Pilih Bahasa: Indonesia
Cerita di Balik Lahirnya PSI (4)

Bubarnya Kongsi Sosialis

Partai kaum sosialis ini bubar di pengujung zaman revolusi. Amir dan Sjahrir memilih jalannya masing-masing.
Ketua umum PSI, Sutan Sjahrir, berpidato dalam rapat umum PSI di Lapangan Merdeka, Jakarta, 12 Juni 1955.
Foto
Historia
pengunjung
2.8k

SEBAGAI pengganti Sjahrir, Sukarno mengangkat Amir Sjarifuddin sebagai perdana menteri dalam dua kali periode (Juli 1947-Januari 1948). Ini diduga karena Sukarno-Hatta memerlukannya untuk perundingan selanjutnya dengan Belanda. “Ada kegetiran antara Sjahrir dan Amir, yang secara luas dianggap sebagai meninggalkan Sjahrir untuk menjadi perdana menteri,” tulis Mrazek.

Tapi kemudian Amir juga jatuh. Dia menyerahkan mandatnya pada 23 Januari 1948 karena Perjanjian Renville. Masyumi dan PNI menarik diri dari kabinet, tentara kecewa karena harus hijrah meninggalkan kantong-kantong pertahanannya. Kelompok Sjahrir mengkritik Perundingan Renville karena secara de facto wilayah Indonesia yang diakui tinggal sebagian Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Apa yang dilakukan Amir terhadap Sjahrir (menentang Perundingan Linggarjati, red), kita lakukan begitu terhadap Amir dalam Perundingan Renville,” kata LM Sitorus, pengikut Sjahrir yang menduduki bagian organisasi Partai Sosialis, dalam wawancara dengan Yuwono DP pada 6 September 1989.

Presiden Sukarno menunjuk Hatta untuk membentuk kabinet baru. Amir melancarkan oposisi dengan membentuk Front Demokrasi Rakyat, gabungan partai dan organisasi Sayap Kiri: Partai Sosialis, PKI, Pesindo, Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia, dan Barisan Tani Indonesia.

Tokoh gaek PKI, Musso tiba di Yogyakarta pada Agustus 1948 dengan membawa misi baru Kominform –perubahan dari Komintern pada 1947– dari Moskow. Dia mendorong fusi tiga partai bermazhab Marxisme-Leninisme: Partai Sosialis, PKI ilegal, dan PBI, menjadi PKI. PKI kemudian memimpin revolusi proletariat untuk mendirikan pemerintahan front nasional. Pecahlah Peristiwa Madiun 1948. (Baca: Akhir Tragis Republik Komunis)

Sementara itu, kelompok Sjahrir menyadari telah menjadi outsider dalam Partai Sosialis. Jika meneruskan perjuangan di dalam, mereka pasti dipecat. Sebelum dipecat, mereka keluar dari Partai Sosialis dan mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada 12 Februari 1948. Sedangkan kelompok Amir mempertahankan Partai Sosialis.

Menurut Gie, perpecahan Partai Sosialis memiliki arti mendalam. Amir merupakan gas, sementara Sjahrir merupakan rem. Partai Sosialis berjalan tanpa rem menjadi semakin radikal. Sementara itu, PSI yang kurang memiliki gas dalam perjuangan politik akhirnya mandek serta kehilangan vitalitas dan keberanian dalam merintis pemikiran-pemikiran politik baru. Tujuh tahun setelah berdirinya, PSI memfosil dan dikalahkan dalam pemilihan umum 1955.

Lebih lengkap baca majalah Historia No. 18 Tahun II 2014

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Ketua umum PSI, Sutan Sjahrir, berpidato dalam rapat umum PSI di Lapangan Merdeka, Jakarta, 12 Juni 1955.
Foto
Ketua umum PSI, Sutan Sjahrir, berpidato dalam rapat umum PSI di Lapangan Merdeka, Jakarta, 12 Juni 1955.
Foto