Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Kabut Asap di Masa Lalu

Kabut asap dari pembukaan lahan juga terjadi di masa lalu. Pola peladangan primitif, tapi masih disukai di masa modern. Gampang dan murah.
Perusahaan membakar hutan di Gala-Gala, Tapanuli, 1933.
Foto
Historia
pengunjung
5k

KEPUNGAN kabut asap yang membelenggu pulau Sumatera dan Kalimantan beberapa bulan terakhir bukanlah hal baru. Bukan dimulai 20 tahun silam. Ratusan tahun lalu, asap pekat sudah sering membumbung, pernah dicatat para pejabat kolonial dan pengelana.

“Kepulan asap menjulang selama 1 atau 2 bulan sampai seluruh hutan habis dibumihanguskan,” kisah William Marsden dalam History of Sumatra yang pertama kali terbit tahun 1783.

Marsden pernah bertugas sebagai pegawai sipil di East India Company (Kongsi Dagang Inggris) yang berpusat di Bengkulu pada 1771 hingga 1779. Selama itu, dia berkelana meneliti etnografi dan kebiasaan suku-suku bangsa yang ada di pulau Sumatera.

Marsden mendapati pada April-Mei, jelang musim kemarau, petani telah memilih dan menandai hutan untuk ladangnya. Masyarakat memilih cara cepat meratakan pohon-pohon besar di hutan dengan memercikan api dari dua flint yang diadu. “Api bisa bersumber dari penggosokan dua potong kayu kering,” ujarnya.

Pada 6 Juli 1863, kapal Josephine membongkar sauh di Kuala Sungai Deli. Kapal tersebut membawa Jacobus Nienhuys, wakil-wakil perusahaan dagang J.F. van Leeuwen & Co. (perusahaan tembakau Belanda di Surabaya), seorang pangeran bernama Said Abdullah Ibnu Umar Bilsagih dan para pemilik kapal tersebut.

Kedatangan Nienhuys cs, sekaligus memulai babak baru Deli, menjadi pusat perkebunan di Timur. Lands Dollar, begitu media barat menyebutnya. Sultan Deli menyewakan tanah dan hutan di Sumatera Timur untuk dikavling-kavling menjadi perkebunan tembakau. Selanjutnya bertukar menjadi perkebunan karet dan sawit. (Baca: Derita Kuli di Tanah Deli)

Liberalisasi perkebunan semakin tumbuh subur seiring keluarnya Undang-Undang Agraria tahun 1870. UU ini memberikan perlindungan pada para pengusaha yang akan menginvestasikan modal mereka, khususnya di sektor perkebunan dan pertambangan. UU ini menjamin ketersediaan tanah untuk dikelola.

Meski lahan dan hutan Sumatera dikapitalisasi, toh pola pembukaan lahan dan hutan untuk perkebunan tetap dengan metode primitif. Dibakar.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Perusahaan membakar hutan di Gala-Gala, Tapanuli, 1933.
Foto
Perusahaan membakar hutan di Gala-Gala, Tapanuli, 1933.
Foto