Raffles dan Dua Abad The History of Java

Raffles tidak tahu terima kasih. Dia tidak menyebutkan para penyumbang bahan dalam karyanya The History of Java.

1488870219000
  • BAGIKAN
Raffles dan Dua Abad The History of Java
Achmad Sunjayadi, pengajar FIB UI dalam diskusi "Raffles dan Kita: 200th The History of Java" di gedung BPPI, Jalan Veteran I/27, Jakarta Pusat, (6/3). Foto: Aryono.

Thomas Stamford Raffles adalah pengingat yang jempolan. Dia tekun mendengarkan cerita-cerita dari beberapa kolega seperti Bupati Yogyakarta, Tan Jin Sing, dan Bupati Semarang Surohadimenggolo, tentang tempat-tempat eksotis di Jawa. Bukan itu saja, dia pun rajin mengumpulkan tulisan-tulisan terdahulu mengenai segala hal yang berhubungan dengan Jawa, terutama dari sisi budayanya. Dari situ, dia pun doyan jalan-jalan.

Maka tak heran, setahun setelah purnatugas di Hindia Belanda, dia menerbitkan karya besarnya, The History of Java pada 1817. Buku itu dibaca banyak orang Eropa dan mengundang hasrat beberapa pelancong untuk berkunjung ke Jawa. Beberapa lokasi eksotis yang pernah dicatat dalam The History of Java, hari ini pun menjadi destinasi pariwisata yang ramai.

“Menurut saya, Raffles sebagai orang yang mengeksploitasi daerah-daerah yang kini menjadi tujuan pariwisata. Dalam pandangan pariwisata sekarang, Raffles disebut perintis. Dia memperkenalkan daerah-daerah yang menarik untuk dikunjungi. The History of Java menjadi rujukan penjelajah yang datang ke Hindia Belanda seperti Ida Laura Reyer Pfeiffer dari Austria. Raffles lebih menyukai daerah-daerah, jika memakai kacamata pariwisata hari ini, adalah wisata budaya. Dia menulis banyak mengenai candi-candi,” terang Ahmad Sunjayadi, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dalam diskusi “Raffles dan Kita: 200th The History of Java” di Balai Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) Jalan Veteran, Jakarta Pusat, (6/3).

Masa bakti Raffles sebagai Letnan Gubernur di Hindia Belana singkat (1811-1816). Purnatugas di Jawa, dia membawa semua hasil kerja risetnya dalam 200 peti seberat 30 ton ke Inggris, dan merampungkan penulisan The History of Java yang kemudian diterbitkan kali pertama pada 1817 dalam dua jilid dengan ilustrasi gambar.

Rupanya, kecepatan penulisan ini didukung oleh berlimpahnya sumbangan bahan tulisan dari orang-orang di sekitar Raffles seperti Collin Mackenzie yang ahli militer, John Crawfurd, Surohadimenggolo, Notokusumo yang menjadi Pakualam, hingga Sultan Sumenep.

“Raffles menerima banyak bahan tulisan dari mereka semua. Namun dalam History of Java, nama para penyumbang itu pun tidak disebutnya. Tidak ada dedikasi untuk mereka. Tidak ada terima kasih,” kritik Peter Carey.

[pages]

Sosok yang membuat Raffles tergila-gila dengan Jawa salah satunya adalah John Casper Layden (1775-1811) dari Skotlandia yang ahli bahasa Persia, Sanskerta dan Melayu. Pada Oktober 1805, dia memutuskan pindah ke Penang dari India untuk berobat. Di situlah dia bertemu Raffles dan istri pertamanya, Olivia Mariamne.

Dalam pandangan Peter Carey, Layden dan Olivia terlibat hubungan cinta Platonik dan itu diamini oleh Raffles. “Raffles memiliki kisah hidup yang menarik. Dia agak limbung saat ditinggal mati John Layden. Selang berapa tahun, dia kehilangan Olivia, yang lebih tua 10 tahun dan berhasil momong dia hingga ke puncak kariernya. Raffles ini berangkat dari nol, dia bukan kalangan atas di Inggris. Dia merintis dari bawah. Dan Olivia, adalah perempuan di balik kesuksesannya,” ungkap Peter Carey.

Selain The History of Java, Raffles juga mewariskan sistem birokrasi dan administrasi. Dia mengganti sistem tata kelola tanah, dari tanam paksa (cultuur stelsel) menjadi sistem penyewaan tanah (landrente) yang lebih menguntungkan pihak penggarap dan penyewa.

“Dua tahun Raffles membentuk tim untuk menyelidiki kondisi tanah dan petani. Baru pada 1813, atas rekomendasi timnya, dia menciptakan struktur lengkap kepemilikan tanah dan sistem perpajakan,” ujar Tri Wahyuning M. Irsyam dari Universitas Indonesia yang memaparkan kebijakan landrente Raffles.

Namun, Raffles juga dikenang karena kekejamannya seperti memerintahkan menghabisi prajurit Belanda di Jatinegara dan dikuburkan di Rawabangke. Dia juga melakukan penaklukan dan penjarahan Keraton Yogyakarta.

“Raffles memang fenomenal. Dia seperti komet. Pada usia 35 tahun, sudah menjadi Letnan Gubernur di Jawa. Menurut saya, dia adalah figur menarik dalam sejarah Inggris,” ujar Peter Carey.

[pages]

  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK