Di Jakarta Mas Slamet ingin mendirikan Partai Demokrasi (Koran Pewarta Deli, 27 Januari 1946 menyebut Partai Demokrat) yang akan menentang ‘Republik di bawah Ir Sukarno’. Inilah langkah terakhir pihak Belanda untuk mempertahankan agar lampu Van Mook tetap menyala! Orang-orang Belanda ingin menghidupkan Indonesia Merdeka yang baru, dengan Mas Slamet sebagai ‘quisling’-nya. Karena bingung, orang Belanda dan Mas Slamet lupa, bahwa Republik yang dipimpin oleh Bung Karno adalah Republiknya rakyat Indonesia! Kalau mereka menentang Bung Karno, berarti sebenarnya mereka itu menentang seluruh rakyat Indonesia. Apakah ‘kerja’ Mas Slamet memberikan ‘keselamatan’ kepada rakyat Indonesia? Tidak. Kutukan seluruh rakyat kita akan menimpa dirinya dan teman-temannya.”

Daliloeddin mengakhiri artikelnya dengan betapa tepat kutukan dialamatkan kepada Mas Slamet. “Orang ini sepenuhnya menempatkan diri di luar masyarakat Indonesia, tidak hanya dengan pandangan-pandangannya yang menyimpang, melainkan juga dengan tingkah lakunya. Praktis dia menempatkan diri di pihak yang lain. Bagi orang Indonesia Mas Slamet hanyalah sekadar orang quisling biasa yang malang.”

Menurut Poeze, dalam artikel itu, Mas Slamet tak hanya dicela karena kegiatannya memainkan kartu Belanda, melainkan juga memainkan peranan sebagai quisling. Ini adalah celaan yang oleh para pendukung Republik selalu dilontarkan kepada lawan-lawan politiknya. Pasalnya, mereka khawatir kelompok-kelompok konservatif Belanda akan memanfaatkan lawan-lawan Republik untuk melakukan propaganda demi tujuan mereka, lepas dari tujuan sebenarnya dari para penentang Republik.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Mr. Mas Slamet (kiri, memakai blangkon). Daliloedin (kedua dari kanan, memakai peci).
Mr. Mas Slamet (kiri, memakai blangkon). Daliloedin (kedua dari kanan, memakai peci).