Pilih Bahasa: Indonesia

Memvisualisasikan Jejak Boedi Oetomo

Arsip-arsip Boedi Oetomo dipamerkan. Lintasan sejarahnya divisualisasikan supaya anak muda mau belajar sejarah.
Ki-ka: K.J.P.F.M. Charles Jeurgens (direktur Arsip Nasional Belanda), W. Wouter Plump (wakil dutabesar Belanda untuk Indonesia), Pramono Anung Wibowo (wakil ketua DPR RI), dan Bonnie Triyana (kurator dan pemimpin redaksi majalah historia).
Foto
Historia
pengunjung
3.9k

SEJARAH Boedi Oetomo penting untuk dipelajari karena ia merupakan bagian dari rangkaian sejarah panjang kebangkitan Indonesia.

Demikian sambutan Pramono Anung Wibowo, wakil ketua DPR RI, dalam pembukaan pameran Arsip Boedi Oetomo di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Jalan Gajah Mada No. 111 Jakarta Barat, pada 21 Agustus 2014.

“Dalam konteks kekinian, harapannya dengan mengetahui sejarah akan membangun optimisme bangsa Indonesia,” kata Pramono. “Sebab di manapun, tidak mungkin tiba-tiba sebuah negara menjadi maju. Pasti ada akar sejarah yang kuat di dalamnya.”

Pameran ini menyajikan arsip-arsip Boedi Oetomo. Lintasan sejarahnya dikemas secara visual: dari benih kelahirannya pada 1907, dinamika organisasi antara priayi tinggi dan rendahan, dukungan terhadap usul milisi bumiputera (Indie Werbaar) dan Dewan Rakyat (Volksraad), transformasi dari moderat ke radikal, tuntutan Indonesia merdeka, hingga penyatuannya dalam Partai Indonesia Raya (Parindra) pada 1935.

“Boedi Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 merupakan sebuah organisasi yang pada dasarnya tidak berpolitik, dan lebih mengutamakan pada budaya dan pendidikan,” ujar Mustari Irawan, kepala ANRI.

Menurut kurator sekaligus pemimpin redaksi majalah Historia, Bonnie Triyana, pameran ini mencoba mengelaborasikan ide bagaimana supaya anak muda mau belajar sejarah.

“Karena itulah kami, bersama dengan tim Arsip Nasional Republik Indonesia dan kantor Arsip Nasional Belanda, mempraktikkan konsep visual untuk menjelaskan peristiwa sejarah di seputar Boedi Oetomo,” kata Bonnie.

K.J.P.F.M. Charles Jeurgens, direktur Arsip Nasional Belanda, meyakini bahwa konsep visual sebagai sarana penyampaian sejarah kepada publik menjadi sesuatu yang semakin penting di masa kini. “Masa lalu memang harus terbuka dan dibicarakan, bukan ditutup rapat-rapat. Akan sangat berbahaya jika sejarah dilupakan begitu saja,” ujarnya.

Pameran sejarah Boedi Oetomo ini, kata W. Wouter Plump, wakil dutabesar Belanda untuk Indonesia, menunjukkan bahwa Indonesia dengan Belanda tidak hanya saling berbagi sejarah, tetapi juga berbagi masa depan.

“Kami berharap acara semacam ini akan semakin mempererat hubungan persahabatan di antara kita,” tutur Wouter Plump.

Pameran Arsip Boedi Oetomo 2014 ini hasil kerja bareng ANRI, Arsip Nasional Belanda, Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis, dan majalah Historia. Pameran berlangsung dari 21-30 Agustus 2014, mulai pukul 09.00-17.00 WIB, terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Ki-ka: K.J.P.F.M. Charles Jeurgens (direktur Arsip Nasional Belanda), W. Wouter Plump (wakil dutabesar Belanda untuk Indonesia), Pramono Anung Wibowo (wakil ketua DPR RI), dan Bonnie Triyana (kurator dan pemimpin redaksi majalah historia).
Foto
Ki-ka: K.J.P.F.M. Charles Jeurgens (direktur Arsip Nasional Belanda), W. Wouter Plump (wakil dutabesar Belanda untuk Indonesia), Pramono Anung Wibowo (wakil ketua DPR RI), dan Bonnie Triyana (kurator dan pemimpin redaksi majalah historia).
Foto