Pilih Bahasa: Indonesia
Sejarah Konflik Golkar (1)

Cerita Lawas Golkar Terpecah Belah

Beringin besar terdiri dari berbagai macam dahan-ranting organisasi. Begitu menang Pemilu, adu kuat rebutan pengaruh pun dimulai.
Gapura dengan tokoh mitologi dan spanduk Partai Golkar di Manado, 1990-1995.
Foto
Historia
pengunjung
4.8k

KONFLIK internal Golkar masuk babak baru. Golkar kubu Agung Laksono berusaha merombak total anggota fraksi Golkar di DPR, yang segera ditentang kubu Aburizal Bakrie. Jusuf Kalla, bekas ketua umum Golkar, berharap dua kubu lekas berdamai demi citra partai. Namun, konflik belum juga akan selesai karena gugatan kubu Aburizal Bakrie dikabulkan oleh putusan sela Pengadilan Tata Usaha Negara. Menilik sejarah, Golkar beberapa kali mengalami konflik internal dan perebutan pengaruh.

Golkar, semula dengan nama Sekber Golkar, berdiri pada 20 Oktober 1964. Ia disokong 97 organisasi kekaryaan, lalu mengembang hingga 201 organisasi. Pilar utamanya adalah Sentra Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), Koperasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro), dan Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) –dikenal dengan sebutan Trikarya. Golkar ikut pemilu 1971 dan menang, sehingga melegitimasi kuasa Soeharto. (Baca: Golkar Sebagai Pengganti Partai dan Golkar Perubahan dari Gerinda)

Andil terbesar untuk kemenangan Golkar berasal dari Korps Pegawai Negeri Republik Indonesia (Korpri), Pertahanan dan Keamanan (Hankam), dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS), lembaga pemikir kebijakan yang berkantor di Tanah Abang. Namun, usai pemilu 1971, mereka malah tak akur.

David Reeve, sejarawan asal Australia, menduga ada persaingan antarkelompok di Golkar. “Mungkin saja terjadi persaingan antara kelompok Ali Murtopo dan aliansi Hankam-Korpri; gesekan antara Hankam dan Korpri; persaingan antarsejumlah jenderal senior dari masing-masing kelompok ini, di mana semua jenderal menikmati akses sangat dekat dengan presiden; dan ketegangan sipil militer pada semua tingkatan,” tulis David dalam Golkar: Sejarah yang Hilang. Ali Murtopo, asisten pribadi Presiden Soeharto, lekat peranannya dalam pembentukan dan eksistensi CSIS.

Menurut Leo Suryadinata, sejarawan National University of Singapore, persaingan dan saling berebut pengaruh dalam Golkar tercermin dalam Musyawarah Nasional (Munas) Golkar 1973. Munas membicarakan beberapa hal tentang ciri Golkar, antara lain kekuasaan di Jakarta, dominasi militer, dan perebutan kekuasaan di berbagai kelompok. Trikarya dan Korpri menginginkan kursi ketua umum, sedangkan Hankam dan CSIS saling sikut untuk membatasi pengaruh satu sama lain.

Konflik Hankam dan CSIS bahkan muncul secara tersirat dalam pertunjukan sandiwara di sela-sela Munas. Berlakon “Raden Wijaya, Raja Majapahit”, sandiwara mengisahkan kemenangan Raden Wijaya atas tentara Kubilai Khan. “Mungkin ini dipersiapkan oleh kelompok Hankam yang mencoba mempermalukan kelompok Tanah Abang untuk memperlihatkan bahwa Hankam mempunyai pengaruh yang besar di Golkar,” tulis Leo dalam Golkar dan Militer: Studi Tentang Budaya Politik.

Hankam berhasil menghambat kelompok CSIS-Ali Murtopo yang sebelumnya mendominasi Golkar dengan terpilihnya Mayjen Soekowati sebagai ketua umum. Soekowati wafat pada tahun yang sama, dan posisinya diganti Kolonel Amir Murtono.

Pada saat bersamaan, Rahman Tolleng, seorang tokoh muda Golkar, menggagas Golkar agar menjadi partai modern. Dia berpendapat Golkar harus lepas dari militer dan birokrasi. Bagi dia, militer dan birokrasi ibarat alat bantu peluncur untuk satelit. “Saat satelit sudah berada di orbit, alat bantu itu harus dilepaskan,” kata Rahman, dikutip dw.de.

Gagasan Tolleng jadi polemik. Dia mendapat serangan dari kelompok Hankam dan Korpri. “Dalam tubuh Golkar sendiri banyak yang mencurigai Tolleng sebagai orang PSI. Apalagi korannya di Bandung senantiasa mengkritik pemerintah,” tulis Francois Raillon dalam Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia. PSI adalah singkatan dari Partai Sosialis Indonesia. (Baca: Kongsi Kaum Soska-Soski, Satu Partai Dua Watak, Ketika Tan Malaka Memilih Jadi Oposan, Bubarnya Kongsi Sosialis)

Sepakterjang Tolleng di Golkar berakhir setelah Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari). Golkar menganggapnya terlibat Malari sehingga memecatnya. (Baca: Malapetaka Politik Pertama)

Konflik di Golkar sendiri masih memanas.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 33 Tahun 3
Kejahatan Perang Belanda
Kisah ini kami hadirkan bukan untuk mengaburkan batas sikap tentang apa makna menjajah dan dijajah. Kami ingin membahas apa yang..
 
Gapura dengan tokoh mitologi dan spanduk Partai Golkar di Manado, 1990-1995.
Foto
Gapura dengan tokoh mitologi dan spanduk Partai Golkar di Manado, 1990-1995.
Foto