Pilih Bahasa: Indonesia

Orang Semarang Melawan Jepang

Rebutan senjata memicu orang-orang Semarang perang melawan Jepang.
 
Presiden Sukarno meresmikan Tugu Muda pada 20 Mei 1953. Monumen ini untuk memperingati Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Foto
Historia
pengunjung
2.1k

BERITA proklamasi kemerdekaan Indonesia menyulut euforia para pemuda di Semarang, Jawa Tengah. Mereka segera menguasai instalasi-instalasi sipil. Mr. Wongsonegoro, residen Semarang yang kemudian ditunjuk sebagai gubernur Jawa Tengah, berupaya menjembatani tuntutan pemuda dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) untuk melucuti senjata tentara Jepang.

Negosiasi berjalan lancar setelah Mayjen Nakamura Junji, panglima Tentara ke-16 Angkatan Darat Jepang di Jawa Tengah yang bermarkas di Magelang, mendapat restu dari Markas Besar Tentara ke-16 di Jakarta. Nakamura mengeluarkan perintah untuk menyerahkan senjata beserta amunisi.

Hambatan datang dari Kido Butai, pasukan elite Jepang yang dipimpin Mayor Kido Shinishiro dan bermarkas di Jatingaleh. Mereka menolak menyerahkan senjata dan tetap berjaga di barak mereka di Jatingaleh. Bahkan Kido menghubungi kesatuan-kesatuan lain, seperti di Sumowono dan Ambarawa, agar bergabung guna memperkuat pertahanan Semarang.

Para pemuda tak mengendurkan tuntutan mereka. Pada 12 Oktober 1945, mereka mendatangi markas Kido Butai. Tak ada kesepakatan dari perundingan itu. Sementara itu, serdadu-serdadu Jepang memperkuat pertahanan, dan pada pukul 9 malam menembaki para pemuda.

“Jepang juga melakukan sweeping ke seluruh kota,” kata Supriya Priyanto, sejarawan Universitas Diponegoro, Semarang.

Para pemuda melawan. Tembak-menembak terjadi di penjuru kota.

Tewasnya dr. Kariadi

Pada 12 Oktober 1945 petang, masyarakat Semarang resah mendengar desas-desus Jepang meracun tandon air Siranda, Candi Baru. Dr. Kariadi, kepala laboratorium Rumah Sakit Purusara (kini, Rumah Sakit Kariadi), terpanggil untuk membuktikan kebenarannya. Dia mendatangi lokasi untuk mengambil sampel untuk diteliti di laboratorium. Ketika melewati Jalan Pandaran, dia dan sopirnya ditembak tentara Jepang. Dia segera dilarikan ke rumah sakit, namun tak tertolong karena lukanya sangat parah.

Berita terbunuhnya dr. Kariadi berembus ke seantero kota. Para pemuda-pejuang marah. Tanggal 13 Oktober 1945 malam, para pemuda menghelat konferensi pemuda se-Jawa Tengah dan mengambil keputusan: kekuatan perjuangan harus menyerang Jepang sebagai balas dendam.

“Paling gampang, balas dendam ke Penjara Bulu,” ujar Priyanto.

Di Penjara Bulu dan bekas asrama Sekolah Pelayaran di Jalan Pandanaran terdapat 300-an warga sipil Jepang yang baru dipindahkan dari pabrik baja Cepiring, Kendal. Sebagian melarikan diri ketika dipindahkan dan bergabung dengan markas Kempeitai di Candi Lama dan markas Kido Butai di Jatingaleh.

Pada tanggal 14 malam, para pemuda menyerbu Penjara Bulu dan membunuh tahanan-tahanan Jepang. Sementara di bekas asrama Sekolah Pelayaran, para pemuda mendapati perlawanan. “Karena penjaga di sini pemuda, kan sok-sokan, memperlakukan tahanan seenaknya. Lha, tawanan ini berontak,” lanjut Priyanto.

