Hari Ini, 395 Tahun Lalu, Nama Batavia Diresmikan

Nama Batavia diberikan untuk sebuah benteng VOC. Namun, pendirinya, Gubernur Jenderal J.P. Coen tidak suka dengan nama itu.

1457104951000
  • BAGIKAN
Hari Ini, 395 Tahun Lalu, Nama Batavia Diresmikan
Lukisan Batavia karya Adrianus Johannes Bik. Sumber: KITLV.

HARI ini, 4 Maret 1621, para direktur Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) meresmikan nama Batavia untuk benteng yang didirikan Gubernur Jenderal Jan Pietezoon Coen di dekat muara sungai Ciliwung.

Coen mendirikan benteng itu pada 1617. Ketika Inggris datang pada 1618, Coen pergi ke Banda, Maluku, untuk mencari bantuan. Sementara anak buahnya berusaha menahan serangan Inggris yang bersekutu dengan Pangeran Jayawikarta.

Menurut Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia, benteng Belanda itu selamat bukan karena kepahlawanan orang-orang yang mempertahankannya melainkan karena Inggris maupun Pangeran Jayawikarta masing-masing ingin menguasai benteng itu. Sementara Sultan Banten tidak mau membiarkan salah satu dari mereka memilikinya.

Ketika garnisun Belanda memutuskan untuk menyerah kepada Pangeran Jayawikarta, pasukan Banten mencegahnya.            Wilayah Jayakarta direbut oleh Kesultanan Banten dan Pangeran Jayawikarta diusir. Inggris mundur takut terjadi apa-apa dengan permukiman dan barang-barangnya di pelabuhan Banten.

“Ini memberikan keberanian baru kepada garnisun Belanda, dan antara jam-jam doa dan malam-malam pesta pora dengan anggur dan wanita mereka bersumpah dengan khidmat akan mempertahankan benteng itu selama Tuhan mengizinkan,” tulis Vlekke.

Setelah mengambil keputusan ini, lanjut Vlekke, para perwira tiba-tiba menemukan bahwa benteng itu tidak punya nama. Dalam pertemuan semua anggota garnisun pada 12 Maret 1619 benteng itu diberi nama Batavia seperti Belanda biasa disebut pada zaman kuno. “Demikianlah, asal-usul kota Batavia jauh dari kejayaan,” tulis Vlekke.

Pada 28 Mei 1619, armada Coen kembali dari Banda. Dua hari kemudian dia memimpin pasukan seribu orang untuk menyerang pasukan Kesultanan Banten. Dengan hanya satu orang gugur, kota Jayakarta ditaklukkan.

“Kemenangan itu ternyata tidak menghapuskan kemarahan Coen, yang timbul saat melihat nama Batavia terpampang di dinding benteng,” tulis Junus Nur-Arif dalam tulisan “Mur Jangkung Pendiri Batavia”, termuat dalam antologi Ketoprak Betawi. 

Coen langsung memerintahkan membangun benteng baru yang lebih besar. Karena berasal dari Hoorn, Coen ingin menamai bentengnya Nieuw Hoorn. “Masa itu rasa provinsialisme sedang menjangkiti orang-orang Belanda. Daerah yang mereka rebut atau mereka bangun, dinamai menurut daerah tempat asal mereka,” tulis Junus.

[pages]

Coen tetap tidak mau mengalah. Daripada menyebut Batavia, dia lebih baik menyebut Jacatra (dari Xacatara, nama yang disebut dalam dokumen Portugis). Seperti dalam surat-surat dan laporannya, dia menulis in het casteel Jacatra.

“Untuk waktu lama Coen menolak memberi nama Batavia pada benteng yang didirikannya, tapi pada 4 Maret 1621 para Direktur Kompeni menguatkan resolusi yang diambil oleh garnisun Batavia,” tulis Vlekke.

“Tahun 1621 dewan pimpinan VOC yang disebut Heren Zeventien ‘menjewer telinga’ Coen. Dia harus mempergunakan nama Batavia. Mau tak mau, J.P. Coen menurut,” tulis Junus.

Menurut Adolf Heuken dalam tulisan “Mitos atau Sejarah?” termuat dalam antologi Ketoprak Betawi, sebelum bernama Batavia, ia disebut Sunda Calapa (sampai tahun 1527) lalu Ja(ya)karta (1527-1619). Dokumen tertua yang menyebut nama Sunda Calapa adalah Suma Oriental karya Tome Pires, yang memuat laporan kunjungannya dari tahun 1512-1515. Sedangkan nama Ja(ya)karta (tertulis Xacatara) untuk pertama kalinya disebutkan dalam dokumen tertulis yang berasal dari sekitar tahun 1553, yaitu Decadas da Asia karya Joao de Barros.

Sementara itu, menurut Hussein Djajadiningrat dalam disetasinya, Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten, yang dipertahankan di Universitas Leiden tahun 1913, nama Jayakarta yang berarti volbrachtezege (kemenangan yang selesai) diberikan oleh Fatahillah (Faletehan) untuk menggantikan nama Sunda Kalapa, setelah direbut dari Kerajaan Pajajaran pada 1527.

Pendapat berbeda datang dari sejarawan Slamet Muljana yang menyatakan bahwa Jayakarta diambil dari nama adipatinya yang ketiga, Pangeran Jayawikarta.

Pada 1954, Sukanto, guru besar sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia, melengkapi tanggal dikuasainya Sunda Kalapa oleh Fatahillah, yaitu 22 Juni 1527. Pemerintah daerah Jakarta Raya menetapkannya sebagai hari jadi kota Jakarta. Nama Jakarta sendiri telah digunakan sejak masa pendudukan Jepang pada 1942 yang mengganti segala hal yang berbau Belanda, termasuk nama Batavia.

[pages]
  • BAGIKAN
0 Suka
BOOKMARK