Pilih Bahasa: Indonesia

Gedung Sarekat Islam Makin Terbengkalai

Saksi bisu sejarah pergerakan nasional itu kini mendekati kehancuran. Pemerintah harus bertindak cepat.
Gedung Sarekat Islam di Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang.
Historia
pengunjung
6.3k

GEDUNG yang diduga kuat pernah menjadi pusat kegiatan Sarekat Islam (SI) makin merana. Bangunan yang berada di Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang itu terbengkalai. Atap bangunan bertambah rusak. Saat musim hujan lalu, sebagian atap bahkan ada yang runtuh.

Kondisi itu diperkirakan bertambah parah mengingat tak ada upaya penyelamatan. Lantai bangunan juga terlihat main tak terawat. Tulisan S.I. yang menandai tempat itu pernah digunakan untuk aktivitas SI juga memudar. Jika tak dilakukan upaya penyelamatan segera, dikhawatirkan situs sejarah tersebut bakal hancur.

Rukardi Ahmadi, penulis sejarah di Semarang, mengungkapkan pihaknya baru-baru ini telah bertemu dengan Plt. Wali Kota Semarang. Dalam pertemuan tersebut, dia berharap pemerintah kota (Pemkot) bisa mengambil kebijakan untuk menyelamatkan bangunan bersejarah tersebut.

“Beberapa hari lalu, saya dan beberapa rekan sudah bertemu dengan Plt Wali Kota. Dia mengungkapkan keprihatinannya dan siap untuk mendukung upaya penyelamatan. Hanya saja, pihaknya harus menelusuri kepemilikan lahannya,” kata Rukardi saat ditemui Historia, Rabu (15/4) lalu di Semarang.

Selain itu, Pemkot melalui Dinas Tata Kota dan Permukiman, juga akan menyurati Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) tentang keberadaan gedung. Selama ini, BPCB yang berkedudukan di Klaten sendiri cukup aktif menjalankan konservasi di gedung-gedung tua yang ada di Semarang.

Berdasarkan keterangan lisan dari Abdulrosjid, juru kunci bangunan, gedung SI itu mulai dipersiapkan pembangunannya pada 1916. Tanahnya sumbangan dari Tas’an bin Tasripin, anak tertua saudagar penyamakan kulit yang juga anggota SI. Sejak 2008 gedung tak lagi digunakan karena mulai rusak dimakan usia.

Semasa masih digunakan, gedung itu juga dikenal sebagai Gedung Rakyat Indonesia (GRI). Dari buku Soekirno (1956) diperoleh keterangan bahwa pembangunan gedung SI tersebut dimulai pada 1919 dan selesai setahun kemudian. Dana pembangunan diperoleh dari iuran anggota SI.

Hal senada dikemukakan oleh sejarawan Universitas Diponegoro Dewi Yuliati yang menyayangkan terbengkalainya bangunan bersejarah itu. “Itu gedung bersejarah, dibangun dengan dana gotong royong anggota Sarekat Islam yang saat itu dipimpin oleh Semaoen,” kata Dewi.

Menurut Dewi gedung itu jadi saksi bisu gerakan politik antipenjajahan di Semarang bergolak sepanjang awal abad 20. “Di gedung itu sering diadakan vergadering (pertemuan -Red), namun kalau vergadering besar biasanya diadakan di alun-alun Semarang,” kata penulis buku Semaoen: Pers Bumiputera dan Radikalisasi Sarekat Islam Semarang itu.

Kegiatan SI sejak masuknya Semaoen ke Semarang sangat dinamis dan mengalami radikalisasi. Tokoh-tokoh pergerakan seperti Tan Malaka, yang kemudian menjadi salah satu ketua PKI (Partai Komunis Indonesia) sebelum diasingkan ke Belanda, pun menetap di Semarang. Tan Malaka menyelenggarakan sekolah gratis bagi anak-anak buruh anggota SI di Semarang.

Dewi menduga kemungkinan besar sekolah anak-anak buruh yang didirikan oleh Tan Malaka pun menggunakan gedung yang sama. Apalagi melihat fakta gedung tersebut merupakan pusat kegiatan SI cabang Semarang sejak 1916. “Gedung itu juga pernah digunakan sebagai sekolah yang diasuh Tan Malaka, namun sebelum ada gedung itu, sekolah diselenggarakan di rumah-rumah anggota SI,” ujar Dewi.

Tan Malaka adalah anggota SI Semarang. Sejak 1921 dia terpilih menjadi ketua SI Semarang dan Ketua PKI setelah saat Semaoen ke Rusia untuk menghadiri kongres buruh. Pada 1922 Tan Malaka diasingkan ke Belanda atas tuduhan subversif karena menggalang pemogokan buruh pegadaian.

Beberapa pemerhati sejarah di Semarang menyarankan agar tempat itu segera didokumentasikan. Hal itu merupakan langkah awal yang bisa dilakukan mengingat upaya penyelamatan tak kunjung bisa ditempuh.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Gedung Sarekat Islam di Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang.
Gedung Sarekat Islam di Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang.