Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Menjaring Tenaga Ahli Asing

Belakangan ini beredar kabar serbuan tenaga kerja asing ke Indonesia. Bagaimana kisah tenaga kerja asing di Indonesia pada masa lalu?
Dr. Menne menerima kunjungan dari Menteri Kesehatan Abdul Azis.
Foto
Historia
pengunjung
2.5k

USAI menyelesaikan studi kedokteran, Bruno F.M. Menne bekerja di klinik almamaternya, Universitas Freinburg, tanpa bayaran. Istrinya, Gertrud Menne, terpaksa mencari nafkah. Jerman pascaperang menghadapi masalah kesulitan ekonomi. Maka, ketika mendengar bahwa Indonesia membutuhkan banyak tenaga dokter, mereka mengambil kesempatan ini.

Pada September 1955, dari Rotterdam, mereka berlayar menuju Indonesia. “Kami menghabiskan waktu dua setengah bulan di perjalanan, dengan anak berusia enam tahun dan bayi,” ujar Gertrud Menne, dimuat suedkurier.de, sebuah media online di Jerman, 14 Mei 2008. “Tak ada kamus, tak ada penerjemah, tak ada sama sekali.”

Dr. Menne ditempatkan di Kalimantan; mula-mula di Sampit (Kalimantan Tengah) lalu Martapura (Kalimantan Selatan). Dr. Menne bukan hanya menangani pasien di rumah sakit pusat tapi juga puluhan klinik. Yang terjauh hanya bisa dicapai dengan menyusuri sungai dan hutan Kalimantan selama dua minggu.

“Dia satu-satunya dokter untuk daerah seluas Swiss.”

Ada banyak dokter asing yang bekerja di Indonesia pada 1950-an. Kedatangan mereka tak lepas dari upaya pemerintah Indonesiamengisi kelangkaan dokter. Hal yang sama berlaku untuk tenaga ahli bidang lainnya.

Rekrutmen

Setelah Indonesia merdeka, banyak warga Belanda memilih meninggalkan Indonesia. Dampaknya, Indonesia kekurangan tenaga dokter, insinyur, administrator terlatih, hingga teknisi. Beberapa pegawai Belanda memang masih di posisinya. Tapi siapa yang bisa menjamin mereka bertahan sementara sentimen anti-Belanda terus menguat?

Maka, pada 1950, Kantor Urusan Pegawai –kini, Badan Kepegawaian Negara (BKN)– membentuk Panitia Urusan Tenaga Ahli Bangsa Asing (PUTABA) untuk mencari dan merekrut tenaga-tenaga ahli asing yang akan bekerja di jawatan-jawatan pemerintah.

“Mereka dengan demikian akan bekerja di bawah bos Indonesia dan dengan rekan-rekan dan bawahan Indonesia,” tulis Farabi Fakih dalam disertasinya di Universitas Leiden bertajuk “The Rise of the Managerial State in Indonesia”.

Setelah mempelajari dan mensurvey berbagai kementerian, PUTABA menaksir kebutuhannya: 1.700-2.000 tenaga ahli!

Pada Juni 1950, PUTABA mengirim sebuah tim untuk berkunjung ke sejumlah negara Eropa: Belanda, Jerman, Austria, Swiss, Swedia, dan Denmark. Selama di sana, tim tersebut menjalin hubungan dengan pemerintah/serikat/organisasi ahli setempat, mengunjungi para pembesar, menyebarkan informasi melalui media, serta memasang iklan lowongan.

Penguasaan bahasa Inggris, Jerman, Belanda atau Indonesia menjadi salah satu syarat pelamar diterima. “Bahasa Prancis dan Italia tidak disebut. Tetapi walaupun demikian beberapa tenaga yang berasal dari negara-negara tersebut diterima juga. Syarat mutlak yang harus tetap dipenuhi ialah bahwa mereka harus dapat memakai salah satu bahasa yang diuraikan di atas,” tulis Dunia Internasional, Vol. 3, tahun 1952.

Syarat lainnya, para pelamar harus memiliki enam sampai delapan tahun pengalaman kerja dan berumur 30-45 tahun.

Untuk memperlancar rekrutmen, kantor PUTABA dibuka di Den Haag, Belanda.

Menurut W. Petersen, biro tenaga kerja di Den Haag bermaksud merekrut sekira 2.000 tenaga ahli, sebagian besar warga Belanda. Kontrak tiga tahun ditawarkan kepada 400 dokter, 200 insinyur, 200 ahli pelayaran, 30 profesor dari berbagai mata kuliah serta banyak guru sekolah menengah dan sekolah dagang, dan dalam jumlah lebih kecil ekonom, akuntan, teknisi tekstil, geolog, sosiolog, ahli statistik.

“Kriteria seleksi bukan hanya mencakup kompetensi pelamar di bidang mereka tetapi sikap mereka terhadap kemerdekaan Indonesia dan semua ini menyiratkan status orang-orang kulit putih di sana,” tulis W. Petersen dalam Some Factors Influencing Postwar Emigration from the Netherlands.

“Co” (cooperatif) dan “non-co” memang menjadi isu hangat di Indonesia, yang ditujukan kepada pegawai-pegawai Belanda. Tak heran jika, sebelum pelamar diterima, PUTABA mengumpulkan referensi dari pihak ketiga, termasuk aliran atau sikap politik si pelamar, sebagai bahan pertimbangan.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Dr. Menne menerima kunjungan dari Menteri Kesehatan Abdul Azis.
Foto
Dr. Menne menerima kunjungan dari Menteri Kesehatan Abdul Azis.
Foto