Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 3

Ketika Partai Perlu Belajar Sejarah

Terinspirasi Partai Komunis Uni Soviet, Tiongkok, dan Perancis, PKI membentuk Lembaga Sejarah. Sandaran otokritik, perumusan kebijakan, serta indoktrinasi kader partai.
 
Peringatan 45 tahun PKI.
Foto
Historia
pengunjung
12.8k

Kado yang Tertunda

Khusus Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI, sesungguhnya itu merupakan draf buku yang dipersiapkan sebagai kado ulang tahun partai ke-45, pada 23 Mei 1965. Lembaga Sejarah sangat serius menggarapnya. Tak tanggung-tanggung, mereka berusaha melibatkan tiga lembaga sejarah partai komunis negara lain yang punya keterkaitan historis dengan PKI, yakni Partai Komunis Uni Soviet, Partai Komunis Tiongkok, dan Partai Komunis Belanda (CPN). Proyek penyusunan buku dimulai pada 1963, ditandai dengan pembentukan panitia bersama yang diketuai langsung oleh Aidit.

“Saya ingat, waktu itu pernah diadakan pertemuan di kantor Akademi Aliarcham di Jakarta, namun hanya dihadiri Lembaga Sejarah PKI dan perwakilan Lembaga Sejarah Partai Komunis Uni Soviet. Saya ditunjuk menjadi sekretaris,” ujar Sumaun.

Dalam kerja sama disepakati, masing-masing lembaga sejarah mengumpulkan bahan-bahan sejarah PKI dan menyusunnya menjadi sebuah draf. Selanjutnya draf-draf itu akan dipadukan menjadi sebuah karya lengkap. Khusus draf dari Indonesia, Lembaga Sejarah PKI mempercayakan penyusunannya kepada Busjarie Latif. Namun rencana itu tak berlangsung mulus. Kesibukan anggota dan banyaknya agenda penting partai dalam kurun 1963-1965 membuat tim gagal menyelesaikan tugasnya.

“Draf yang disusun Pak Busjarie Latif rencananya akan dibahas dan dilengkapi oleh tim. Draf itu juga akan disempurnakan dengan materi tambahan dari lembaga sejarah PKUS, PKT, dan CPN. Tapi apa boleh buat, sampai ulang tahun partai ke-45, buku tersebut belum selesai disusun.”

Tim lalu berencana menuntaskan proyek yang tertunda itu pada ulang tahun berikutnya. Namun lagi-lagi ikhtiar tersebut gagal. Pasca peristiwa 30 September 1965, PKI mengalami tekanan hebat hingga akhirnya dibubarkan oleh Orde Baru. Nasib manuskrip yang disusun Busjarie Latif pun tak dikeitahui rimbanya. Tapi rupanya, manuskrip setebal 210 halaman folio yang diketik manual dengan spasi rapat itu tak benar-benar hilang. Dalam pengantar Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI yang diterbitkan Ultimus, Sumaun Utomo menjelaskan: “Manuskrip ini setelah selesai ditulis oleh almarhum Kawan Busjarie Latif, ‘hilang’ditelan Prahara 1965. Tetapi tanpa disangka ia ikut terbang mengelilingi dunia menyelamatkan diri dan akhirnyasetelah empat puluh tujuh (47) tahun menjelajahi dunia, terbang melayang kembali ke tangan saya.”

Atas inisiatif Sumaun Utomo, Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI pada 2014 diterbitkan oleh Penerbit Ultimus Bandung. Meski belum sempurna, ia bisa dijadikan referensi alternatif untuk memahami sepak terjang partai komunis pertama di Asia yang pada masanya pernah menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia. Manuskrip itu, kata Sumaun, mewakili suara partai yang selama lebih dari 30 tahun dibungkam oleh lawan politiknya.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Peringatan 45 tahun PKI.
Foto
Peringatan 45 tahun PKI.
Foto