Pilih Bahasa: Indonesia

Kisah Sepasang Tegel Rumah Multatuli

Sepasang tegel itu berhasil diselamatkan ke Belanda dari reruntuhan rumah Multatuli di Rangkasbitung.
 
Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya dan Winnie Sorgdrager memperlihatkan sepasang tegel yang berasal dari rumah Multatuli di Rangkasbitung namun berhasil diselamatkan ke Belanda.
Historia
pengunjung
2.4k

LELAKI itu berambut pirang bersemu abu-abu, berkulit putih kecoklatan terbakar matahari dengan bola mata kebiru-biruan. Tak dinyana, berbeda dari penampilan fisiknya, lelakiitu menyambut tamu Indonesia yang datang ke Multatuli Huis dengan bahasa Indonesia yang fasih.

“Selamat datang, apa kabar?” kata lelaki itu.

Dialah Arjan Onderdenwijngaard, orang Belanda yang sudah lama bermukim di Depok, Jawa Barat. Selasa malam 26 April lalu, Arjan datang ke Multatuli Huis untuk ikut menghadiri acara serah terima koleksi Multatuli dari Perkumpulan Multatuli kepada warga Lebak yang diwakili oleh bupati Iti Octavia Jayabaya.

Salah satu artefak yang diserahkan kepada bupati adalah sebuah tegel berwarna putih. Tegel itu sepasang dengan tegel lain berwarna hitam yang akan disimpan di Multatuli Huis di Amsterdam. Dua tegel itu dimiliki oleh Arjan yang menemukannya di antara tumpukan puing-puing rumah Multatuli di Rangkasbitung.

Ceritanya bermula ketika dia berkunjung ke Rangkasbitung pada 1987 untuk melihat situs rumah Multatuli. Namun betapa terkejutnya Arjan ketika melihat rumah bersejarah itu sedang dibongkar dan banyak bagiannya dibuang begitu saja.

“Saya ambil tegel itu di tumpukan puing di tempat sampah. Sayang kan kalau dibuang. Untung saya ambil,” kata dia.

Arjan yang sudah lama bermukim di Depok itu datang ke Belanda untuk mengurus kepindahannya ke Indonesia. Datang ke acara di Multatuli Huis sembari membawa sepasang tegel sebagai bagian dari koleksi yang akan diserahkan kepada Multatuli Huis di Amsterdam dan Museum Multatuli di Rangkasbitung, Lebak.

“Saya namakan tegel ini ‘vuursteen’ atau batu api, lambang semangat Multatuli,” kata Arjan dalam pidatonya.

Di lokasi rumah Multatuli terkini tak ada lagi tegel tersisa. Bangunan yang ada hanyalah pondasi dan sebidang tembok bata. Lokasi rumah berada di belakang rumah sakit dan sulit untuk diakses oleh pengunjung.

Bukan saja Arjan yang berhasil menyimpan bagian rumah bersejarah itu. Sejarawan Dik van der Meulen, penulis biografi Multatuli juga menyimpan pecahan tegel dari rumah Multatuli.

Bersama dengan benda-benda bersejarah lainnya, tegel yang diserahkan oleh Arjan itu akan menjadi koleksi museum Multatuli dan Multatuli Huis. Winnie Sorgdrager, ketua Perkumpunan Multatuli mengatakan dua tegel itu simbol persaudaraan museum Multatuli di Rangkasbitung dengan Multatuli Huis di Amsterdam.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya dan Winnie Sorgdrager memperlihatkan sepasang tegel yang berasal dari rumah Multatuli di Rangkasbitung namun berhasil diselamatkan ke Belanda.
Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya dan Winnie Sorgdrager memperlihatkan sepasang tegel yang berasal dari rumah Multatuli di Rangkasbitung namun berhasil diselamatkan ke Belanda.