Pilih Bahasa: Indonesia

Para Perempuan dalam Perang Kemerdekaan

Pejuang gadis sampai janda bertempur di garis terdepan. Bahu-membahu di medan perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Korps Wanita Tentara Indonesia sesudah reorganisasi tahun 1948 secara resmi menjadi bagian dari tentara.
Foto
Historia
pengunjung
7.2k

PADA 24 Maret 1946, Bandung dibumihanguskan, kemudian dikenal dengan Bandung Lautan Api. Strategi ini dilakukan sebagai respons atas ultimatum Sekutu agar pasukan Indonesia meninggalkan Bandung selatan selambatnya 24 Maret 1946 pukul 00.00 WIB. Bandung dibumihanguskan pada pukul 21.00 WIB, tiga jam lebih awal dari rencana.

Ketimbang membiarkan Bandung jadi basis Sekutu, Musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) –perubahan dari Markas Dewan Pimpinan Perjuangan (MDPP) – bersepakat membumihanguskan Bandung. Pilihan ini juga realistis karena kekuatan pejuang Republik tak akan sanggup melawan Sekutu. Masyarakatnya diminta mengungsi.

MP3 merupakan badan koordinasi 61 kesatuan perjuangan di seluruh Jawa Barat. Salahsatunya Laskar Wanita Indonesia (Laswi) yang dibentuk pada 12 Oktober 1945 oleh Sumarsih Subiyati biasa dipanggil Yati Aruji, istri Aruji Kartawinata, komandan Badan Kemanana Rakyat (BKR) Divisi III Jawa Barat yang kelak menjadi Divisi Siliwangi. Anggota Laswi beragam, dari gadis, ibu rumah tangga hingga janda, umumnya berusia 18 tahun ke atas.

Tuti Amir Kartabrata, 85 tahun, seorang anggota Laswi berujar, “Dorongan ikut Laswi bukan semata patriotisme tapi ikut-ikutan dan hura-hura bersama para gadis.” Tuti baru serius menjadi anggota Laswi setelah Sekutu mengancam akan membombardir Bandung.

Sebelum aksi bumi-hangus, Tuti dan Hermiati, kepala Brigade III Laswi, mendapat tugas meninjau tempat pengungsian di Ciparay dan Majalaya. Di bawah M3, Laswi diperintahkan mundur hingga jembatan Dayeuh Kolot, sebelum jembatan itu dihancurkan. Di bawah MP3, Laswi mendapat tugas menangani Dapur Perjuangan di seluruh sektor Bandung. Empat brigade Laswi diperbantukan ke dalam Batalion I sampai Batalion V untuk melaksanakan tugas dapur umum dan palang merah. Pusat dapur umum berada di Ciparay untuk mengurus para pejuang di garis depan Dayeuh Kolot.

Karena tenaga Laswi terkuras dan perlu pasukan cadangan, Yati Aruji pergi ke Yogyakarta untuk membentuk Laswi Yogyakarta. Setelah dilatih selama tiga bulan, 20-30 anggota Laswi Yogyakarta dikirim ke garis depan di Jawa Barat sembari membawa persediaan makanan.

“... membawa berpuluh-puluh besek lauk-pauk, antara lain telur, pindang/asin, keripik tempe, abon, dan dendeng untuk para pejuang di garis depan,” tulis Rien Soetirin, anggota Laswi Yogyakarta, “Satu-satunya Wanita Pengubur Jenazah” termuat dalam Seribu Wajah Wanita Pejuang dalam Kancah Revolusi 45 suntingan Irna H.N. Hadi Soewito.

Sekutu menyerang Ciparay, markas Laswi pindah ke Majalaya. Pada Agustus 1946, Sekutu kembali menyerang Majalaya, menewaskan empat orang: Siti Murwani, Siti Fatimah, Lala, dan Ida Mursida; sepuluh orang terluka.

Akhir 1946, Laswi pindah ke Tasikmalaya. Setelah M3 dilebur menjadi Resimen Tentara Perjuangan (RTP). Laswi masuk RTP bermarkas di Padayungan, Tasikmalaya. Setelah RTP dilebur menjadi TNI, anggota Laswi yang ingin melanjutkan sekolah dipersilakan kembali ke orangtua masing-masing. Sedangkan yang masih ingin melanjutkan perjuangan bergabung dalam Inspektorat Wanita Biro Perjuangan di Garut.

Sebagai akibat Perjanjian Renville, Divisi Siliwangi hijrah ke Yogyakarta pada Februari 1948. Anggota Laswi sebagian ikut hijrah. Sebagian lainnya melakukan tugas sosial di sekitar Bandung.

Di Yogyakarta, selama agresi militer Belanda kedua, anggota Laswi juga diperkenankan melanjutkan sekolah. Sementara anggota lainnya meneruskan tugas di dapur umum menyediakan makanan dan obat-obatan untuk para pejuang, baik di medan perang maupun di tahanan. Setelah pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949, anggota-anggota Laswi kembali ke masyarakat.

Selengkapnya baca di majalah Historia No. 1 Tahun I 2012 edisi “Srikandi Revolusi”

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Korps Wanita Tentara Indonesia sesudah reorganisasi tahun 1948 secara resmi menjadi bagian dari tentara.
Foto
Korps Wanita Tentara Indonesia sesudah reorganisasi tahun 1948 secara resmi menjadi bagian dari tentara.
Foto