top of page

Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan Pasca Peristiwa 1965

Pasca Peristiwa 1965 banyak perempuan menjadi korban kekerasan seksual. Mulai dari dibotaki sampai dicari logo Palu Arit di sekitar kemaluannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Salah satu penyintas yang hadir dalam acara Jalan Berkeadilan bagi Penyintas yang berlangsung 17-19 Maret 2017 di Komnas Perempuan, Jakarta. Foto: Nugroho Sejati

18 Mar 2017
2 menit membaca

Diperbarui: 29 Jul 2025

Zaenab tak pernah tahu Lubang Buaya, Gerwani, Dewan Revolusi, apalagi situasi politik tahun 1965 di negeri ini. Tapi, gadis yang waktu itu berusia 12 tahun, harus mengalami nasib pahit karena istilah-istilah tersebut.


Tak lama setelah pembunuhan tujuh jenderal Angkatan Darat di Jakarta, Zainab kehilangan orangtuanya, seorang anggota Lekra, dibawa paksa oleh tentara. Kehidupan gadis asal sebuah desa di Pekalongan, Jawa Tengah itu, pun memasuki masa kelam yang tak terperi.


Hal itu berawal ketika dia dibawa paksa ke kantor militer terdekat. Dia mengalami pelecehan, mulai dari ditelanjangi hingga diperkosa oleh prajurit-prajurit di kantor militer setempat. Bahkan, dia pernah diperkosa ramai-ramai oleh tentara itu. “Anak anggota Lekra yang berusia 12 tahun itu dipaksa tak senonoh sampai kurang lebih tiga bulan,” ujar Bedjo Untung, Ketua YPKP 65, membeberkan temuan terbaru tentang kekerasan massal terhadap perempuan pasca Peristiwa 1965.


Tema kekerasan seksual terhadap perempuan pasca Peristiwa Gerakan 30 September 1965 itu menjadi bahasan diskusi sesi kedua acara “Jalan Berkeadilan bagi Penyintas” di Komnas Perempuan, Jakarta, Sabtu (18/3). Acara yang diselenggarakan oleh Komnas Perempuan, YLBHI, dan IPT 65 itu juga menampilkan telewicara dengan Ann Pullman, peneliti Queensland University yang mendalami bentuk kejahatan massal berbasis gender pasca Peristiwa 1965, khususnya kejahatan terhadap perempuan.


Ann mengatakan, “dari awal jelas, ada statement kekerasan perempuan dalam 1965. (Maka) Setelah 1 Oktober, ada banyak kekerasan pada perempuan." Kejahatan terhadap perempuan itu berbagai bentuk, mulai kekerasan verbal ringan, perkosaan, penyiksaan, hingga perbudakan seksual.


Ann mewawancarai sekitar 150 perempuan eks tapol (tahanan politik) dan sekitar 30 bekas istri tapol. Di tempat-tempat yang ditelitinya, antara lain Jakarta, Surakarta, dan Yogyakarta, dia mendapatkan bahwa bentuk kejahatan terhadap perempuan banyak yang unik, tak ada di tempat lain. Kejahatan fisik dengan kadar lebih rendah, misalnya, berupa penggundulan kepala para perempuan tapol atau istri tapol.


“Penghinaan yang terjadi (itu) agar perempuan itu malu dan ternoda,” kata Ann. Pada masa itu, pandangan miring masyarakat kepada perempuan berambut pendek, apalagi botak, masih kuat.


Di lain tempat, perempuan-perempuan tapol atau istri tapol bahkan harus menjatuhkan harga diri guna menyambung nyawa dengan berlaku laiknya hewan sesuai yang diperintahkan interogator. Perempuan-perempuan itu telah ditelanjangi terlebih dulu. “Itu hiburan untuk interogator,” kata Ann.


Menurut Ann, bentuk kejahatan lain yang tak kalah bejatnya, yaitu mencari logo Palu Arit di sekitar kemaluan perempuan. Pelecehan itu terjadi di tempat-tempat interogasi. Sambil menginterogasi, para interogator memerintahkan para perempuan untuk menanggalkan pakaian. Mereka berdalih untuk mencari logo Palu Arit yang disembunyikan.


“Tentu saja militer itu bisa melihat bagian dalam tubuh perempuan,” kata Ann. Setelah tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka, interogator lalu menggerayangi dan memperkosa mereka.


Bentuk kejahatan lain, lanjut Ann, ada interogator yang melakukan kekerasan fisik berupa penyiksaan bahkan mutilasi. Banyak pula interogator yang meminta paksa aborsi kepada perempuan istri tapol yang ditidurinya dan kemudian hamil.


Di Manado, Sulawesi Utara, kata seorang bapak anggota YPKP 65, telah menjadi fenomena umum menjadikan istri-istri tapol sebagai “suguhan” untuk pejabat-pejabat pusat yang melakukan kunjungan ke sana.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Djalimin was sentenced to 15 years in prison for killing a Dutch man who was about to rape her. A question posed by a member of the Indonesian House of Representatives to the government led to her release.
bg-gray.jpg
Bersama Henk Sneevliet, Adolf Baars mempelopori komunisme di Indonesia. Takdir keduanya setali tiga uang, berakhir tragis di tangan Nazi.
bg-gray.jpg
Jauh di pedalaman hutan Papua yang terisolasi, sejumlah warga Lampung turut menjalani hidup sebagai tahanan politik. Salah satunya adalah Sjahmin Pandjinegara.
bg-gray.jpg
PKI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Membawa gagasan ke tengah masyarakat melalui pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Hasilnya menjadi salah satu partai terbesar.
Atlet Kanada Duncan McNaughton tak dijagokan dalam cabang olahraga atletik di Olimpiade Los Angeles 1932. Bertanding melawan teman baiknya, McNaughton justru berhasil meraih medali emas di nomor lompat tinggi.
Atlet Kanada Duncan McNaughton tak dijagokan dalam cabang olahraga atletik di Olimpiade Los Angeles 1932. Bertanding melawan teman baiknya, McNaughton justru berhasil meraih medali emas di nomor lompat tinggi.
Bak kanker kronis, rasisme tetap tumbuh di lapangan hijau. Mencoreng keindahan sepakbola.
Bak kanker kronis, rasisme tetap tumbuh di lapangan hijau. Mencoreng keindahan sepakbola.
Perkembangan zaman membuat tarian Jawa beradaptasi agar tetap bertahan.
Perkembangan zaman membuat tarian Jawa beradaptasi agar tetap bertahan.
Dari seukuran lampu petromak, pemantik kini bisa digenggam dan mengisi kantong para perokok.
Dari seukuran lampu petromak, pemantik kini bisa digenggam dan mengisi kantong para perokok.
Lika-liku kehidupan atlet anggar berdarah Yahudi di tengah politik rasialis Nazi. Diakui terbaik sepanjang masa namun mati muda.
Lika-liku kehidupan atlet anggar berdarah Yahudi di tengah politik rasialis Nazi. Diakui terbaik sepanjang masa namun mati muda.
Trauma itu tak pernah hilang. Namun Kroasia tetap menatap ke depan hingga bisa berbangga dengan prestasi di Piala Dunia.
Trauma itu tak pernah hilang. Namun Kroasia tetap menatap ke depan hingga bisa berbangga dengan prestasi di Piala Dunia.
transparant.png
bottom of page