Pilih Bahasa: Indonesia

Kisah Jembatan Maut

Satu lagi saksi bisu kebrutalan militer Belanda di Indonesia
 
Jembatan maut Kali Progo
foto
Historia
pengunjung
5.6k

Temanggung, Jawa Tengah. Jembatan tua itu nampak menyeramkan beberapa waktu sebelum ditinggalkan senja. Konstruksinya sudah sangat rapuh, termasuk jalurnya yang bolong-bolong di sana sini. Sementara itu, sekitar 50 meter di bawahnya pemandangan Kali Progo menganga. Alirannya terlihat tenang tanda memiliki kedalaman yang tak terduga.

“ Banyak orang bilang kawasan ini sangat angker,” ujar seorang tukang pecel lele yang mangkal sekitar jembatan itu.

Sekitar dua meter dari mulut jembatan, sebuah tugu berwarna kelabu putih berdiri kokoh. Itu tanda peringatan bagi korban-korban pembunuhan yang dilakukan militer Belanda pada kisaran waktu akhir 1948- pertengahan 1949. Ada tulisan di dalamnya berbunyi:

“ Aku ta’ ketjewa, aku rela….Mati untuk tjita-tjita sutji nan mulja: Indonesia merdeka, adil,makmur dan bahagia.

Temanggung, 22/12-48-10/8-49

Apapun yang dituliskan orang di tugu tersebut, dalam kenyataannya sebagian besar nyawa para korban pembantaian itu diambil secara paksa. Menurut Bambang Purnomo (92), orang-orang yang dieksekusi sebagian besar adalah rakyat sipil yang dianggap sebagai kaki tangan TNI oleh militer Belanda. Padahal menurut eks pejuang Temanggung itu, tuduhan tersebut tak selamanya benar

’’ Mereka mendatangi kampung, pasar dan rumah warga yang dianggap secara sembarang sebagai orang-orangnya TNI lalu membawanya ke jembatan dan langsung dieksekusi,’’ ungkap adik dari eks Panglima Divisi III Jawa Tengah Kolonel Bambang Sugeng itu.

Keterangan Bambang Purnomo dibenarkan oleh salah satu saksi sejarah lain bernama Parto Dimedjo. Menurutnya,sejak militer Belanda menyerang Temanggung pada Desember 1948, eksekusi selalu terjadi di tepi jemabatan itu. “ Kalau mau berangkat ke sekolah, hampir setiap hari saya selalu melihat ceceran darah di sepanjang jembatan Kali Progo,” kenang lelaki kelahiran Temanggung pada 1938 tersebut.

Pada suatu hari menjelang senja dirinya tengah mengangon bebek saat melihat sekumpulan tentara Belanda tengah menyiksa seorang lelaki yang matanya tertutup secarik kain hitam. Demi melihat pemandangan itu, tanpa banyak cakap, Parto lari tunggang langgang meninggalkan bebek-bebeknya. “ Tapi belum jauh saya lari, sudah terdengar bunyi tembakan...Selanjutnya saya tidak tahu lagi nasib orang itu,” ujarnya dalam bahasa Jawa.

Belum ada catatan resmi mengenai siapa aja para korban yang tewas di sekitar jembatan Kali Progo itu. Para penduduk sekitar jembatan rata-rata menyebut angka ratusan hingga ribuan. Bahkan secara jelas, di salah satu tugu peringatan dekat jembatan tersebut, disebutkan jumlah orang yang tewas selama hampir satu tahun itu adalah 1200 orang.

Parto sendiri tidak berani menyebutkan kira-kira berapa jumlah korban pembantaian itu. Ia hanya ingat bahwa penembakan kerap terjadi. “ Hampir setiap dua hari sekali, orang-orang sekitar jembatan itu, termasuk saya, selalu mendengar bunyi letusan senjata,” ungkapnya.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Komentar anda
Jembatan maut Kali Progo
foto
Jembatan maut Kali Progo
foto