Pilih Bahasa: Indonesia

Dua Faksi Partai Masyumi

Sebagai partai Islam besar, Masyumi tak luput dari konflik internal. Kaum sosialis-religius versus konservatif punya tafsirnya sendiri-sendiri menyoal penerapan Islam.
 
Presiden Sukarno dan Mohammad Natsir di acara Muktamar Masyumi, 1954.
Foto
Historia
pengunjung
6.1k

SEJAK didirikan, ada dua arus pemikiran di dalam Masyumi. Kahin menyebut dua kelompok itu adalah kaum sosialis-religius dan para pemuka agama yang konservatif dan berasal dari golongan tua. “Umumnya silang pendapat dalam tubuh Masyumi adalah perihal penafsiran apa dan bagaimana nilai-nilai sosial Islam hendaknya diterapkan di Indonesia,” tulis Kahin.

Kelompok sosialis-religius, yang dipimpin Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, dan Mohammad Roem menemukan pijakan yang sama dengan kaum sosialis moderat pengikut Sjahrir maupun para pemimpin progresif dari Partai Kristen. Sementara kelompok konservatif, golongan tua, dipimpin Dr Sukiman dan Jusuf Wibisono.

Dua arus pemikiran itu sering disebut sebagai konflik antargenerasi. Menurut Remy Madinier dalam Partai Masjumi: Antara Godaan Demokrasi & Islam Integral, perbedaan itu juga bisa dilihat dari simpul-simpul yang terjalin selama tahun-tahun 1930-an.

Sukiman, seorang Jawa, sudah memulai karier panjang di dunia politik sebelum masa perang. Pernah memimpin Perhimpunan Indonesia, menjadi anggota Sarekat Islam (kemudian jadi Partai Sarekat Islam Indonesia/PSII), dan membidani Partai Islam Indonesia (PII) yang menerima anggota dari organisasi lain seperti Muhammadiyah. Semasa pendudukan Jepang, dia menjadi anggota Majelis Islam A’la Indonesia.

Natsir mula-mula bekerja sebagai guru di Persatuan Islam, lalu bergabung dengan Jong Islamieten Bond (JIB) dan PII. DI JIB, dia bergaul erat dengan Kasman Singodimedjo, Roem, Jusuf Wibisono, Boerhanuddin Harahap, dan Sjafruddin. Sementara di PII, dia mengenal Isa Anshary.

“Sukiman memasuki agama melalui politik, dan sepak terjang perjuangannya selalu tak lepas dari urutan prioritas tersebut. Sedangkan Natsir menempuh jalan sebaliknya,” tulis Remy Madinier.

Organisasi istimewa yang bergabung ke Masyumi terseret dalam arus; Muhammadiyah mewakili sayap moderat dan Nahdlatul Ulama (NU) sayap konservatif. Anggota organisasi lainnya memiliki pandangan yang terkadang berbeda. Persatuan Islam, misalnya, menunjukkan suara “Islam radikal”, yang tak henti mengupayakan pembentukan negara Islam dan penerapan hukum Islam.

“Hubungan antara faksi-faksi Muslim selalu sulit dan, meskipun ada upaya untuk menjaga perbedaan doktrinal dan praktis dalam perspektif umum, ada gesekan kuat yang sulit diatasi saat-saat krisis dan menentukan,” tulis Howard M Federspiel dalam Islam and Ideology in the Emerging Indonesian State.

Lebih lengkap baca laporan utama Riwayat Masyumi Menuji Sunyi di majalah Historia Nomor 16 Tahun II 2013

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Presiden Sukarno dan Mohammad Natsir di acara Muktamar Masyumi, 1954.
Foto
Presiden Sukarno dan Mohammad Natsir di acara Muktamar Masyumi, 1954.
Foto