Pilih Bahasa: Indonesia

Jalan Terjal Masyumi Menuju Ajal

Setelah jatuh-bangun di gelanggang kekuasaan, energi Masyumi semakin menyusut. Pertarungan internal yang tak kunjung reda dan keterlibatan di dalam PRRI membuat kiprahnya tuntas.
Ki-ka: Yunan Nasution, Prawoto Mangkusasmito, Sutan Sjahrir, Murad, Soebadio Sastrosatomo, menghadap Presiden Sukarno membahas pembubaran Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia di Istana Merdeka, 24 Juli 1960.
Foto
Historia
pengunjung
3k

DI masa Demokrasi Terpimpin, Natsir membawa Masyumi ke arah yang lebih konfrontatif. Hubungan Masyumi dengan Sukarno kian renggang. Masyumi tak setuju dengan tindakan Sukarno mencampuri urusan pemerintahan, bukan hanya sebagai kepala negara. Di sisi lain, partai komunis kian kuat, yang tawaran kerjasama apapun darinya akan ditolak Masyumi.

Puncaknya, merasa terancam akibat tudingan keterlibatan Masyumi dalam percobaan pembunuhan yang gagal atas diri presiden di Perguruan Cikini, Natsir dan beberapa pemimpin Masyumi memilih bergabung dengan para perwira di Sumatra yang menentang pemerintah pusat.

Jalan ke jurang kehancuran partai membentang. Wacana pelarangan Masyumi sayup-sayup terdengar. Untuk mengantisipasi segala kemungkinan, Masyumi memutuskan melepaskan anggota-anggota istimewa dari ikatan partai.

Dalam situasi seperti ini, pertarungan kedua faksi masih berlangsung. Sebagian tokoh, dengan dukungan Sukiman dan Jusuf Wibisono, mendesak pemecatan Natsir. Namun pengaruh Natsir masih kuat. Keputusan kompromi diambil: Natsir tidak didukung secara resmi namun tidak pula dituding bersalah. Dia tetap memangku ketua umum Masyumi, tetapi pembantu terdekatnya, Prawoto Mangkusasmito, ditunjuk sebagai ketua ad interim.

Muktamar di Yogyakarta pada April 1959 menjadi peluang kelompok Sukiman untuk menentukan arah partai. Namun dalam pemilihan ketua umum, Prawoto yang berpendirian tegas terhadap Sukarno dan memandang Natsir sebagai kakaknya terpilih. Sukiman kembali kalah.

Di tangan Prawoto, eksistensi partai dipertaruhkan. Namun dia tak mampu menghalangi langkah Sukarno untuk membubarkan Masyumi. Upaya merehabilitasi partai di masa Orde Baru juga kandas. “Sebabnya tidak lain ialah karena adanya Masyumi-fobia,“ ujar Prawoto dalam pidato di hadapan keluarga besar Bulan Bintang di Jakarta pada Oktober 1966, “karena ada sesuatu yang dimitoskan, yaitu yang mengatakan bahwa Masyumi anti-Pancasila, bahwa Masyumi akan membawa revolusi ke kanan.”

Masyumi, partai berlambang bulan-bintang, hilang dari peredaran.

Lebih lengkap baca laporan utama Riwayat Masyumi Menuji Sunyi di majalah Historia Nomor 16 Tahun II 2013

 
Terpopuler di Historia 
Berita terkait
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Ki-ka: Yunan Nasution, Prawoto Mangkusasmito, Sutan Sjahrir, Murad, Soebadio Sastrosatomo, menghadap Presiden Sukarno membahas pembubaran Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia di Istana Merdeka, 24 Juli 1960.
Foto
Ki-ka: Yunan Nasution, Prawoto Mangkusasmito, Sutan Sjahrir, Murad, Soebadio Sastrosatomo, menghadap Presiden Sukarno membahas pembubaran Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia di Istana Merdeka, 24 Juli 1960.
Foto