Pilih Bahasa: Indonesia
60 Tahun Peristiwa Penggranatan Cikini

Dari Kursus Hingga Percik

Mulanya hanya lembaga kursus bahasa Indonesia. Dengan cepat ia menjelma jadi sekolah elite.
 
Sekolah Perguruan Cikini.
foto
Historia
pengunjung
1k

DENGAN antusias, pria paruh baya itu berjalan menuju sebuah ruangan tak jauh dari meja kerjanya. Di depan pintu masuk ruangan itu, dia berhenti lalu menunjukkan sesuatu.

“Coba, pernahkah Mas melihat tembok yang tebalnya segini? Ini tembok semua, setebal ini,” ujar Susiyanto, direktur pendidikan dasar dan menengah Yayasan Perguruan Cikini (Percik), kepada Historia.

Dinding tebal yang ditunjukkan Susiyanto itu merupakan dinding asli bangunan sekolah Percik yang masih tersisa. Dinding itu saksi bisu perjalanan sejarah Percik.

Percik mulanya hanya sebuah kursus bahasa Indonesia yang didirikan pada awal masa pendudukan Jepang. Kala itu, pemerintah pendudukan Jepang melakukan pengawaasan ketat terhadap sekolah-sekolah. Sementara sekolah swasta dilarang. Banyak ibu gundah dengan kondisi ini. Salah satunya Ny. Pandoe Soeradhiningrat atau biasa dipanggil Mak Umi, putri bupati Ciamis yang jadi istri wakil kepala Gunseibu Jawa Barat.

“Perasaan kesukaran hati kami, kaum ibu yang memikirkan nasib anak-anaknya tak dapat digambarkan di sini, lebih-lebih perasaan kami ketika membaca pengumuman bahwa sekolah-sekolah di seluruh kota Jakarta harus ditutup. Sudah terang akibatnya anak-anak akan menggelandang tiap hari di jalan-jalan, dan keadaan demikian ini sungguh menyedihkan kami, sebagai orangtua yang bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak,” tulis Ny. Pandoe dalam Buku Peringatan 10 Tahun Sekolah Rakjat “Tjikini”, 1 Agustus 1952, dikutip dari https://perciktugas93.weebly.com/.

Ny. Pandoe tak sendirian. Keprihatinan yang sama dirasakan ibu-ibu lainnya. Salah satunya Ny. Soeminah Djojodigoeno.

“Tidak dapat kubayangkan, memikirkan nasib putra-putriku yang tanpa pendidikan. Mereka mungkin tak punya arah dalam hidupnya, karena modal yang utama dan tak akan hilang tidak mereka miliki, yaitu ilmu pengetahuan,” ujar Ny. Soeminah dalam “Perang Melawan Ketidaktahuan”, dimuat Sumbangsihku bagi Pertiwi suntingan Lasmidjah Hardi.

Dalam kondisi itu, terbit gagasan untuk mendirikan kursus bahasa Indonesia. Terbentuklah sebuah panitia (pengurus) yang terdiri atas Ny. Pandoe, Ny. Soeminah, Ny, Djuanda, Ny. Thayeb, dan Ny. Abdulkadir yang bertugas menyelenggarakan kursus tersebut. Murid pertamanya ada 11 anak.

“Itu pun terdiri dari anak-anak panitia sendiri yang tidak sama umur serta tingkat pendidikannya,” ujar Ny. Soeminah.

Dibantu seorang guru bernama Mien Soemadji atau dikenal dengan Mien Jubleg, anak seorang mantri jururawat RSUP di Jalan Cikini Raya, kursus bahasa Indonesia mulai dijalankan pada 1942. Kursus itu menempati sebuah garasi rumah milik dr. Rasyid di Nieuwelaan (kini Jalan Kramat VIII).

Mengelabui Penguasa

Awalnya, kursus itu hanya memiliki 12 murid. Jumlah itu bertambah dalam waktu singkat. Salah satu daya tariknya, kursus itu tak semata memberikan pelajaran bahasa Indonesia.

“Kursus itu sebenarnya ya untuk mengelabui (penguasa Jepang),” ujar Susiyanto.

Lantaran ruang kursus tak lagi memadai untuk menampung murid yang terus bertambah, pengurus memindahkan aktivitas belajar ke sebuah sekolah rakyat di Jalan Kernolong (kini Jalan Kramat IV). Rupanya itu hanya sementara.

Pada 1 Agustus 1942, lembaga kursus itu pindah ke Jalan Kramat No. 31A dan berganti nama jadi Sekolah Rakyat Partikelir (SRP) Mayumi –“mayumi” artinya anak panah– di bawah pengelolaan Badan Wakaf Mayumi. Empat bulan kemudian, SRP Mayumi pindah ke Jalan Cikini Raya No. 76.

