Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 2

Ketika Partai Perlu Belajar Sejarah

Terinspirasi Partai Komunis Uni Soviet, Tiongkok, dan Perancis, PKI membentuk Lembaga Sejarah. Sandaran otokritik, perumusan kebijakan, serta indoktrinasi kader partai.
 
Peringatan 45 tahun PKI.
Foto
Historia
pengunjung
11.7k

Dari Berbagai Angkatan

Lembaga Sejarah, kata Sumaun, bertanggung jawab langsung kepada Aidit. Lembaga yang beranggotakan 35 orang itu dipimpin oleh Sugiono, seorang pengajar di Akademi Politik Aliarcham. Meski bertugas melakukan riset sejarah, tak ada satupun dari anggota yang berlatar pendidikan sejarah. Mereka dipilih, selain lantaran memiliki basis intelektual yang memadai, juga karena punya pengetahuan sejarah berdasarkan pengalaman lapangan. Para anggota berasal dari berbagai angkatan. Secara umum, angkatan itu didasarkan pada pembabakan dalam sejarah revolusioner PKI.

Sumaun mengaku tidak dapat mengingat seluruh anggota Lembaga Sejarah. Dari angkatan 1920-1926, misalnya, ada Sardjono, Mangkudun Sati, Ngadiman Hardjosubroto, Djaetun, dan seorang bekas pelaut Belanda. Angkatan 1927-1935 diwakili Djoko Sudjono, Achmad Sumadi, dan Iskak. Sumaun dan Busjarie Latif mewakili angkatan 1942-1945. Sedangkan Wikana mewakili angkatan 1945-1948.

”Seperti Pak Sugiono, sebagian anggota Lembaga Sejarah mengajar di institusi pendidikan milik PKI. Saya dan Pak Busjarie Latif adalah pengajar di Akademi Politik Aliarcham. Di luar itu, saya menjadi dosen di Universitas Rakyat (Unra) dan Universitas Rakyat Indonesia (URI),” papar Sumaun yang baru bergabung dengan Lembaga Sejarah pada 1959.

Lantaran bukan sejarawan profesional, para anggota Lembaga Sejarah tak bekerja berdasar tuntunan metode sejarah kritis. Mereka mengumpulkan data, seperti dokumen partai, sumber literatur lalu memadukannya dengan pengalaman dan pengamatan di lapangan. Tiap kelompok angkatan fokus pada riset sejarah periode masing-masing. Setelah selesai, hasilnya dibahas bersama seluruh anggota.

Anggota Lembaga Sejarah, kata Sumaun, tak setiap hari bertemu. Pasalnya, sebagai kader partai, mereka punya kesibukan di bidang masing-masing. Pertemuan dilakukan sesuai kebutuhan. Jika ada agenda penting, mereka baru menggelar pertemuan. Tempatnya pun bisa di mana saja.

“Kami tidak punya kantor khusus. Kalau butuh rapat, kami meminjam tempat di kantor-kantor institusi yang bertalian dengan partai. Terkadang kami kumpul di Akademi Aliarcham di Jalan Padang, adakalanya di Kantor Yayasan Pembaruan di daerah Kramat Raya.”

Hingga PKI dibubarkan pada 1965, lanjut Sumaun, Lembaga Sejarah telah menghasilkan sejumlah karya, antara lain Pemberontakan Nasional Pertama di Inonesia (terbit 1961), 20 Tahun di Bawah Tanah; 1926-1945 (terbit 1963), dan Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (diterbitkan Ultimus pada 2014). Lembaga Sejarah juga pernah menginisiasi penerbitan beberapa tulisan DN Aidit. Semua produk penelitian Lembaga Sejarah diterbitkan oleh Yayasan Pembaruan, sayap penerbitan milik PKI.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Peringatan 45 tahun PKI.
Foto
Peringatan 45 tahun PKI.
Foto