Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Ketika Partai Perlu Belajar Sejarah

Terinspirasi Partai Komunis Uni Soviet, Tiongkok, dan Perancis, PKI membentuk Lembaga Sejarah. Sandaran otokritik, perumusan kebijakan, serta indoktrinasi kader partai.
 
Peringatan 45 tahun PKI.
Foto
Historia
pengunjung
12.8k

SEJAK didera hernia nukleus pulposus alias syaraf terjepit setahun lalu, Sumaun Utomo banyak menghabiskan waktunya untuk berobat. Dua kali dalam seminggu, lelaki 92 tahun itu harus bolak-balik periksa ke dokter. Agar tak terlampau lama menunggu, dia yang ditemani asisten rumah tangga, harus berangkat pagi-pagi ke rumah sakit untuk mendapat nomor antrean awal. Syaraf terjept membuat aktivitasnya terganggu. Untuk berjalan kaki, bekas anggota Lembaga Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) itu, kini harus bertopang tongkat.

Namun kerentaan fisik Sumaun tak berbanding lurus dengan daya ingatnya. Dalam usia selanjut itu dia masih sanggup menceritakan pengalaman hidupnya pada masa lalu. Memang tak semua nama dan peristiwa dapat dia ingat dengan baik, tapi informasi yang diberikannya relatif konsisten. Lelaki yang dilahirkan di Lamongan pada 18 Agustus 1923 itu jarang meralat keterangan yang disampaikan sebelumnya.

Sumaun satu-satunya anggota Lembaga Sejarah PKI yang diyakini masih hidup. Rekan-rekannya di lembaga itu sudah lama berpulang. Sebagian di antaranya bahkan telah meninggal dalam tragedi berdarah pasca peristiwa 30 September 1965. Dibanding unsur kelengkapan PKI yang lain, Lembaga Sejarah bisa dibilang kurang populer. Ia tak seperti Dewan Harian Politbiro atau Biro Agitasi dan Propaganda yang lebih mentereng. Literatur mengenainya juga terbatas. Dengan demikian, informasi dari Sumaun mengenai lembaga itu menjadi sangat penting.

Lembaga Sejarah adalah salah satu instrumen di tubuh PKI. Dalam struktur organisasi, ia berada di bawah Politbiro Central Committe partai. Seturut nama, tugas utamanya menyusun riwayat kesejarahan partai sejak kali pertama berdiri. Orang boleh memandang Lembaga Sejarah dengan sebelah mata, namun tidak demikian dengan PKI. Bagi partai berlambang palu arit itu, Lembaga Sejarah merupakan alat kelengkapan penting yang dibutuhkan untuk pengembangan partai.

“Setahu saya, hanya PKI yang punya lembaga semacam ini. Partai-partai lain di Indonesia pada masa itu tidak punya,” ujar Sumaun saat ditemui Historia di rumahnya di Semarang, medio September lalu.

Lembaga Sejarah PKI, lanjut Sumaun, didirikan sekitar tahun 1957, atas instruksi langsung sang ketua, DN Aidit. Ia diadopsi dari lembaga serupa di dalam partai-partai komunis negara lain, khususnya Partai Komunis Uni Soviet, Partai Komunis Tiongkok, dan Partai Komunis Perancis. Aidit menginginkan, lembaga itu melakukan riset mendalam ihwal kesejarahan partai. Hasil riset diperlukan, selain sebagai otokritik, juga untuk bahan pertimbangan merumuskan kebijakan. Tak hanya itu, penelitian Lembaga Sejarah dipakai sebagai bahan indoktrinasi kader dan materi pengajaran di lembaga pendidikan milik partai.

“Bung Aidit sadar betul akan pentingnya sejarah bagi kemajuan partai. Pengalaman dan pengetahuan terhadap masa lalu digunakan sebagai pelajaran berharga. Kalau baik digunakan, kalau buruk ditinggalkan.”

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Peringatan 45 tahun PKI.
Foto
Peringatan 45 tahun PKI.
Foto