Pilih Bahasa: Indonesia
Tragedi Prambonwetan (2)

Maut Bernyanyi di Tepi Bengawan Solo

Sehari setelah peristiwa penghadangan satu regu marinir, Prambonwetan menjadi ajang aksi balas dendam pihak militer Belanda.
 
J.A. Soetjipto, dengan latar belakang desa Prambonwetan.
Foto
Historia
pengunjung
4.7k

Senja sebentar lagi tiba di desa Prambonwetan, Tuban. Di tepi sungai Bengawan Solo, J.A.Soetjipto (81) berdiri mematung. Matanya menyapu hamparan luas air di depannya. “Hampir enampuluh delapan tahun lalu, saya pernah menyebrangi sungai ini dengan membawa ibu dan adik-adik perempuan saya untuk pergi mengungsi ke desa di seberang sungai,”ujar eks anggota gerilyawan Indonesia di Prambonwetan itu kepada Historia.

Usai terjadinya pembunuhan dan penangkapan satu regu marinir Belanda oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Brigade Ronggolawe pada 23 Juli 1949, Prambonwetan dicekam ketakutan (baca: Tujuh Marinir Belanda Ditawan TNI).

Desas-desus bahwa desa di tepi sungai Bengawan Solo itu akan “dibersihkan” mulai menyebar. Sebagian warga menyeberang ke selatan Bengawan Solo malam itu juga. Sebagian lainnya memilih bertahan di lubang-lubang perlindungan yang mereka buat.

Benar saja. Besoknya, sekitar pukul 6 pagi, terdengar suara berdesing keras diakhiri desis mengerikan. Ledakan lantas terjadi di seantero desa. Prambonwetan dibombardir dengan ratusan peluru mortir dan peluru kanon yang menyebabkan pohon-pohon bertumbangan dan rumah-rumah hancur terbakar. Soejatmi termasuk yang saat itu lari ketakutan dan berlindung di satu lubang perlindungan milik keluarganya.

“Saya merasa takut sekali saat itu, rasanya dunia mau kiamat,” ujar perempuan kelahiran Prambonwetan 83 tahun lalu itu.

Selesai membombardir, ratusan tentara Belanda masuk ke Prambonwetan. Pembersihan dijalankan dengan melepaskan tembakan-tembakan membabibuta. Karena tak jua menemukan kawan-kawan mereka yang hilang, pasukan Belanda membakar puluhan rumah yang dicurigai sebagai basis para gerilayawan.

“Dari seberang Bengawan Solo, saya menyaksikan asap mengepul tanda desa saya sudah terbakar,” kata Soetjipto.

Begitu pasukan Belanda pergi, sekitar pukul 12 siang, orang-orang Prambonwetan yang menyingkir memberanikan diri untuk kembali. Sesampai di desa, mereka menemukan rumah-rumah sudah terbakar dan sanak saudaranya bergelimpangan menjadi mayat. Maut baru saja bernyanyi di desa tepi sungai Bengawan Solo tersebut.

“Saya sendiri menemukan adik kakek saya yang bernama Sariban sudah meninggal, lalu Pakde Samsi dan istrinya, juga kawan saya yang bernama Guntoro saya lihat terduduk di dekat kakus dengan lobang besar di dadanya,” ujar Soetjipto.

Menurut Lilik (74 tahun), Sakeman yang saat itu menjabat sebagai jurutulis desa sempat mencatat nama-nama korban dan jumlah rumah yang terbakar akibat operasi pembersihan tersebut. “Jumlah lengkapnya: 64 warga Prambonwetan tewas dan 54 rumah musnah terbakar,” kata Lilik, putra dari Suratni, eks kepala desa Prambonwetan pada 1949.

Dalam suratkabar NRC Handelsblad edisi 4 April 2015, jurnalis Marjolein van Pagee sempat mengkonfirmasi aksi balas dendam ini kepada sejumlah veteran militer Belanda yang bertugas di sekitar Prambonwetan pada tahun itu. Salah satunya Letnan Carel van Lookeren Campagne (90 tahun) yang saat itu ditugaskan mencari anggota patroli Teeken yang hilang.

Campagne mengatakan tak pernah mendengar adanya operasi pembersihan terhadap Prambonwetan. Namun dia menjelaskan bahwa kala itu emosi para prajurit memang sangat tinggi dan dorongan melakukan aksi balas dendam sangat besar. “Sulit sekali untuk tidak emosi saat itu, hingga untuk mencegahnya, berkali-kali saya meneriakkan kata-kata kasar kepada mereka,“ ujarnya.

Ben Ruerling (89), salah seorang marinir yang tertawan TNI, juga bilang tak tahu-menahu soal tersebut. Yang dia ingat, TNI memperlakukan mereka dengan baik selama penawanan. “Jika aksi balas dendam itu memang terjadi, tentunya saya secara pribadi sungguh-sungguh merasa malu,” kata satu-satunya eks tawanan yang masih hidup hingga kini.

Para eks serdadu Belanda bisa berkilah. Namun, setelah bertahun-tahun meneliti kasus ini, Marjolein sudah menunjukkan kebenaran kisah pembersihan Prambonwetan.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
J.A. Soetjipto, dengan latar belakang desa Prambonwetan.
Foto
J.A. Soetjipto, dengan latar belakang desa Prambonwetan.
Foto