Pilih Bahasa: Indonesia

Dari Opsus sampai Sanlat

Upaya menangani tawuran dilakukan mulai dari operasi khusus sampai pesantren kilat.
Historia
Historia
pengunjung
5.9k

TAWURAN pelajar kembali merenggut korban jiwa. Alawy Yusianto Putra (15), siswa SMAN 6 Jakarta, tewas setelah dia dan teman-temannya diserang siswa SMAN 70. Kabarnya, permusuhan kedua SMA yang bertetangga itu telah bebuyutan.

Menurut sejarawan Universitas Leiden, Belanda, Kees van Dijk, perkelahian antarpelajar dapat berlangsung bertahun-tahun karena saat memulai tahun pertama bersekolah, para pelajar baru diberi tahu oleh anak-anak yang lebih senior mana saja sekolah yang merupakan musuh mereka.

“Permusuhan ini menjadi dendam warisan; kadang-kadang mengakibatkan dua atau tiga perkelahian dalam satu minggu,” tulis Van Dijk dalam Orde Zonder Order. “Beberapa pelajar yang terlibat di dalam keributan seperti ini menganggapnya, semacam olahraga, suatu latihan fisik.”

Ali Sadikin, gubernur DKI Jakarta (1966-1977), menyadari pentingnya membina para remaja. Untuk itu, dia membangun gelanggang-gelanggang remaja. “Itu tidak lain guna memberi saluran, wadah, dan tempat kepada remaja agar menggunakan waktu senggang mereka untuk tujuan yang lebih baik. Daripada luntang-lantung di jalan, saling menggoda, saling mengganggu (yang berujung pada tawuran-Red), lebih baik saya salurkan para remaja itu kepada sesuatu yang positif,” kata Ali Sadikin dalam memoarnya Bang Ali, Demi Jakarta 1966-1977 karya Ramadhan KH.

“Saya lihat tempat-tempat itu penuh dengan kaum remaja yang mempergunakannya dengan berbagai kegiatan,” kata Ali. Tentu saja, sebagian remaja yang menyadari bakatnya dia akan menyalurkannya di gelanggang remaja, tapi sebagian remaja lainnya memilih melampiaskan potensi emosinya di jalanan dengan tawuran.

Kebrutalan pelajar, tawuran, dan perang batu terus mewabah di Jakarta. Sejak 1987, tercatat antara 100 hingga 300 kasus per tahun; menurun pada 1989 dan 1990 ketika hanya 86 insiden. Naik lagi pada 1991, mencapai 260 kasus dengan lima orang meninggal. Pada 1992 terjadi 148 kasus, sembilan orang –sumber lain menyebut sebelas orang– meninggal. Dan pada 1995, tercatat 13 pelajar tewas di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. Pasca Orde Baru, kasus tawuran tetap tinggi. Tragisnya, terus memakan korban jiwa.

Kian meningkatnya tawuran di Jakarta mendorong perlunya dilancarkan operasi khusus (opsus). Pada Juli 1986 dibentuk Badan Pembina Ketahanan Sekolah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Badan ini mengidentifikasi kehadiran warung-warung dan kios kaki-lima, di dekat sekolah menyumbang masalah bagi sekolah. Dengan demikian, pada akhir 1987 dan kemudian Januari 1988 sebanyak 45 kios kaki-lima dihancurkan dalam suatu upaya untuk menghindari katalis bagi kekerasan oleh pelajar, dan 40 kaki-lima “ditertibkan,” dengan kata lain diusir. Warung juga menjadi sasaran karena anak-anak sekolah menyembunyikan senjata-senjata mereka di sana. Sementara itu, pemilik warung terkesan takut kepada pelajar-pelajar itu.

Menurut Van Dijk, pada pertengahan Oktober 1992 Operasi Wijaya Kusuma dilancarkan. Operasi khusus ini dirancang dengan cara yang sama dengan razia yang sesekali dilakukan untuk membersihkan kota. Hampir 6.000 pelajar ditahan, dan sekitar 1.200 senjata, baik tajam maupun tumpul disita, demikian pula ribuan batu. Upaya lain seperti ini juga dibuat pada April 1996. Selama tiga hari Operasi Kilat Jaya dilakukan terhadap pelajar-pelajar di Jakarta, Tangerang, Depok, dan Bekasi yang tengah berkumpul di pusat perbelanjaan, tempat pemberhentian bus, tempat bilyar, pusat ding-dong, dan tempat serupa lainnya selama jam sekolah; menjadi sasaran operasi polisi ini. Sebanyak 800 pelajar ditahan, 300 hingga 400 di antaranya membawa senjata tajam, pornografi, atau obat-obat terlarang.

“Salah satu tujuan dari Operasi Wijaya Kusuma ini adalah untuk menahan semakin besarnya gelombang perkelahian pelajar,” tulis Van Dijk.

Presiden Soeharto menganggap tingginya frekuensi kekerasan antarpelajar karena kemerosotan moral. Selain tindakan keras bagi pelaku tawuran, Soeharto juga mencanangkan pesantren kilat (sanlat) pada 14 Juni 1996. Pelajar-pelajar dari sekolah dasar sampai sekolah menengah yang mendapatkan libur pada bulan puasa harus menghabiskan waktu selama 10-15 hari untuk mengikuti pendidikan agama ini.

“Ini merupakan senjata yang sangat penting, presiden menjelaskan, dalam upaya untuk membasmi kemerosotan moral, karena tidak semua orangtua mempunyai waktu untuk mengajarkan tentang moral kepada anak-anak mereka di rumah,” catat Van Dijk. "Permintaan Soeharto muncul setelah terjadi perkelahian antara mahasiswa Universitas Trisakti dan pelajar sekolah menengah yang letaknya tidak terlalu jauh dari universitas tersebut."

Pada akhirnya, operasi khusus, pesantren kilat, dan pembinaan pelajar lainnya hanyalah ikhtiar untuk mengurangi tawuran. Pemutus rantai tawuran adalah pelajar itu sendiri. Seperti nasihat Bang Ali Sadikin: “Orang-orang tua bolehlah memberikan bimbingan dan dorongan atau bantuan seperti halnya pemerintah daerah Jakarta. Tetapi, remaja diselamatkan oleh remaja sendiri. Itu amat penting.”

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Komentar anda
Historia
Historia