Pilih Bahasa: Indonesia
MEDIA 2

Mengasong Sastra Jawa

Nafas panjang Panjebar Semangat tak bisa lepas dari kreativitas para penulis sastra yang rutin mengirimkan naskah.
Historia
Historia
pengunjung
5.4k

SEBAGIAN menjadi legenda. Sebut saja Any Asmara, Esmiet, Widi Widayat, dan Satim Kadaryono. Bahkan Imam Soepardi adalah penulis novel Kintamani yang pernah tersohor di kalangan pembaca sastra berbahasa Jawa.

Suparto Brata, 80 tahun, masih ingat ketika tahun 1958 dia mengirimkan naskah cerita “Lara Lapane Kaum Republik” ke sayembara menulis cerbung di Panjebar Semangat. Tak disangka, dia menang. Mulailah dia rutin menulis cerita sastra Jawa.

Karya-karya Suparto umumnya cerita detektif. Terlihat dari beberapa karyanya. Sebut saja novel Tanpa Tlatjak atau Garuda Putih. “Pernah ada yang bilang, tulisan saya jadi genre baru dalam sastra Jawa modern. Soalnya waktu itu cerita detektif itu tidak umum,” ujarnya di kediamannya Jalan Rungkut Asri III No 12, Surabaya.

Karena dedikasinya dalam sastra Jawa, namanya tercatat dalam Five Thousand Personalities of the World Sixth Edition, 1988, terbitan The American Biographical Institute. Dia juga menerima Sea Write Award dari Ratu Sirikit di Thailand selain tiga kali meraih Hadiah Sastra Rancage, penghargaan untuk orang-orang yang dianggap berjasa dalam pengembangan bahasa dan sastra daerah.

Seperti halnya Suparto, Nyai Karmiasih Soemardi Sastro Oetomo, 81 tahun, yang oleh pembaca setia lebih dikenal dengan nama pena Mbah Brintik, juga menghasilkan ratusan cerita. Sebagian besar diterbitkan Panjebar Semangat dan bertema roman percintaan. “Saya seperti keluarga saja kalau sama Panjebar Semangat. Saking banyaknya (cerita) yang dimuat,” ujarnya di kediamannya Jalan Penarukan 31, Kepanjen, Kabupaten Malang.

Suparto dan Mbah Brintik sepakat sastra Jawa kini mengalami masa-masa sulit. Jumlah penutur bahasa Jawa bejibun namun buku sastra Jawa tak laku di pasaran. “Jadi saya simpulkan, sastra Jawa itu sastra majalah,” kata Suparto, “tak laku dibaca kalau tak dititipkan di majalah.”

Mbah Brintik sependapat dengan koleganya. “Benar juga kalau dibilang sastra majalah. Tapi rasa-rasanya sudah jadi sastra asongan. Soalnya tawarkan ke sana ke mari ndak laku-laku.”

Keduanya hingga kini masih menulis. Suparto bahkan masih aktif ngeblog dengan akun supartobrata.com. Meski sudah berusia senja, keduanya bilang inspirasi menulis masih deras mengalir. Tak takut buku-bukunya tak laku? “Tak apa-apa tak laku. Yang penting saya sudah bikin warisan,” ujar Mbah Brintik.

Yang melegakan, kini muncul penulis-penulis muda. Salah satunya Bambang Purmianto, seorang guru muda di Wonogiri yang kerap mengirim cerita pendek ke Panjebar Semangat. Bambang bercerita sejak kecil sudah membaca majalah ini karena ayahnya, seorang dalang wayang kulit, berlangganan.

Cerita-cerita yang ditulis Bambang dipengaruhi lingkungan keluarganya. Sebagai seorang dalang, ayahnya memperkenalkan wayang sejak dia kecil. “Memang dari wayang pula saya banyak dapat inspirasi menulis,” ujarnya.

Lulus dari Universitas Veteran Bangun Nusantara pada 2002, Bambang menjadi guru SMP PGRI Ngadirojo, Wonogiri. Dia mengajar mata pelajaran Basa Jawa. Ketika mengajar, dia sering mengenalkan Panjebar Semangat kepada murid-muridnya. “Kadang murid-murid saya beri tugas bikin kliping artikel berbahasa Jawa. Saya kasih referensinya, ya ambil ke Panjebar Semangat,” ujarnya.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Historia
Historia