Pilih Bahasa: Indonesia

Aneka (Tak) Ria Safari

PKS punya safari dakwah, Golkar punya safari Ramadan.
Luthfi Hasan Ishaaq (kiri) dan Harmoko (kanan).
Historia
pengunjung
6.5k

PARA penggede Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menampik tuduhan bahwa pertemuan dengan tersangka kasus suap kuota impor daging sapi di Medan, Sumatra Utara, untuk membahas kuota impor daging sapi, tapi untuk safari dakwah. Penggunaan istilah “safari” dalam komunikasi politik PKS, mengingatkan kita pada safari Ramadan Partai Golkar masa Orde Baru.

Safari Ramadan dilakukan Harmoko semasa menjabat menteri penerangan pada 1983 dan terus berlanjutan ketika Harmoko menjadi ketua DPP Golkar (1993-1998). Tujuannya, komunikasi politik dengan kegiatan keagamaan. Tapi ujung-ujungnya: kampanye pemenangan pemilihan umum (pemilu) partai berkuasa.

Menurut sejarawan Asvi Warman Adam, Harmoko melakukan safari Ramadan ke daerah-daerah di seluruh Indonesia sambil bertemu kader-kader Golkar. Perjalanan itu dibiayai Departemen Penerangan tapi digunakan pula untuk kepentingan kampanye partai. Beberapa ulama dibawa dalam kunjungan dengan tujuan ganda tersebut. “Harmoko memang piawai memanfaatkan semaksimal mungkin aspek agama dalam berkampanye meski ia pernah keliru mengucapkan ayat Alquran,” tulis Asvi dalam “Safari Ramadhan,” Kompas, 21 Oktober 2005.

Karena safari telah menjadi istilah politik Golkar, para penyanyi dan musisi yang diminta Golkar menghibur rakyat pada kampanye pemilu dari satu daerah ke daerah lain disebut artis safari. Sampai-sampai ada acara artis safari di TVRI.

Safari juga melekat pada pakaian pegawai negeri berkedudukan tinggi, lengkap dengan lencana Korpri terpasang di dada. Menurut Daniel Dhakidae dalam Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru, pakaian safari adalah pakaian kolonial Eropa yang berburu binatang di Afrika demi kesenangan dan mengisi masa senggang kaum borjuis. “Dalam perkembangannya memang menjadi mode, untuk salah satu alasan yang tidak jelas diambil alih oleh para birokrat,” tulis Daniel.

Daniel mencium aroma bisnis dalam pelembagaan pakaian seragam safari, yang “berhubungan langsung dan kontan pada industri tekstil yang pada tahap ini sudah mencapai konsentrasi tinggi di tangan para pejabat Orde Baru dan konco-konconya.”

Selain pakaian, safari identik dengan mobil merek VW (Volkswagen) dengan kap terbuka dari terpal. Mobil ini dinamakan mobil safari karena menjadi kendaraan dinas para camat yang dibagikan untuk kemenangan partai Golkar. Dalam biografinya, Azwar Anas yang ikut berkampanye untuk kemenangan Golkar sejak pemilu 1971 menceritakan bahwa menjelang 1977 Gubernur Sumatera Barat Harun Zain membagikan sebuah mobil VW buat para camat. Pembagian ini merupakan kebijakan nasional.

“Tujuannya agar para camat memiliki mobilitas tinggi, terutama bagi kelancaran pelaksanaan pemilihan umum, dengan harapan Golkar menang dan jumlah suara meningkat dari Pemilu 1971,” tulis Abrar Yusra dalam Azwar Anas: Teladan Dari Ranah Minang. Azwar Anas kemudian jadi gubernur Sumatra Barat serta menteri perhubungan dan menteri koordinator kesejahteraan rakyat.

Selain maksud politik, pengadaan mobil VW safari juga bermuatan bisnis. Perusahaan yang merakit mobil tersebut adalah PT Garuda Mataram. Direkur utamanya, Brigjen Sofyar, orang dekat Soeharto. Ketika Soeharto menjabat Pangkostrad, Brigjen Sofyar di bawahnya sebagai Kastaf Kostrad.

Di masa Orde Baru, aneka safari itu melenggang tenang. Golkar pun selalu menang pemilu. Kini, tak mudah melakukan safari semacam itu.

Jika terbukti safari dakwah PKS di Medan untuk membahas kuota impor daging sapi dalam rangka mengumpulkan dana pemilu 2014, mungkinkah muncul istilah baru: “safari daging sapi”.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Luthfi Hasan Ishaaq (kiri) dan Harmoko (kanan).
Luthfi Hasan Ishaaq (kiri) dan Harmoko (kanan).