Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Kisah Basri Masse, Warga Indonesia yang Dihukum Mati Malaysia

Indonesia pernah berusaha keras menyelamatkan warganya dari hukuman mati di Malaysia. Namun, Indonesia mempraktikkan hukuman itu hingga sekarang.
Basri Masse dan putrinya, 1981.
Foto
Historia
pengunjung
6.7k

SEJUMLAH negara bereaksi. Mereka menempuh sejumlah cara untuk menangguhkan pelaksanaan eksekusi mati warga negaranya karena kasus narkoba di Indonesia. Namun pemerintah Indonesia bersikeras untuk mengeksekusi terpidana mati dengan dalih narkoba adalah kejahatan yang luar biasa.

Setiap pemerintah tentu akan berusaha melindungi setiap warga negaranya. Begitu pula pemerintah Indonesia dalam kasus Basri Masse.

Basri Masse (37 tahun) seorang imigran gelap asal Pare-Pare, Sulawesi Selatan, yang bekerja di Kinibalu, Sabah, Malaysia. Pada 16 Februari 1983, dia bersama Abdul Patta Lubing (lelaki asal Maros, Sulawesi Selatan) ditangkap polisi di sebuah taksi yang diparkir di Jalan Terawi, Putatan, Kinabalu. Bersama mereka diamankan barang bukti 935 gram ganja kering dibungkus koran Utusan Malaysia dalam kantung plastik. Tiga tahun kemudian Majelis Tinggi Kota Kinabalu memvonis Basri hukuman gantung. Dia dikenakan pasal 39B Akta Dadah (Narkotika) Berbahaya 1952.

Sebelumnya Ramli Kechik (40), seorang nelayan asal Langkat, Sumatra Utara, menjadi orang Indonesia pertama yang digantung di Malaysia. Dia ditangkap karena membawa 15,6 kg opium mentah di Kuala Perlis pada Juli 1982. Eksekusi dilakukan di penjara Taiping, Malaysia, pada Agustus 1986. Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Penang berusaha membantunya, namun tak melakukan protes sebagaimana ditempuh pemerintah Australia atas eksekusi mati dua warga negaranya di Malaysia sebulan sebelumnya.

Kendati bukan yang pertama, kasus Basri Masse menyebabkan kegemparan di Indonesia. Mengapa?

Kejanggalan Hukum

Menurut Sidney Jones, direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), dalam Making Money off Migrants: The Indonesian Exodus to Malaysia, kegemparan muncul karena sejumlah kejanggalan seputar kasus Basri Masse. Pasal yang menjerat Basri diperbarui tahun 1980 namun berlaku efektif pada 15 April 1983, dua bulan setelah Basri ditangkap –artinya, berlaku surut. Basri menggugat melalui kasasi ke Mahkamah Agung Malaysia namun ditolak.

Kejanggalan lainnya, polisi menjerat Abdul Patta Lubing dengan pasal serupa tapi kemudian diubah pidana biasa. “Hal itu tidak pernah jelas mengapa Patta menerima dakwaan lebih rendah,” tulis Sidney Jones. Patta bahkan dibebaskan setelah orang tak dikenal memberikan uang jaminan dan menghilang. Padahal Basri mengaku Patta-lah pemilik ganja itu.

Di sisi lain, kesaksian polisi yang menangkap Basri serta sopir taksi tidak konsisten dan kontradiktif. “Tapi hakim tetap percaya mereka,” tulisTempo, 27 Januari 1990. Upaya Basri melarikan diri namun gagal jadi dalih hakim bahwa Basri “sudah merasa bersalah.”

KJRI atau pemerintah Indonesia tak pernah diberi tahu pemerintah Malaysia. Mereka baru mengetahui ketika Basri menyelundupkan surat tertanggal 21 Juni 1988 ke KJRI di Kota Kinabalu.

Setelah mendengar kabar itu, Konsul Jenderal (Konjen) untuk Serawak dan Sabah Widodo Suparto menemui Ketua Menteri Sabah Dato Pairin Kitingan. Hasilnya, disarankan agar Basri menulis surat permohonan keringanan hukuman kepada Lembaga Pengampunan Negeri Sabah (Pardon’s Board). Sidang Pardon’s Board pada 26 Februari dan 31 Maret 1989 memutuskan hukuman gantung Basri tak bisa diubah lagi. Namun pelaksanaan eksekusi ditunda dua kali pada 1 Maret dan 22 Mei 1989.

Kasus Basri Masse menjadi headline di berbagai media di Indonesia selama berbulan-bulan, baik sebelum maupun sesudah pelaksanaan hukuman mati.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Basri Masse dan putrinya, 1981.
Foto
Basri Masse dan putrinya, 1981.
Foto