Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 2

Maeda Pasang Badan Demi Kemerdekaan Indonesia

Meski penguasa di Jawa mematuhi peraturan Sekutu untuk menjaga status quo, Maeda ambil risiko mendukung kemerdekaan Indonesia.
 
Laksamana Tadashi Maeda.
Historia
pengunjung
16.6k

Menurut sejarawan Aiko Kurawasa, Maeda sejak awal bersimpati besar terhadap gerakan kemerdekaan Indonesia. Maeda sendiri berulangkali mengungkapkan hal itu. “Tahun 1944, saya membuka permohonan atau pendapat kepada Tokyo supaya memberi kesempatan (Indonesia –red.) untuk merdeka,” katanya ketika diwawancara sejarawan Abdoerahman Soerjomihardjo pada 1973. Selain permohonan kepada Tokyo, simpati itu antara lain dia wujudkan dengan mendirikan Asrama Indonesia Merdeka di Kebon Sirih. Maeda kerap berhubungan dengan Sukarno dan Hatta, dan kemudian juga para aktivis muda. “Jadi dia mendukung kemerdekaan atas dasar dirinya sendiri, bukan kebijakan angkatan laut atau pemerintah Tokyo,” ujar Aiko kepada Historia beberapa hari lalu.

Atas pemberitahuan dan izin Wikana selaku wakil pemuda yang menuclik Sukarno-Hatta, Subardjo lalu diperbolehkan menyusul Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Adanya jaminan keamanan atas Sukarno-Hatta dari Maeda membuat Subardjo akhirnya berhasil membawa kembali dwi-tunggal ke Jakarta setelah sebelumnya ditentang para pemuda di sana. Sekitar jam delapan malam, mereka tiba di Jakarta. Subardjo lalu menghubungi Hotel Des Indes di kawasan Harmoni untuk meminta tempat guna melanjutkan rapat PPKI yang batal dihelat paginya.

Namun, adanya larangan aktivitas setelah jam 10 malam membuat pihak hotel menolak permintaan Subardjo. Dia langsung menghubungi Maeda untuk meminjam rumahnya guna dijadikan tempat rapat. Maeda membolehkan. “Bagi saya, harus sekarang juga atau secepat mungkin kemerdekaan (harus diberikan, red.) kepada Indonesia,” ujar Maeda. Para peserta rapat PPKI yang menginap di Des Indes pun segera beranjak ke Nassau Boulevard (rumah Maeda).

Di rumah itu, Maeda dan Nishijima sejak petang terus menanti kedatangan Sukarno-Hatta.

Keduanya duduk di ruang tamu. Sekira pukul delapan, mereka berpisah. Nishijima ke serambi depan. “Maeda waktu itu ada di atas, di kamar tidurnya; selanjutnya hanya ada beberapa pembantu di bawah,” kenang Nishijima sebagaimana dimuat dalam buku BPUPKI, PPKI, Proklamasi Kemerdekaan RI. Baru sekira pukul 11 malam dua mobil memasuki halaman rumah Maeda. “Di antara mereka saya melihat Soekarni yang mengenakan seragam Peta dan membawa pedang opsir Jepang dan revolver. Lalu Soekarno, Hatta, dan Soebardjo keluar (mobil) dan mereka semua masuk,” ujar Nishijima.

Nishijima melanjutkan, saat banyak tamu masuk ke dalam dan diterima Maeda, dia memilih tetap di teras mendengarkan cerita Subardjo. Di tengah perbincangan, Tomegoro Yoshizumi tiba membawa para anggota PPKI yang akan rapat. Bersama Sukarni dan Sayuti Melik, Nishijima lalu ikut berkeliling guna menghentikan para pemuda yang sudah siap kudeta.

Maeda sendiri berinisiatif meminta kepala Gunseikanbu Mayjen Yamamoto hadir di rumahnya untuk membicarakan masa depan Indonesia. “Pemerintah yang tak dapat bergerak cepat membuat kami harus secepatnya membantu kemerdekaan (Indonesia –red.),” ujar Maeda. Inisiatif itu bertujuan selain agar Rikugun (Angkatan Darat) tahu kondisi genting saat itu, juga agar Rikugun dan Kaigun berbicara langsung dengan pemimpin Indonesia. Permintaan Maeda itu tak membuahkan hasil. Bersama Sukarno dan Hatta, dia lalu ke rumah Mayjen Nishimura. Hasilnya tak jauh beda. “Saya sudah berdiskusi dengan AD namun mereka cuci tangan. Oke, saya ambil risiko, ambil tekad, biarlah nanti jika salah saya siap dihukum,” ujar Maeda. Dia lalu meminta Kolonel Miyoshi datang dan berhasil.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Komentar anda
Laksamana Tadashi Maeda.
Laksamana Tadashi Maeda.