Pilih Bahasa: Indonesia
halaman 1

Aksi Koran Indonesia Raya Bikin Kejutan April Mop

Jika kini isi berita kerap dianggap lelucon, dulu benar-benar lelucon –dan lucunya dilakukan suratkabar yang dikenal garang.
Mochtar Lubis, pemimpin redaksi koran Indonesia Raya.
Historia
pengunjung
16.3k

PADA 31 Maret 1969, koran terbitan Jakarta, Indonesia Raya, menurunkan berita mengenai Ratna Sari Dewi, istri mantan Presiden Sukarno. Judul beritanya sih biasa-biasa saja. Namun subjudulnya, apalagi isinya, bikin orang tergoda membacanya.

Isteri Sukarno ke-3 Sari Dewi Kembali ke Indonesia

Tobat Atas Dosa2-nja–Akan Kembalikan Semua Harta Tjurian Untuk Dana Pendidikan

Djakarta, Selasa (IR), - Sari Dewi, isteri wanita Djepang bekas Presiden Soekarno jang baru2 ini dihebohkan berada di Bangkok dan Hongkong, dan menjatakan kepada pers di sana, bahwa dia ingin sekali kembali ke Indonesia untuk menengok suaminja, menurut sumber2 jang mengetahui telah berada di Djakarta. Sari Dewi kini tinggal disuatu tempat yang belum dapat disebutkan didalam kota Djakarta, tak djauh dari rumahnja dahulu, tempat bekas presiden Soekarno kini dikenakan tahanan rumah.

Sumber2 tersebut menerangkan, bahwa Sari Dewi telah tobat, dan hanja datang membawa anaknja sadja sendiri, tanpa sekretaris maupun babu anak. Sari Dewi berpakaian kebaja dan kain Indonesia ketika turun dilapangan terbang Tuban, Den Pasar (Bali), dan dari Bali naik pesawat GIA ke Djakarta, dimana dia lolos masuk kekota Djakarta, karena penumpang2 dalam negeri tidak lagi melewati imigrasi.

Kalangan2 tsb menerangkan kepada Indonesia Raya, bahwa Sari Dewi bertekad hendak menjerahkan seluruh harta karun jang selama ini berhasil dikumpulkannja diluar negeri dari berbagai rupa komisi pampasan Djepang, dll, pada suatu dana pendidikan chas untuk pemuda2 Indonesia, agar pemuda2 Indonesia dapat djadi manusia yang lebih baik dari suaminja dan dirinja sendiri. Dia djuga menerangkan, asal dia dibolehkan hidup berdampingan dengan Soekarno, maka dia bersedia hidup sederhana selama2nja.

“Saja akan membuktikan,” kata Sari Dwi, “bahwa perempuan Djepang tidak sadja tahu hidup mewah, tetapi untuk setia pada suami, bersedia pula hidup melarat dan sederhana”.

Dia mengakui, bahwa tjara2 mentjuri kekajaan Negara dahulu, memang sudah keterlaluan sekali, dan ia kini merasa menjesal dan bertaubat. Moga2 dengan taulada jang saya berikan, kata Sari Dewi, orang2 akan berhenti berbuat jang demikian di Indonesia sekarang

Berusaha akan bertemu dengan para wartawan di Istana Bogor

Sementara itu dari kalangan jang lajak dipertjajai wartawan IR mendapat kabar bahwa Ratna Sari Dewi pagi ini sedang berusaha untuk dapat hadir di Istana Bogor pada siang harinja, supaja dapat bertemu dengan para wartawan jang pada waktu itu sedang didjamu makan Presiden Soeharto.

Ratna Sari Dewi pada kesempatan itu mengharapkan akan menjampaikan didepan para wartawan, agar diketahui oleh rakjat akan ketobatannya seperti jang kita beritakan diatas.

Dari kalangan Departemen Penerangan dan Sekretariat Negara, IR belum mendapat kabar, apakah Ratna Sari Dewi telah berusaha mendekati kedua instansi tsb untuk mendapatkan “lampu hidjau” buat berkundjung ke Istana Bogor.

Berita itu dimuat di halaman pertama, kolom tengah agak di bawah, dengan foto Ratna Sari Dewi sebagai ilustrasinya.

Kala itu, setelah kematian Sukarno, Ratna Sari kerap mendapat pemberitaan kurang simpatik dari pers Indonesia. Selain lebih memilih tinggal di luar negeri, Ratna Sari menjalani hidup bak selebritas di pelbagai pesta kalangan mewah. Tak ayal jika kabar Dewi hendak “bertobat” dan menyerahkan seluruh hartanya menghebohkan. Tapi sayang, belum lagi habis kehebohan tersebut, keesokan harinya redaksi koran yang sama menulis berita kecil satu kolom dengan judul “Suatu April Mop”.

“Berita yang berjudul ‘Sari Dewi Kembali ke Indonesia’ yang kita muat pada halaman depan harian ‘IR’ terbitan kemarin adalah suatu berita ‘APRIL MOP’ (Lelucon 1 April) dan tidak usah dianggap serius,” tulisIndonesia Raya, 1 April 1969.

“Kami harap para pembaca yang budiman akan maklum dan akan tertawa lebar membacanya.”

Astaga! April Mop? Dan keisengan yang diperbolehkan itu dilakukan sebuah suratkabar? Kita tentu akan membayangkan bagaimana efek dahsyat dari keisengan Indonesia Raya yang kala itu dianggap suratkabar besar di Jakarta setelah Sinar Harapan dan Kompas.

April Mop merupakan suatu tradisi yang memberikan kesempatan orang untuk berbohong, membuat lelucon, atau mengerjai orang lain setiap 1 April. Sejak kapan tradisi ini muncul tak jelas. Ada yang menyebut sejak abad ke-14, dengan dirayakanlah hari orang-orang bodoh dan lucu. Entah dari mana Mochtar Lubis mengambil ide menulis berita April Mop di korannya, yang tak dilakukan koran-koran lain di Indonesia.

 
Terpopuler di Historia 
Komentar anda
Majalah
Laporan Khusus
Majalah Historia Cetak
berikutnya
 
Nomor 34 Tahun 3
Murba Partai Terakhir Tan Malaka
Pembahasan mengenai Tan Malaka sudah sering dimuat di berbagai media massa. Tak berbilang banyaknya orang membahas bapak republik itu di..
 
Mochtar Lubis, pemimpin redaksi koran Indonesia Raya.
Mochtar Lubis, pemimpin redaksi koran Indonesia Raya.