“Lahannya sepengetahuan saya dari hibah,” kata Susiyanto.

Saat itu, SRP Mayumi memiliki 200 murid yang terbagi dalam lima kelas sekolah dasar plus satu kelas taman kanak-kanak.

Salah satu muridnya adalah Firman Lubis, yang masuk SRP Mayumi tahun 1947. Dalam bukunya Jakarta 1950-an: Kenangan Semasa Remaja, Lubis mengenang SRP Mayumi hanyalah sekolah biasa saja.

“Gedungnya belum sebaik dan sekokoh seperti beberapa tahun kemudian, masih satu lantai sederhana sekali, bahkan ada beberapa kelas tambahan yang dindingnya terbuat dari gedek bambu,” tulisnya.

“Dulu, saya kira gedung sekolah ini hanya rumah tinggal biasa. Tetapi karena terletak di daerah elite, bangunannya cukup besar dengan beberapa ruangan yang kemudian dijadikan kelas, serta pekarangan yang cukup luas.”

Untuk mendapatkan status hukum, pengurus Badan Wakaf Mayumi membentuk Yayasan Perguruan Cikini (Percik) dengan akta notaris No. 37 tertanggal 27 September 1952. Percik diketuai RA Abdoel Rachman. Tujuan yayasan: mendirikan dan memelihara beberapa sekolah rendah, sekolah menengah, dan sekolah menengah atas untuk anak laki-laki dan perempuan tanpa memandang latarbelakang agama dan politik.

Waktu itu, Yapecik memiliki 842 murid yang terbagi atas 19 kelas dan 16 guru biasa, seorang guru agama Islam, seorang juru rawat, dan seorang penjaga kelas.

Dengan terbentuknya Percik, upaya mengembangkan sekolah terbuka lebar.

Sekolah Elite

Meski tak ditujukan untuk kalangan elite, sekolah Percik yang berada di pusat ibukota menarik orang-orang gedongan, pejabat, bahkan Presiden Sukarno untuk menyekolahkan anak mereka di sana. Dengan cepat Percik dikenal sebagai sekolah kaum elite.

Guna menampung lulusan sekolah dasar, Percik membuat kelas percobaan untuk sekolah menengah pertama (SMP). Awalnya, kegiatan belajar-mengajar dilakukan di bawah pohon sawo di lapangan sekolah.

“Baru dua tahun kelas pohon sawo punya banyak murid. Makanya dipersiapkan betul, berupaya menambah ruang dengan membangun di seberang sana, yang sekarang dipakai taman kanak-kanak dan SMP,” kata Susiyanto.

Maka, pada 15 Agustus 1956 dibukalah SMP Perguruan Cikini dengan kelas 1 dan 2, disusul dengan dibukanya kelas 3 setahun kemudian. Muridnya kebanyakan penduduk sekitar.

“Kami semua SMP di Percik. Teman-teman kami itu Guruh (Sukarnoputra, putra bungsu Presiden Sukarno); anak Ibnu Sutowo; Sigit (Harjojudanto, putra Presiden Soeharto), itu di atas kami,” ujar Luki, putri sulung Mangil Martowidjojo, kepada Historia. “Banyak kok yang anak Percik. Anak-anak Bung Karno di sana semua; anak Jenderal Nasution, Yanti, itu di atas kita; anak Adam Malik juga di sana.”

Atas bantuan seorang donatur, lahan Percik bertambah. Namun penambahan lahan itu tetap tak mencukupi ketika Percik membuka sekolah menengah atas (SMA) pada 1 September 1959, yang terdiri dari satu kelas bagian B (ilmu pasti) dan satu kelas bagian C (sosial/ekonomi).

Terlebih lagi pada 1960, Akademi Teknik Nasional (kini, Institut Sains dan Teknologi Nasional atau ISTN) mulai menyewa lima ruangan Percik untuk mahasiswa tingkat II, III, dan IV. Bahkan pada 1 Juni 1963, Badan Pengawas Yayasan Akademi Teknik Nasional menyerahkan pengelolaan ATN kepada Percik.

ATN didirikan pada 5 Desember 1950 oleh Roosseno Soerjohadikoesoemo, insinyur Indonesia terkemuka yang kemudian menjabat menteri pekerjaan umum dan tenaga serta menteri perhubungan.

Minimnya lahan disiasati Percik dengan membuka sekolah-sekolah di tempat lain, baik di Jakarta maupun kota lain. Percik juga membuka sekolah menengah kejuruan (SMK) dan pendidikan nonformal.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Sekolah Perguruan Cikini.
foto
Sekolah Perguruan Cikini.
foto