Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Gerilyawan Korea di Pihak Indonesia

Bersama empat kawan Jepang-nya, seorang anak muda Korea memutuskan untuk bergabung dengan gerakan pembebasan Indonesia. Memilih mati di ujung bedil serdadu Belanda.
Yang Chil Sung dan Hasegawa sesaat setelah ditangkap Yon 3-14 RI.
Foto
Historia
pengunjung
24.3k

PAGI baru saja menyeruak di Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, Garut, Jawa Barat. Hawa sejuknya bersanding dengan kehangatan cahaya matahari yang menyentuh bentangan rerumputan dan pohon-pohon hijau. Di sebuah sudut, seorang perempuan muda berwajah oriental terpaku di hadapan makam bernisan kelabu yang bertuliskan: Komaruddin/Yang Chil Sung.

“Tadinya saya tak percaya ada orang Korea yang ikut berjuang demi kemerdekaan Indonesia, tapi inilah buktinya,” ujar Chae-eui Hong, perempuan muda tersebut, seorang jurnalis Korea Selatan. Baginya, sulit membayangkan seseorang rela mati ribuan kilometer dari kampung halamannya demi kemerdekaan bangsa lain.

“Dia pasti punya alasan yang sangat istimewa,” ujarnya.

Datang Sebagai Tentara Jepang

Alkisah, kala Semenanjung Korea dijajah Jepang (1910-1945), banyak pemuda Korea direkrut militer Jepang. Upaya itu kian gencar dilakukan saat Negeri Matahari Terbit menjalankan ekspansi militer ke kawasan Asia Tenggara awal 1942.

Menurut Rostineu, dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), ada dua tenaga tempur bangsa Korea yang dimanfaatkan Jepang saat itu: gunsok (tentara pembantu) dan ilbon gunnin (tentara reguler Jepang).

“Sejak Mei 1942 Jepang memobilisasi 3.223 gunsok ke wilayah Asia Tenggara. Mereka ditugaskan sebagai phorokamsiwon (penjaga tawanan perang),” ujar Rostineu mengutip pernyataan Utsumi Aiko dalam buku Aka michi shita no choosonin banran (Pemberontakan Rakyat Joseon di Bawah Garis Khatulistiwa).

Yang Chil Sung, lelaki kelahiran Wanjoo, provinsi Jeolla Utara, Korea Selatan, pada 29 Mei 1919, datang ke Jawa mengikuti arus pengiriman para phorokamsiwon ini. Namun Rostineu ragu bahwa Chil Sung seorang gunsok atau phorokamsiwon. Indikasinya, tentara jenis ini tidak memiliki kemampuan seperti Chil Sung yang trampil berbahasa dan bagus secara teknis militer (pandai merakit bom dan ahli telik sandi).

“Saya cenderung berpendapat Chil Sung adalah bagian dari ilbon gunnin. Mungkin saja dia ditugaskan membawahi para gunsok tersebut,” ujarnya.

Berbeda dari Rostineu, Korea Broascasting System (KBS) World Radio cenderung berpendapat bahwa Chil Sung merupakan bagian dari phorokamsiwon. Dalam siaran edisi bahasa Indonesia pada 15 Agustus 2015, KBS menyebut, sesampai di Jawa, Yang Chil Sung (saat itu sudah ganti nama berbau Jepang: Yanagawa Sichisci) ditugaskan di sebuah kamp tawanan perang di Bandung. Di sanalah dia bertemu dengan Lience Wenas, perempuan Indonesia, yang tengah menjenguk kakaknya.

Tiap minggu berjumpa kedua insan beda bangsa itu menjalin keakraban dan jatuh cinta. Singkat cerita, “Menikahlah Yang Chil Sung dengan perempuan pribumi itu,” demikian menurut keterangan KBS.

Belum lama Chil Sung-Lience menikah, Jepang takluk kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945. Tiga hari kemudian, Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka. Situasi tersebut membuat masa depan orang-orang Korea yang bekerja untuk militer Jepang, termasuk Chil Sung, suram. Kendati senang terbebas dari kekuasaan Jepang, mereka khawatir akan diperlakukan sebagai penjahat perang oleh Sekutu.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Komentar anda
Yang Chil Sung dan Hasegawa sesaat setelah ditangkap Yon 3-14 RI.
Foto
Yang Chil Sung dan Hasegawa sesaat setelah ditangkap Yon 3-14 RI.
Foto