Si Jenderal Nyentrik

Aksi dan ide-idenya dikenal selalu nyeleneh. Egaliter dan tipikal komandan lapangan.

1515313617000
  • BAGIKAN
Si Jenderal Nyentrik
Mayor Jenderal Moestopo. Sumber: koleksi Moehkardi

Satya Graha masing ingat pertemuan itu. Ketika mendaftarkan diri untuk menjadi anggota Markas Besar Pertempuran (MBT) Djawa Timoer di Madiun, ternyata pimpinan pasukan Mayor Jenderal Moestopo-lah yang langsung mewawancarainya. Saat proses wawancara berlangsung, tetiba pelayan datang menyuguhi secangkir kopi. Alih-alih dinikmatinya, Moestopo malah langsung menggeser cangkir kopi itu ke hadapan Satya.

“Nih kamu minum saja kopinya, soalnya hanya satu cangkir,” ujar sang jenderal.

Moestopo memang dikenal anak buahnya sebagai sosok egaliter sekaligus nyeleneh. Ketika memimpin Divisi Mobil yang mengandalkan sebuah kereta api untuk melakukan operasinya, secara nekad ia kerap menyerang posisi militer Belanda dari atas kereta api yang dikendarai dengan kecepatan tinggi. Sambil bertempur, ia akan berdiri sambil berkacak pinggang di depan pintu kereta api yang terbuka dan berteriak dalam bahasa Belanda: “Heh kalian, kalau kalian belum mengenalku, catat namaku: Jenderal Moestopo!”

Dalam menunaikan tugasnya, kereta api tempur itu tak jarang berhenti sekonyong-konyong di tengah jalan. Itu dilakukan oleh masinisnya sekadar memenuhi perintah komandannya yang sedang kebelet buang air kecil.

Namun yang paling mengesankan para anak buahnya adalah kebiasaan Moestopo mengkonsumsi daging kucing. Menurut sejarawan Robert B. Cribb, itu dilakukan oleh sang jenderal guna “memelihara kemampuan tempurnya”. Alasannya sederhana saja: “…supaya dapat melihat dalam gelap layaknya mata seekor kucing,” tulis Cribb dalam Ganster and Revolutionaries, The Jakarta People’s Militia and Indonesian Revolution 1945-1949.

Saat memimpin sebuah unit pasukan bernama Pasukan TERATE (Tentara Rahasia Tertinggi) di front Subang, Jawa Barat, Moestopo pernah mendorong anggota pasukannya untuk melaksanakan kebiasaannya itu. Tentu saja, anggota Pasukan TERATE yang sebagian besar terdiri dari para maling dan pencopet itu “dengan penuh dedikasi” melaksanakan perintah sang pemimpinnya tersebut.

Tradisi nyeleneh itu sempat diketahui oleh Kepala Staf TRI, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. Ceritanya, suatu hari di tahun 1947, Moestopo mengajak Letjen Oerip meninjau pos terdepan pasukannya. Di suatu pos, tiba-tiba perhatian Letjen Oerip tertuju kepada deretan makam dengan nisan sederhana terpancang di atasnya.

“Itu makam?” tanya Letjen Oerip

“ Ya Jenderal!” jawab salah satu anggota pasukan Moestopo

“ Jadi banyak korban di sini?”

“ Ya..Ya..Jenderal,” ujar sang prajurit, kali ini dalam nada tergagap-gagap.

Dengan mimik serius, Oerip memperhatikan kembali makam-makam tersebut. Wajahnya sedikit mendung.

“ Tetapi maaf Jenderal…Itu bukan makam manusia…” ungkap si prajurit dalam nada agak segan.

“ Lha terus makam apa?”

“ Ehmm..Anu Jenderal…Itu hanya makam ayam, kambing dan…kucing, yang menjadi korban santapan kami sehari-hari…”

Konon sesungguhnya pembuatan komplek pemakaman binatang itu adalah idenya Mayor Jenderal Moestopo. Untuk apa? Ya, apa lagi jika bukan untuk menghormati jasa-jasa kucing dalam perjuangan karena “sudah bersedia disantap”.

mayor jenderal moestopo
  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK