Pilih Bahasa: Indonesia

Balada Pelanduk di Tengah Perang

Ratusan ribu orang tewas dalam empat tahun perang Indonesia melawan Belanda. Sebagian besar rakyat sipil dan orang-orang biasa.
 
Para pengungsi di Sukabumi pada 1947.
Foto
Historia
pengunjung
2.4k

Kopral Kees mengeluh dalam catatan hariannya. Sebagai seorang anak muda Belanda,dirinya merasa tak beruntung harus menghadapi situasi-situasi yang kerap mengguncangkan jiwanya selama bertugas di Hindia. Puncaknya terjadi saat ia harus menyaksikan dua gadis kecil tengah menangis seraya memeluk tubuh kaku ibu dan adik kecil mereka di sebuah parit dangkal.

“ Keduanya terbunuh oleh satu peluru yang sama…” demikian ungkapan Kees, seperti dikutip oleh Gert Oostindie dalam buku Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1949.

Kendati belum ada angka pasti yang bisa melukiskan korban jiwa di pihak Indonesia, namun angka yang sering disebut adalah sekitar 100.000 jiwa. “ Tapi kalaupun jumlah itu betul, sudah bisa dipastikan sebagian besar adalah rakyat sipil yang kadang-kadang tak paham mengapa mereka harus mati,” ujar Gert kepada Historia.

Secara resmi, Belanda sendiri telah mengakui bahwa pihaknya termasuk dalam pelaku kejahatan perang seperti yang didefiniskan oleh Konvensi Jenewa. Excessennota menyebutkan 110 kasus kekerasan yang melibatkan serdadu Belanda di Indonesia, meliputi penyiksaan dan penembakan sewenang-wenang, salah satunya terhadap para warga sipil.

Ironisnya, mereka pun belum tentu juga berpihak kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI). Atjep Abidin, salah seorang veteran gerilyawan Indonesia, bahkan pernah menyaksikan sekelompok rakyat sipil yang tak memiliki keterkaitan dengan TNI dieksekusi oleh militer Belanda di wilayah Takokak, Cianjur Selatan.

“Saya tahu sekali, mereka yang ditembak itu hanya petani dan pegawai biasa saja,” ujar lelaki berusia 92 tahun itu.

Atjep menyebut saat itu, nasib warga sipil ibarat pelanduk yang mati di tengah-tengah dua gajah yang sedang bertarung. Jika suatu malam terjadi pertempuran hebat di suatu kampung, maka sudah bisa dipastikan warganya akan menjadi korban pembersihan keesokan harinya. Begitu pula jika suatu siang warga suatu kampung terlihat berinteraksi dengan militer Belanda, maka malam harinya mereka belum tentu masih bernyawa.

“Gerilyawan akan mencurigai mereka sebagai pro Belanda,”kata Atjep.

Banyak kisah yang terkait dengan “ekses” yang dilakukan oleh militer Belanda terhadap warga sipil. Yang paling terkenal adalah peristiwa pembantaian yang dipimpin oleh Kapten R.P.P.Westerling di Sulawesi Selatan (1946-1947) dan insiden penembakan massif rakyat sipil oleh sekelompok tentara Belanda di Rawagede, Jawa Barat pada 9 Desember 1947. Namun sejatinya masih banyak insiden kekerasan melibatkan militer Belanda terhadap rakyat sipil yang belum benar-benar terkuak.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Segera Terbit
 
Nomor 37 Tahun IV
Riwayat Syariat di Nusantara
Seiring berkembangnya komunitas muslim di Nusantara sebagai dampak arus perdagangan pada abad ke-13, jejak-jejak penerapan hukum Islam mulai bisa terlacak...
 
Para pengungsi di Sukabumi pada 1947.
Foto
Para pengungsi di Sukabumi pada 1947.
Foto