Menurut Han Bing Siong, ahli sejarah pidana Universitas Indonesia, dalam “The Secret of Major Kido: The Battle of Semarang, 15-19 October 1945”, dimuat Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 152, 3de Afl. (1996), perlawanan tahanan Jepang itu sudah direncanakan, bukan spontan. Anak buah Kido telah menginformasikan kepada mereka sehari sebelumnya bahwa Kido Butai akan menyerang pusat kota. Beberapa pistol yang digunakan beberapa tawanan membuktikan ada anak buah Kido yang menyusup.

Jalannya Pertempuran

Menjelang subuh 15 Oktober 1945, pasukan Kido Butai menyerbu kota. Dalam waktu kurang dari satu jam, mereka menguasai wilayah Candi Baru. Pertempuran meletus terutama di sekitar tempat Tugu Muda sekarang berdiri. Hotel Du Pavillion (kini Hotel Dibya Puri), dekat markas milisi Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI), juga menjadi ajang baku-tembak.

Kalah persenjataan dan pengalaman, kekuatan bersenjata di Semarang memilih mundur dan masuk kampung. Mereka terdiri dari BKR Darat, BKR Laut, dan BKR Udara, pasukan Tjadangan Ronggolawe (pasukan pelajar yang diberdayakan Divisi Ronggolawe), dan laskar-laskar seperti AMRI di bawah Bambang Soeprapto. Pasukan Jepang, yang kemudian didukung Kempeitai dan milisi, melakukan razia ke kampung-kampung.

“Pemuda-pemuda dari daerah-daerah dan kampung-kampung membentuk perlawanan sendiri-sendiri ketika pasukan Jepang menyerang kampung-kampung mereka,” tulis Hartono Kasmadi dalam Monumen Perjuangan Jawa Tengah.

Beberapa pasukan menyelinap untuk merampas senjata-senjata Jepang. Batalyon Muharto, Erlangga, dan Sudaryono setelah masuk kota berpencar ke Pendrikan dan Pandean Lamper untuk mencari sasaran. Sementara para pemuda dan pelajar menyasar, membunuh, dan mengambil harta benda orang-orang Jepang.

Para pejuang di kota-kota lain segera mengirim bantuan. Dari tenggara dan selatan, bantuan datang dari Purwodadi, Solo, Magelang, Salatiga, Ambarawa, Banyumas, dan Yogyakarta. Dari Yogyakarta, misalnya, pasukan Yon X Soeharto datang dan bertempur di front Pandeanlamper. Sementara pasukan dari Resimen 21 dan Resimen 22, yang merupakan pasukan Istimewa, menempati bagian tenggara kota.

Berita penawanan Mayjen Nakamura membuat Kido kian beringas. Mereka menyerbu kantor gubernur dan menahan Wongsonegoro.

Perundingan gencatan senjata pun dihelat, termasuk melibatkan utusan pemerintah pusat di Jakarta. Tapi pertempuran terus berlangsung hingga 19 Oktober 1945 sehingga disebut dengan Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Pertempuran baru berhenti tak lama setelah kedatangan pasukan 3/10th Gurkha Rifles di bawah komando Letkol Edwardes pada 19 Oktober 1945. Pertempuran ini menewskan 187 tentara plus 600-an sipil Jepang dan 2000-an pejuang Indonesia.

“Ini adalah insiden paling berdarah dalam tahap awal perang kemerdekaan dan menunjukkan posisi rumit Jepang setelah kekalahan mereka,” tulis Ken'ichi Goto dalam Tensions of Empire: Japan and Southeast Asia in the Colonial and Postcolonial World.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Presiden Sukarno meresmikan Tugu Muda pada 20 Mei 1953. Monumen ini untuk memperingati Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Foto
Presiden Sukarno meresmikan Tugu Muda pada 20 Mei 1953. Monumen ini untuk memperingati Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Foto