Pilih Bahasa: Indonesia
Listrik Masuk Desa (1)

Dari Filipina ke Indonesia

Gagasan Listrik Masuk Desa tak berjalan. Penguasa Orde Baru mencopot penggagasnya karena orang Orde Lama.
 
Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Bengkulu.
Foto
Historia
pengunjung
2.4k

SETIAP senja, Desa Keseneng pada 1970-an seperti tak berpenghuni. Gelap dan sepi. Sebagian penduduk desa menggunakan lampu petromak yang berbahan bakar minyak tanah sebagai sarana penerangan di rumah.

“Itu pun hanya dimiliki segelintir orang seperti perangkat desa. Sebagian besar masyarakat masih menggunakan senthir (lampu minyak kelapa) untuk penerangan rumah,” ujar Basuki, 55 tahun, kepala dusun Keseneng, kepada Historia.

Keseneng merupakan satu dari tiga dusun di Desa Keseneng; dua dusun lainnya adalah Tlawah dan Keseseh. Desa ini masuk dalam lingkungan Kabupaten Semarang yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kendal. Lokasinya terselip di lembah Gunung Ungaran, dan berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut.

“Listrik baru masuk Keseneng, seingat saya, menjelang Pak Harto lengser,” ujar Basuki, yang telah 24 tahun menjadi kepala dusun. Setelah listrik masuk, perlahan desa ini melepaskan predikatnya sebagai desa tertinggal.

Listrik Masuk Desa menjadi program andalan pemerintah Orde Baru, bahkan bahan kampanye untuk mendulang suara demi kemenangan partai berkuasa. Pemerataan informasi dan peningkatan taraf hidup masyarakat, terutama di pedesaan, menjadi tujuan normatif proyek ini.

Tertarik Filipina

Pada Agustus 1966, pemerintah membentuk Direktorat Jenderal Tenaga dan Listrik (Gatrik), yang membawahkan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Di bawah kepemimpinan Ahmad Mohammad Hoesni, Gatrik mulai memikirkan program elektrifikasi nasional, termasuk ke wilayah-wilayah pedesaan.

Program listrik pedesaan menjadi tema diskusi hangat dalam dua lokakarya yang dihelat Gatrik pada Agustus 1969 dan Maret 1970. Lokakarya tersebut menghasilkan puluhan rekomendasi untuk pemerintah.

“Ia juga dengan jelas menerangkan program listrik pedesaan sebagai sebuah basis untuk menyediakan pasokan listrik bagi permukiman di bawah tingkat kecamatan yang tidak terkoneksi jaringan listrik PLN,” tulis Anto Mohsin, doktor lulusan Sains dan Teknologi Universitas Cornell, dalam “Wiring the New Order: Indonesian Village Electrification and Patrimonial Technopolitics (1966-1998),” Journal of Social Issues in Southeast Asia Vol. 29 No. 1 tahun 2004.

Namun gagasan tersebut menguap begitu saja begitu Hoesni dan Direktur PLN Amir Hoesein dicopot dari kedudukannya pada 1970. Alasannya, catat Anto Mohsin, terindikasi terpengaruh kekuatan Orde Lama. Fungsi dan wewenang Dirjen Gatrik dipreteli sebelum akhirnya dibubarkan pada 1973 dan kemudian diserahkan kepada PLN.

Kendati memegang tanggungjawab untuk semua segi pelistrikan di Indonesia, PLN memiliki banyak keterbatasan. Biaya operasionalnya tinggi. Sistem pembangkit dan distribusi listriknya usang. Kapasitas pembangkit listriknya pun masih rendah. Angin segar berhembus ketika datang tawaran bantuan dari United States Agency for International Development (USAID) tentang kemungkinan menerapkan program listrik pedesaan seperti yang dilakukan di Filipina.

Di Filipina, dengan bantuan USAID, program listrik pedesaan dimulai dengan pembentukan dua koperasi listrik pedesaan sebagai pilot project di Minandao Utara dan Pulau Negros, dengan menggunakan model di Amerika Serikat pada 1930-an. National Rural Electric Cooperative Association (NRECA), yang membangun koperasi listrik pedesaan di negara-negara berkembang seperti Amerika Latin dan Asia, menyediakan asistensi pembentukan koperasi tersebut.

“Kendati menemui masalah dan hambatan, program tersebut berhasil mengalirkan listrik ke jutaan rumah. Pada 1970-an terjadi peningkatan pesat, dengan lebih dari seratus koperasi listrik pedesaan terbentuk dan satu juta keluarga pedesaan mendapatkan suplai listrik,” tulis Gerald Foley dan Jose D. Logarta Jr., “Power and Politics in the Phillipines”, termuat dalam The Challenge of Rural Electrification: Strategies for Developing Countries suntingan Douglas F. Barnes.

Tawaran USAID itu mendapat sambutan hangat.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Bengkulu.
Foto
Pusat Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Bengkulu.
Foto