Pilih Bahasa: Indonesia

Jenderal di Balik Saracen

TNI membeli Saracen untuk memperkuat pertahanannya.
 
Kolonel Ahmad Yani menandatangani nota pembelian panser dari Inggris pada 1959.
Foto
Historia
pengunjung
51.6k

Dalam rangka Operasi Trikora untuk merebut Irian Barat (sekarang Papua), Tentara Nasional Indonesia (TNI) membeli alutsista ke sejumlah negara Eropa. Pembelian alutsista itu dipimpin oleh Deputi II Kepala Staf Angkatan Darat Brigjen TNI Ahmad Yani sehingga disebut “Misi Yani.”

“Brigadir Jenderal Ahmad Yani ditunjuk menjadi Ketua Staf Operasi dan untuk melengkapi persenjataan Indonesia dalam rangka pelaksanaan Trikora. Misi Yani berkunjung ke negara-negara Eropa untuk membeli senjata yang diperlukan,” ungkap Marieke Pandjaitan boru Tambunan dalam biografi suaminya, DI Pandjaitan: Gugur dalam Seragam Kebesaran.

Demi melancarkan pembelian, Yani meminta bantuan para atase militer di masing-masing Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Di KBRI Bonn, Jerman Barat misalnya, Yani dibantu oleh Kolonel DI Pandjaitan. Sedangkan di KBRI London, Inggris, Yani dibantu Kolonel Sutojo Siswomihardjo. Di Inggris, Yani sukses memboyong sejumlah alutsista berupa puluhan kendaraan tempur lapis baja atau panser, termasuk Alvis Saracen yang pertama kali dibuat pada 1952.

“Ayah (Sutojo Siswomihardjo) saat itu Atase Militer RI di London, menyaksikan penandatanganan nota pembelian panser buatan Inggris tahun 1959 dengan Letjen TNI Ahmad Yani selaku Menteri Panglima Angkatan Darat dan Kepala Staf Komando Tertinggi (Koti). Pesanan panser-panser ini baru dikirim sebelum Peristiwa 1965,” kata Nani Nurrachman Sutojo dalam Kenangan Tak Terungkap: Saya, Ayah, dan Tragedi 1965.

Menurut data Trade Register Stockholm International Peace Research Institute (armstrade.sipri.org), Indonesia memesan 179 panser. Masing-masing 55 APC (Armoured Personnel Carrier) Alvis FV603 Saracen, 69 Armoured Car Alvis FV601 Saladin, dan 55 unit APV Ferret.

"Inggris sangat menikmati penjualan kendaraan lapis baja ke Indonesia," tulis Mark Phythian dalam The Politics of British Arms Sales Since 1964: To Secure Our Rightful Share. Mark mencatat pada akhir tahun 1983, Indonesia memiliki 65 Saladin, 60 Saracen, dan 60 Ferret.

Panser-panser itu sempat digunakan TNI AD mengepung Pangkalan TNI AU di Halim Perdanakusuma pada 2 Oktober 1965. Terjadi kontak senjata antara Batalyon 330 Kujang/Siliwangi dan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD, kini Kopassus) dengan Batalion 445/Para dari TNI AU (selengkapnya baca: AU di Tengah AD)

“Ironisnya, panser-panser itu menjadi pengangkut jenasah para perwira tinggi yang gugur pada 1 Oktober 1965,” kata Nani yang ayahnya, Sutojo Siswomihardjo, menjadi salah satu korbannya.

“Peti-peti jenazah diletakkan di atas panser-panser dengan dikawal para perwira tinggi dan pasukan RPKAD. Panser-panser ini adalah peralatan yang dibeli bapak dalam Misi Yani,” kata Amelia Ahmad Yani dalam biografi ayahnya, Profil Seorang Prajurit TNI.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Kolonel Ahmad Yani menandatangani nota pembelian panser dari Inggris pada 1959.
Foto
Kolonel Ahmad Yani menandatangani nota pembelian panser dari Inggris pada 1959.
Foto