Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Alfatihah Terakhir

Lelaki berseragam tentara itu memekik, "Nyawa kalian tinggal lima menit. Silakan berdoa sebisanya!"
Dugaan 12-24 korban dalam peristiwa 1965 di Plumbon.
Foto
Historia
pengunjung
19.4k

KAKEK kurus itu bernama Supar. Pada 1965, ia pemuda belia yang bekerja sebagai buruh penebang kayu di kawasan hutan di daerah Mangkang. Beda dari kebanyakan anak muda di kampungnya, Supar tak tertarik dengan organisasi massa atau partai politik yang saat itu aktif mencari anggota. Hari-harinya dihabiskan untuk bekerja menebang kayu di hutan serta bergaul sepatutnya dengan teman dan para tetangga.

Sebagai blandong (penebang kayu), Supar menyetor kayu tebangannya kepada seorang juragan bernama Kasmidjan. Lantaran kerap bertemu, dia akrab dengan sang juragan yang dikenal sebagai tokoh Gerakan Pemuda Marhaenis, organisasi pemuda yang berafiliasi ke Partai Nasional Indonesia di daerah Mangkang. Meski demikian, keakraban itu tak membuat Supar menggabungkan diri ke dalam organisasi yang dipimpin Kasmidjan.

Suatu hari, tak lama setelah meletus peristiwa 30 September 1965, Kasmidjan bercerita kepada Supar ihwal pembunuhan anggota PKI di kawasan hutan Sikepyar, Kendal. Supar yang saat itu masih berusia belasan tahun tertarik dengan cerita itu. Tak puas hanya mendengar, ia ingin melihat langsung. Supar lalu memohon kepada sang juragan untuk mengajaknya jika ada eksekusi lagi.

“Pak Kasmidjan menyanggupi. Kebetulan dalam waktu dekat akan ada eksekusi lagi di hutan Plumbon. Saya dijanjikan diajak,” kisah Supar saat ditemui Historia di Pos Kamling dekat rumahnya di Kampung Dukuh, Wonosari, Ngaliyan, Kota Semarang, medio Juni 2015.

Pada hari yang dijanjikan, Supar bersiap diri. Selepas Magrib dia menyambangi rumah Kasmidjan di Mangkang Wetan. Dari sana, dia dan sang juragan kayu berjalan kaki menyusuri jalan utama Pantura ke arah hutan Plumbon. Sampai di jalan masuk menuju hutan, keduanya berhenti. Kata Kasmidjan, mereka harus menunggu rombongan kendaraan yang membawa calon korban dari Kendal.

Menjelang tengah malam, rombongan yang mereka tunggu datang. Sebuah jip berjalan di depan, memandu truk boks di belakangnya. Kendaraan jip berpenumpang tiga orang berpakaian militer berbaret merah. Adapun truk boks berisi anggota dan simpatisan PKI yang akan dieksekusi.

“Mobil jip berhenti di tempat kami menunggu, sedangkan truk boks langsung masuk ke dalam hutan. Saya bersama Pak Kasmidjan dan tiga tentara muda yang menumpang jip berjalan kaki menyusul truk itu melewati Kampung Plumbon yang sepi. Ternyata truk berhenti di kandang kerbau, tak jauh dari Makam Mbah Crubo,” ujar Supar.

Begitu rombongan Supar sampai di kandang kerbau, para tawanan di dalam truk diturunkan. Di bawah cahaya bulan, dia bisa melihat jumlah mereka ada 12 orang. Salah satu dari orang-orang malang itu adalah perempuan muda yang mengenakan perhiasan gelang dan kalung emas. Mata mereka ditutup kain hitam, tangan diikat dengan tali saling bergandengan. Supar mengaku tak bisa mengingat tanggal dan bulan kejadian. Yang dia ingat, saat itu musim kemarau. Jalanan kering berdebu, daun-daun jati berguguran. Dari tempat itu mereka berjalan beriringan menuju lokasi eksekusi yang telah disiapkan. Suasana mencekam. Mereka berjalan dalam diam.

Salah seorang tentara sempat bertanya tentang lokasi eksekusi kepada Kasmidjan. Setelah dijawab, semua kembali senyap.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Dugaan 12-24 korban dalam peristiwa 1965 di Plumbon.
Foto
Dugaan 12-24 korban dalam peristiwa 1965 di Plumbon.
Foto