Pilih Bahasa: Indonesia

Palu Arit ala PKI dan PRD

Tak terima dituduh sebagai musuh penyebar kekacauan dan kebingungan rakyat, PRD protes keras  pada PKI. Lambang boleh sama, tapi warna beda.
Historia
Historia
pengunjung
22.1k

LAMBANG komunis, palu-arit, bukan hanya milik Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam sejarah Indonesia, ada organisasi lain yang memiliki lambang sama dengan PKI. Karena itu pula perselisihan terjadi. Terlebih setelah ada selebaran berlambang palu-arit yang beredar di Jakarta.

Menindaklanjuti keberadaan selebaran itu, PKI membuat Maklumat No 1 yang disiarkan kantor berita Antara. Maklumat itu ditandatangani Ketua PKI Mr Moh Joesoeph dan A. Kasim. Isinya antara lain menyebutkan, “... bahwa Maklumat yang memakai Palu dan Arit yang telah disebarkan bukan berasal dari kami tetapi dari pihak musuh yang hendak mengacaukan dan membingungkan rakyat. Untuk mencegah kekacauan yang seperti itu, Maklumat yang akan kami sebarkan selanjutnya harus ada tandatangan dari Markas Besar Partai Komunis Indonesia,” demikian Maklumat PKI seperti dikutip dari Suara Rakyat, 7 November 1945.

Tuduhan adanya “pihak musuh yang hendak mengacaukan dan membingungkan rakyat” tentu saja membuat gerah Abdulrachman cum suis pendiri Persatoean Rakjat Djelata (PRD). Sebagai pendiri dari organisasi yang juga menggunakan lambang palu-arit dia merasa PRD perlu memberikan klarifikasi atas tuduhan PKI itu. Sama seperti PKI, PRD pun membuat Maklumat Nomor 1 yang juga disiarkan Siaran Kilat terbitan kantor berita Antara Surabaya pada 10 November 1945.

“Tentang surat-surat selebaran yang dimaksudkan oleh PKI, kami pun berpendapat bahwa itu datangnya dari pihak musuh. PRD belum pernah menyiarkan surat-surat sebaran yang memakai tanda seperti dimaksudkan oleh PKI. Tapi, kalau surat-surat dan keterangan-keterangan yang memakai tanda Palu dan Arit dan ditandatangani oleh dua orang pengurus PRD betul datangnya dari PRD,” demikian kata pendiri PRD melalui maklumat itu.

Selain itu, untuk menegaskan bahwa palu-arit milik PRD berbeda dari organisasi lain, PRD menjelaskan secara detail perbedaannya. “Agar masyarakat umum tidak salah paham, maka kami Pengurus Besar Persatoean Rakjat Djelata memberitahukan bahwa PRD yang baru didirikan pada 1 Oktober 1945 memiliki lencana Palu dan Arit di atas dasar Merah Putih dan dibelakangnya dibubuhi nomor yang sama dengan nomor pada tanda anggota.”

Beberapa nama pengurus PRD tak asing lagi di panggung politik republik. Antara lain Abdulrachman sebagai ketua, St. Dawanis sebagai ketua muda, dan M. Karnawidjaja sebagai penulis I (sekretaris). Dawanis kelak menjadi ketua Partai Rakjat Djelata yang didirikan Tan Malaka pada 8 November 1945.

Kedekatan Dawanis dengan Tan Malaka sudah diduga sebelumnya, sebagaimana diberitakan suratkabar Pandji Ra’jat, 23 September 1947. Disebutkan, ada beberapa orang di dalam Persatoean Rakjat Djelata yang berasal dari Partai Republik Indonesia (PARI) bentukan Tan Malaka pada 1 Juni 1927 di Bangkok, Muangthai. “Ada yang mau menyelundupkan Partai Republik Indonesia (PARI) ke dalam PRD,” tulis Pandji Ra’jat, 23 September 1947.

Pada perkembangan selanjutnya, Partai Rakjat Djelata (PRD) melebur dengan Murba. Sementara Persatoean Rakjat Djelata (PRD) tak jelas rimbanya. Yang pasti, baik PRD-partai dengan PRD-persatoean sama-sama memusuhi PKI walaupun lambangnya sama. Apalagi Tan Malaka, sebagai tokoh di balik organisasi itu, telah menyatakan diri keluar dari PKI sejak 1926 dan menjadi musuh PKI. Pada 1955, Murba dan PRD terdaftar sebagai kontestan pemilu.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Historia
Historia