Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Meniti Jalan Nasionalisasi

Upaya mewujudkan ekonomi nasional, yang lepas dari ekonomi kolonial, dijalankan bahkan setelah Indonesia merdeka. Nasionalisasi kemudian jadi pilihan.
Historia
Historia
pengunjung
2.7k

LAMPU di rumah Jalan Pegangsaan Timur No 56 masih menyala. Malam itu, 2 Desember 1957, para pemimpin kelompok fungsional, gabungan dari front-front atau badan-badan kerjasama sipil dan militer bentukan Angkatan Darat, beradu argumen tentang rencana aksi nasionalisasi semua kepentingan Belanda di Indonesia.

Pertemuan berjalan alot sehingga malam berlalu tanpa kesepakatan. Sebelum fajar merekah, Abdul Majid Datuk, pemimpin Kesatuan Buruh Kebangsaan Indonesia (KBKI) yang berafiliasi dengan Partai Nasional Indonesia (PNI), berinisatif menandatangani instruksi yang sudah disiapkan. Kurang dari sejam, dia membuat panggilan telepon ke seksi KBKI di Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), perusahaan pelayaran milik Belanda.

Segera kaum buruh KBKI beraksi. Serikat-serikat buruh lainnya melakukan aksi serupa.

Pengambilalihan perusahaan-perusahaan Belanda tak bisa dilepaskan dari kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB). Demi mengamankan kepentingan ekonominya, delegasi Belanda menolak pemberian konsesi apapun dalam masalah keuangan dan ekonomi.

“Sebagai imbalannya, Belanda siap memberikan konsesi-konsesi politik,” tulis Thee Kian Wie dalam pengantar Pelaku Berkisah. Konsesi politik yang terpenting adalah pengakuan kedaulatan Indonesia, minus Irian Barat.

Salah satu hasil KMB adalah Persetujuan Keuangan-Ekonomi (Financieel-Economische Overeenkomst/Finec). Antara lain menyebutkan pemerintah Indonesia menjamin keberlangsungan kegiatan bisnis Belanda di Indonesia. Nasionalisasi diizinkan hanya bila perusahaan itu dipandang sebagai kepentingan nasional Indonesia dan bila perusahaan itu menyetujuinya.

Kendati merugikan, kesepakatan itu ditandatangani delegasi Indonesia demi mengamankan pengakuan kedaulatan dari Belanda. Dan sesuai persetujuan Finec, perusahaan-perusahaan dan perkebunan Belanda yang diambilalih pada masa revolusi dikembalikan dan diizinkan beroperasi tanpa rintangan.

Lebih lengkap mengenai sejarah nasionalisasi perusahaan asing di majalah Historia No. 30 Tahun III 2016

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Historia
Historia