Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Jalannya Pemberontakan Petani Banten 1888

128 tahun lalu, tepatnya 9 Juli 1888, pecah pemberontakan petani Banten atau disebut juga Geger Cilegon. Inilah jalannya pemberontakan dari permulaan sampai penghabisan.
Para pemberontak yang tertangkap sebagian besar diasingkan.
Foto
Historia
pengunjung
7.9k

Serangan pembuka

Senin, 9 Juli 1888, pukul 02.00 dini hari. Sekitar 100 orang pemberontak bergerak dari tempat Haji Ishak di Saneja, menyerang rumah Henri Francois Dumas, juru tulis di kantor asisten residen. Dumas melarikan diri dan bersembunyi di rumah tetangganya, seorang jaksa. Istri Dumas terluka dengan dua anak pertamanya berlindung di rumah ajun kolektor. Minah, pembantu Dumas berusaha melindungi anak bungsu majikannya.

Pembagian pasukan

Para pemberontak yang berjumlah ratusan berkumpul di markas di Pasar Jombang Wetan. Haji Wasid, pemimpin utama pemberotak, membagi para pemberontak menjadi tiga pasukan. Pasukan pertama dipimpin Lurah Jasim, seorang jaro Kajuruan, pasukan kedua dipimpin Haji Abdulgani dan Haji Usman, dan pasukan ketiga dipimpin Haji Tubagus Ismail dan Haji Usman. Sasaran serangan: penjara untuk membebaskan tahanan, kepatihan, dan rumah asisten residen di alun-alun Cilegon.

Serangan umum

Haji Tubagus Ismail dan pasukannya menemukan Dumas yang bersembunyi di rumah seorang Tionghoa, Tan Heng Kok. Dumas menjadi korban pertama. Istrinya dan anak laki-lakinya, Alfred Dumas, terluka lalu dibawa oleh ajun kolektor ke kepatihan. Minah dan anak bungsu Dumas ditemukan di tengah sawah dalam keadaan hidup namun luka parah. Anak kecil itu meninggal pada 24 Juli 1888, sedangkan Minah dibawa suaminya, Kamid, ke rumah sakit Serang dan dirawat sampai 13 September 1888. “Babu yang berani itu kemudian dianugerahi bintang perunggu, tanda jasa dan setia. Dia perempuan desa yang untuk pertama kalinya dihiasai dengan bintang jasa,” kata Achmad Djajadiningrat dalam memoarnya.

Pasukan Haji Tubagus Ismail menyerang rumah asisten residen, Johan Hendrik Hubert Gubbels, yang sedang mendampingi residen mengadakan inspeksi ke Anyer. Mereka mendapati dua anak Gubbels, Elly dan Dora, dan menghabisinya dengan kejam.

Haji Usman dan pasukannya menyerang Ulric Bachet, kepala penjualan garam. Bachet bersembunyi di rumah penduduk di belakang rumahnya. Sempat melepaskan tembakan yang menewaskan dua pemberontak, namun akhirnya dia pun dibunuh.

Pemberontak yang dipimpin Lurah Jasim bergerak menuju rumah jaksa dan ajun kolektor. Anak ajun kolektor, Kartadiningrat yang bisa pencak silat, mengadakan perlawanan. Dengan senjata limbukan (gada panjang dari kayu yang berat), Ketjik –nama kecilnya– berhasil melumpuhkan beberapa pemberontak. Namun, dia akhirnya dihabisi oleh para pemberontak yang jumlahnya banyak.

Sebagian pemberontak yang dipimpin Lurah Jasim bergerak menuju penjara dan membebaskan sekitar 20 tahanan. Seorang sipir penjara, Mas Kramadimeja, tewas. Istri Gubbels, Anna Elizabeth van Zutphen, wedana, dan kepala penjara, berhasil meloloskan diri menjuju ke kepatihan. Para pemberontak mengepung rumah kepatihan untuk mencari Patih Raden Penna, namun tidak di tempat. Pemberontak membunuh seorang pelayan patih, Sadiman.

Para pemberontak membawa Wedana Cilegon, Raden Cakradiningrat, Jaksa Cilegon Mas Sastradiwiria, dan Ajun Kolektor Raden Purwadiningrat, ke alun-alun untuk dieksekusi. Bekas tahanan, Kasidin, melampiaskan dendamnya kepada wedana Cilegon yang menjebloskannya ke penjara. Beberapa orang bersuara agar jangan menganiaya wedana. Tetapi, Kasidin melompat ke muka sambil berteriak, “justru ini yang mesti didahulukan!” “Maka ditebasnyalah leher saudara sepupuku itu dengan parangnya,” kata kata Achmad Djajadiningrat.

Para pemberontak kemudian membunuh Jacob Grondhout, insinyur pengeboran pada departemen petambangan di Cilegon, dan istrinya, Cecile Wijermans. Para pemberontak juga menghabisi Mas Asidin (magang yang diperbantukan pada asisten wedana Bojonegara), Mas Jayaatmaja (mantri ulu atau pegawai pengairan distrik Cilegon), Jamil (kepala opas asisten residen Anyer), Jasim (pelayan asisten wedana Krapyak Cilegon).

Gubbels bergegas kembali ke rumahnya di alun-alun Cilegon. Dia lebih baik mati bila anak-anak dan istrinya telah mati. Dia tewas di dalam rumahnya. “Mayatnya kemudian diseret ke luar rumah dan disambut dengan pekik kemenangan yang gemuruh; asisten residen, alat utama pemerintah kolonial, sudah mati,” tulis Sartono Kartodirdjo dalam Pemberontakan Petani Banten 1888.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Para pemberontak yang tertangkap sebagian besar diasingkan.
Foto
Para pemberontak yang tertangkap sebagian besar diasingkan.
Foto