Pilih Bahasa: Indonesia
Tragedi Rengat (2)

Merawat Ingatan Rengat

Pembantaian Rengat terlupakan di negeri Belanda. Peristiwa berdarah itupun tak bergaung di Indonesia. Ia hanya menjadi kisah turun temurun bagi rakyat setempat.
 
Prasasti yang berisi nama-nama korban pembantaian di Rengat dan kegiatan tabur bunga memperingati kejadian tersebut.
Foto
Historia
pengunjung
3.7k

Alunan musik dan drum mengiringi seremoni tabur bunga di Sungai Rengat, Riau, 5 Januari 2016. Hari itu, warga setempat mengenang peristiwa berdarah 67 tahun yang lalu: pembantaian tentara Belanda terhadap rakyat Rengat. Di sana terdapat pula sebuah batu nisan yang mengukir 186 nama korban pembantaian.

“Sumber Indonesia dan saksi sejarah yang masih ada menyebut sebanyak 1500 sampai 2000 kematian warga sipil yang turut meliputi perempuan dan anak-anak,” ujar Anne Lot-Hoek, sejarawan Universitas Amsterdam, dalam korespondensi dengan Historia.

Berapa jumlah korban dalam operasi militer Belanda di Rengat saat ini masih dalam perdebatan. Sumber-sumber Indonesia yang berasal dari penuturan lisan dan kesaksian menyebut hampir 2.000 orang meregang nyawa. Sementara dokumentasi Belanda dalam Memorandum Excessennota (Nota Ekses) tahun 1969 meyakini keseluruhan korban berjumlah 80 orang. Angka ini didapat dari hasil penyelidikan pemerintah sipil Belanda melalui Karesidenan Riau.

“Kendati demikian, cerita kekerasan ini tak menemukan tempat dalam memori nasional kedua negara,” kata Anne Lot.

Anne, yang juga jurnalis Nieuwe Rotterdamsche Courant (NRC), secara khusus meneliti Tragedi Rengat. Sebelum berkunjung ke Sumatera meliput peringatan Tragedi Rengat pada Januari tahun lalu, Anne lebih dulu mendatangi Arsip Nasional Belanda di Den Haag. Laporan Excessennota menyatakan bahwa pemerintah Belanda bukan tak menyadari ini sebagai kejahatan kemanusiaan.

Pihak militer Belanda bahkan ikut menginvestigasi. Perintah ini atas instruksi Jenderal Simon Spoor, panglima angkatan perang Belanda di Indonesia. Spoor agaknya terganggu mendengar desas-desus yang santer tentang aksi tak manusiawi anak buahnya di Rengat. Berita acara pemeriksaan memuat 22 pengakuan warga Indonesia asal Kampung Sekip. Fakta-fakta yang dikumpulkan tim polisi militer arahan Jan-Willem Huizinga dan Lambert de Lange pada Juni 1949 mengurai kesadisan.

Dalam mingguan NRC, 13-14 Februari 2016, Anne Lot menyisipkan beberapa kisah. Seorang perempuan berusia 40 tahun bernama Waitem bersaksi, suaminya tewas dalam penyergapan sedangkan putrinya yang berusia 24 tahun diperkosa. Waitem sendiri dimasukkan ke ruangan lain sementara seorang prajurit mulai menanggalkan pakaiannya.

Kesaksian lain mengungkap seorang pria yang bersembunyi di lubang tepi sungai bersama putrinya berusia 16 tahun. Putrinya yang tengah hamil tewas seketika tatkala peluru dari pasukan Korps Speciale Troepen (KST) menembus dahinya. Setengah jam kemudian, dia mendapati rumahnya tengah dijarah.

Laporan tersebut juga mengungkap potret pilu di Rengat: perempuan yang terbunuh bersama bayi dalam dekapan lengannya; seorang ayah yang tewas bersama tiga putranya; cerita para warga yang terpaksa membuang mayat ke Sungai Indragiri.

“Namun, tak ada tindak lanjut penyelidikan militer ini. Memorandum pada Excessennota bahkan tak menyebutkan laporan saksi mata,” ujar Anne.

Besar kemungkinan pemerintah Belanda mengganggap banjir darah di Rengat sebagai “pembunuhan di antara sesama orang Indonesia”. Hal ini mengacu pada banyaknya tentara beretnis Ambon dalam kesatuan KST yang ikut terjun dalam operasi militer ke Rengat. Selain itu, memasuki paruh kedua 1949, kedudukan Belanda secara diplomatik kian terdesak untuk segera melepaskan Indonesia. Sehingga urusan kejahatan perang dibiarkan mengambang atau disembunyikan.

Sementara itu, tak banyak penduduk Rengat berani bersuara mengingat keganasan dan kekhawatiran pembalasan dari tentara Belanda yang masih berjaga. Dari waktu ke waktu peristiwa 5 Januari 1949 hanya menjadi konsumsi lokal. Namun memori itu bukan untuk dilupakan. Setelah Republik berdaulat, masyarakat setempat mengganti nama Kampung Sekip menjadi Sekip Sipayung. Ini mengacu pada kata payung yang bermakna penerjun payung “berdarah” Belanda tatkala menjejakkan kaki dan menoreh noda kelam di tanah itu.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Komentar anda
Prasasti yang berisi nama-nama korban pembantaian di Rengat dan kegiatan tabur bunga memperingati kejadian tersebut.
Foto
Prasasti yang berisi nama-nama korban pembantaian di Rengat dan kegiatan tabur bunga memperingati kejadian tersebut.
Foto