Pilih Bahasa: Indonesia

Cerita Sebuah Pengkhianatan

Seorang perwira Divisi Siliwangi menyerah kepada militer Belanda. Pasca perang, sempat menjadi politisi dan aktif di partai politik pemerintah.
 
Mayor Sachdi bersama para serdadu Belanda di Purwakarta.
Foto
Historia
pengunjung
9.9k

Enam lembar foto milik Gahetna (Arsip Nasional Belanda) itu berbicara banyak. Di foto-foto usang itu nampak seorang perwira TNI (Tentara Nasional Indonesia) berpangkat mayor tengah bergaul akrab dengan para serdadu Belanda: merokok bareng dan tertawa-tawa gembira. Di bagian lain, terlihat lelaki bertubuh kecil itu berbicara di depan sekumpulan warga.

“Seorang mayor TNI sedang memberikan penjelasan kepada penduduk Purwakarta…”tulis keterangan yang dilansir oleh Gahetna.

Achmad Sachdi, nama lelaki itu, sejatinya adalah seorang perwira kharismatik yang sangat populer di wilayah Purwakarta dan Karawang pada 1946-1949. Dalam buku Siliwangi dari Masa ke Masa cetakan 1968, disebutkan Sachdi saat berpangkat kapten (1946) adalah Komandan Batalyon Banteng, di bawah Letnan Kolonel Umar Bachsan, Komandan Resimen Purwakarta (bagian dari Brigade III Kian Santang Divisi Siliwangi).

“Dia membawahi wilayah Plered-Cikalong Kulon,” ungkap Hengky Firman, peneliti sejarah dari Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Menurut Firman, ketika militer Belanda melakukan Agresi ke-1 pada Juli 1947, Plered termasuk wilayah yang diserang dan berhasil dikuasai oleh mereka. Guna melanjutkan perlawanan, Sachdi dan pasukannya menyingkir ke hutan-hutan sekitar Plered. Mereka membangun basis perlawanan di sebuah kawasan bernama Palinggian.

Duapuluh hari setelah penyerangan militer Belanda ke Plered, pada 14 Agustus 1947, Sachdi yang sudah diangkat menjadi seorang mayor lantas mengadakan sebuah pertemuan dengan lasykar-lasykar rakyat di Palinggian. Mereka sepakat bahwa perlawanan terhadap militer Belanda harus dijalankan lewat aksi bersama, tidak sendiri-sendiri. Sebagai pusat koordinasi dipilih markas Batalyon Sachdi di Palinggian. Maka dari tempat itulah, gabungan tentara-lasykar kerap menjalankan aksi gerilya dengan melakukan penyangongan (penghadangan) patrol-patroli tentara Belanda yang lewat.

Usai Perjanjian Renville disepakati Indonesia dan Belanda pada Desember 1947, Divisi Siliwangi harus hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta. Batalyon Sachdi termasuk pasukan yang harus meninggalkan basisnya di Palinggian. Singkat cerita, mereka kemudian ditempatkan di wilayah Muntilan, Magelang dan belakangan aktif terlibat dalam operasi penumpasan gerakan FDR (Front Demokrasi Rakjat) pimpinan Moeso pada September-November 1948.

Minggu, 19 Desember 1948, militer Belanda menjalankan aksi Agresi ke-2 secara tiba-tiba. Sesuai perintah Panglima Besar TNI Jenderal Soedirma, Divisi Siliwangi lantas melakukan aksi long march (perjalanan panjang) kembali ke Jawa Barat. Batalyon V pimpinan Sachdi berangkat dari Muntilan pada 19 Desember 1948 menuju ke Palinggian. Mereka bergerak dengan melalui rute Muntilan-Gunung Slamet-Kuningan-Sumedang-Taringgul (Purwakarta).

Malangnya, pada 19 Februari 1949 ketika mereka sampai wilayah Bantarujeg, suatu pasukan besar Belanda menyergap pergerakan Sachdi dan anak buahnya. Setelah melalui pertempuran hebat, akhirnya sebagian besar pasukan berhasil ditawan militer Belanda termasuk Mayor Sachdi.

Namun soal menyerahnya Mayor Sachdi usai melakukan perlawanan hebat dibantah oleh Gar Soepangat (89), eks perwira dari Satoean Pemberontak 88 (SP 88). Itu nama suatu kesatuan khusus yang dirancang untuk mengadakan perlawanan selama Jawa Barat ditinggalkan oleh Divisi Siliwangi.

Menurut Gar, sepulang long march, Sachdi merasa patah harapan untuk mengalahkan militer Belanda yang menurutnya serba kuat dalam segala hal. Dengan dalih, anak buahnya sudah lelah berperang, Mayor Sachdi lantas menyerahkan diri ke militer Belanda dan menjalankan perjanjian gencatan senjata sepihak.

“Sebagian besar anak buahnya tidak terima dan lebih memilih balik ke hutan untuk melakukan perlawanan,”ujar eks anggota intelijen SP 88 untuk wilayah Purwakarta itu.

Sachdi kemudian “direkrut” oleh pihak militer Belanda untuk mensosialisasikan “gencatan senjata” sepihak tersebut kepada para anak buahnya yang masih memilih bertahan di hutan-hutan. Gar masih ingat, bagaimana sang mayor berkeliling ke pelosok-pelosok dengan membawa pengeras suara seraya berseru agar para pejuang Indonesia menyudahi permusuhannya dengan tentara Belanda.

“Dia berkeliling kayak tukang obat dan hidup enak, sementara kami bertahan di hutan-hutan. Saya dan kawan-kawan tentunya tak akan pernah melupakan pengkhianatannya itu…”ujar Gar.

Usai perang berakhir, Sachdi tetap eksis. Ia berhasil “lolos” karena kemampuan piawainya sebagai seorang politisi. Menurut Gar, sebelum meninggal pada tahun 1970-an, Sachdi dia ketahui aktif sebagai fungsionaris sebuah partai politik di era Orde Baru.

 
Terpopuler di Historia 
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Komentar anda
Mayor Sachdi bersama para serdadu Belanda di Purwakarta.
Foto
Mayor Sachdi bersama para serdadu Belanda di Purwakarta.
Foto