Pilih Bahasa: Indonesia

Orde Baru Ditengarai Akan Bangkit Lagi

Aktivis 1998 mengingatkan kembali bahaya kebangkitan Orde Baru.
Pameran
foto
Historia
pengunjung
11.5k

19 tahun lalu, petang hari di bulan November. Ribuan mahasiswa yang akan menuju gedung DPR/MPR terhadang barikade aparat keamanan di depan gedung Manggala Wanabakti, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Lobi mahasiswa gagal. Situasi pun ricuh. Tentara menampilkan taringnya.

Fendy Magni, mantan aktivis Forum Kota (Forkot), menunjukkan foto peristiwa tersebut yang dipajang dalam pameran foto refleksi gerakan mahasiswa-Reformasi tahun 1998 melawan kebangkitan Orde Baru di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 9 Mei 2017.

“Ini salah satu yang menurut pengalaman saya paling brutal. Waktu itu kami dihajar dulu pakai pasukan berkuda. Setelah massa babak belur, masih ditimpa pakai water cannon. Foto ini seingat saya tanggal 12 November 1998, sehari sebelum penembakan Semanggi I,” terang Fendy yang juga ketua panitia pameran kepada Historia.

Korban di kalangan mahasiswa berjatuhan. Meski demikian, perlawanan tak surut karena dukungan dari segenap elemen mahasiswa dan masyarakat.

“Saya bersama kawan dari UKI (Universitas Kristen Indonesia) mengerahkan ambulan butut dari kampus. Di tengah bentrok itu, kami menjahit luka yang diderita kawan-kawan mahasiswa lain. Pokoknya saat itu, membantu dengan apa yang kami bisa,” papar Arnold, mantan mahasiswa Fakultas Kedokteran UKI yang kini berprofesi sebagai dokter.

Pameran sekira 500 foto aksi mahasiswa di seputar kejatuhan Soeharto ini digelar oleh Persatuan Nasional Aktivis 1998. “300-an di antaranya adalah koleksi dari kawan kami di Forkot yang bernama Firman. Lalu dipadu dengan 79 buah karya pewarta foto lain, dan beberapa kliping berita seputar peristiwa 1998,” ujar Fendy.

Tujuan utama pameran foto ini, kata Fendy, sebagai penyadaran kembali bahwa cita-cita Reformasi sudah melenceng. Bahkan, dia menengarai Orde Baru akan bangkit kembali.

“8 bulan terakhir, Orba ini diam-diam eksis, baik melalui keluarga atau kroninya. Bayangkan, salah satu anak Soeharto lantang bilang membela Islam. Nah, tahun 1984, bapaknya, Soeharto, malah membunuhi umat Islam. Peristiwa seperti Tanjung Priok ini kami refleksikan melalui karya instalasi,” imbuh Fendy.

Selain foto dan kliping berita, pameran juga dilengkapi oleh instalasi seni berwujud manekin-manekin dengan baluran warna merah dan beberapa nisan kayu yang bertuliskan Tanjung Priok 1984, Kedung Ombo, serta beberapa kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Orde Baru di bawah Soeharto.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 36 Tahun III
Masa Lalu Partai NU
Salah satu organisasi muslim terbesar di negeri ini yang menjadi rebutan untuk mendulang suara pemilih muslim adalah Nahdlatul Ulama (NU)...
 
Pameran
foto
Pameran
foto