top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Sukarno dan Johny Indo Menemukan Tuhan di Penjara

Dengan membaca Al-Qur'an, Sukarno lebih percaya diri menghadapi hari-hari berat di penjara. Johny Indo menemukan Yesus.

30 Jul 2018

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Sukarno dan Johny Indo. (Gun Gun Gunadi/Historia.ID).

  • 30 Jul 2018
  • 5 menit membaca

Diperbarui: 26 Jan

BAGI sejumlah narapidana (napi), penjara tak bikin mereka menyadari kesalahannya. Mereka justru jadi lebih jahat dan pandai berbohong. Tapi buat segelintir orang lainnya, penjara telah memberi mereka gagasan dan pengalaman segar tentang agama. Misalnya, terjadi pada Sukarno dan Johny Indo.


Mari mulai dari Sukarno. “Saya pernah hidup di dalam penjara:  satu kali dalam penjara tahanan Banceuy di Bandung, dua kali di penjara besar Sukamiskin. Satu kali lagi di penjara Mataram, dan juga di penjara Surabaya,” tulis Sukarno dalam artikelnya “Propaganda Islam di dalam Pendjara”, termuat di Pedoman Masjarakat, 9 Maret 1938.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

Advertisement

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Kala Sultan Mehmed Memburu Dracula di Bulan Puasa

Murka karena utusannya dibantai dengan bengis, Sultan Mehmed II membalas dengan kekuatan penuh. Walau berhasil kabur, nasib Vlad Dracula berakhir tragis.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Pahit Getir Hidup Sjahrir

Pahit Getir Hidup Sjahrir

Menjelang akhir hayatnya, Sutan Sjahrir hidup sebagai tahanan dalam perawatan. Namun, justru pada saat itulah putrinya merasakan kehidupan sebagai keluarga yang utuh.
Gowa Masuk Islam

Gowa Masuk Islam

Islamisasi di Gowa dan Makassar makan waktu panjang meskipun raja-raja di sana sangat terbuka.
bottom of page